
Langkah kaki Kanaya terus berjalan tanpa harus tau kemana, ingin menemui Sasi pun Kanaya rasanya malu. Hari semakin malam Kanaya masih saja menyusuri jalan setapak dimana dirinya melihat ada tempat tinggal yang disewakan. Kanaya belum ingin memberi tahu tentang kejadian yang dia alami kepada Sasi, karena menurutnya belum waktunya dan entah kenapa Kanaya igin menyendiri lebih dulu.
"Sepetinya ini." Kanaya melihat rumah berjejer 5 dengan pintu yang sama, seperti foto yang tertera di iklan.
Cukup jauh dirinya mencari tempat tinggal dari sebelumnya dan Kanaya berniat tidak kembali lagi bekerja di kafe.
Kanaya ingin membuka usaha sendiri yang tidak terlalu membuat dirinya terikat, dan Kanaya sudah memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Kanaya menghubungi nomor yang tertera untuk bertemu pemilik kontrakan, karena ingin memulai hidup baru Kanaya mencari kontrakan, bukan kos-kosan.
"Halo Bu, saya yang tadi ingin mengontrak di rumah ibu." Kata Kanaya setelah panggilanya di angkat.
"Baik Bu, saya tunggu."
Kanaya mengehela napas, matanya mengedar di sekitar yang cukup ramai berpenghuni.
"Mbak Kanaya." Sapa ibu-ibu yang datang dari arah samping.
"Iya Bu, saya."
Keduanya saling berkenalan, ibu kontrakan itu membuka pintu kontrakan miliknya yang masih kosong.
"Kamar ada dua, kamar mandi di dalam dan diluar, dapur juga lumayan lebar untuk membuat usaha. Air lancar dan listrik juga tidak masalah." Jelas pemilik kontrakan itu.
Kanaya tampak menyukai tempat barunya. "Baik Bu saya ambil. Tapi sebelum itu saya ingin memberi tahu ibu jika-"
Kanaya menceritakan dirinya yang hamil, dia hanya bilang jika suaminya entah pergi kemana. Dan Kanaya pergi meninggalkan rumah karena ingin mencari tempat baru.
"Kasian sekali kamu, semoga disini betah. dan saya jamin di sini tempat tinggal yang aman." Ibu itu menatap Kanaya iba.
"Terima kasih Bu, mungkin saya akan banyak merepotkan ibu suatu saat nanti." Katanya lagi.
"Jangan sungkan, panggil saja saya Marni ya."
Kanaya banyak berterima kasih dan terseyum senang.
Setelah ibu Marni pergi Kanaya menutup pintu dan menguncinya, dirinya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ada di lantai kamar.
Kanaya menatap langit-langit kamarnya, dirinya memeluk perutnya yang masih rata.
"Setidaknya aku memiliki tempat tinggal yang nyaman." Gumamnya mengingat dirinya baru saja mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membayar kontrakan. Kanaya menggunakan sisa uang yang dia dapatkan dari Arfin. Lumayan masih banyak sisanya, dan Kanaya akan menggunakan uang itu untuk memulai modal usahanya.
"Kita berjuang bersama ya nak, semoga ayahmu akan menerima mu jika suatu saat kalian dipertemukan." Katanya dengan senyum mengembang.
.
.
"Sasi dia mencari Kanaya." Ucap Alex pada Sasi yang sudah menelan salivanya.
"Tanyakan saja, dia yang membawa wanita itu kemari." Alex menyesap tembakau yang ada di tangannya.
Sasi sudah saling meremat kedua tangannya yang saling bertautan.
"Kau tahu dimana tempat tinggal Kanaya? atau kau punya foto wanita itu?" Arfin langsung mencecar Sasi dengan pertanyaan.
"Aku-"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Tunjukkan saja foto Kanaya." Kata Arfin lagi.
Sasi melirik Alex, dan Alex memberikan kode pada Sasi agar menuruti apa yang Arfin mau.
Sasi menagmbil ponselnya dan menunjukan foto Kanaya yang dia punya.
"Shittt.." Arfin mengumpat dengan perasaan entah seperti apa, ternyata Alifa yang beberapa hari ini dia tahu adalah Kanaya.
"Jadi Alifa adalah Kanaya." Gumamnya yang masih bisa didengar oleh Alex dan Sasi.
"J-jadi anda tahu Kanaya?" tanya Sasi terbata.
"Dia mengenalkan dirinya Alifa, dan aku tahu Kanaya dari tetangganya yang-" Arfin tidak lagi melanjutkan ucapanya, tapi dirinya mengingat sesuatu yang langsung membuat dadanya bergemuruh. "Tidak mungkin." Katanya dengan wajah berubah pucat.
"Ada apa Fin?" Tanya Alex yang melihat perubahan Arfin.
"Apa dia sendang hamil?" Arfin menatap Sasi penuh rasa penasaran.
"H-hamil." Sasi terbata.
"Apa Kanaya hamil anak ku?" Ulang Arfin karena Sasi hanya diam.
"What? Kanaya hamil?" Alex juga ikut terkejut.
"Yes, she is pregnant." Arfin menatap Alex yang semakin terkejut.
"Pregnant?" Alex memperagakan tanganya, hamil anak siapa.
"Mine." Jawab Arfin dengan tegas.