MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Rezeki anak



Setelah dari club Alex, mobil Arfin melaju menuju kediaman Kanaya yang dia tahu. Sepanjang jalan Arfin memikirkan bagaimana bisa wanita itu adalah Alifa, Kanaya yang telah menghabiskan malam denganya.


"Walaupun tidak tahu rupamu malam itu, setidaknya ada namamu yang akan membawaku."


Arfin tersenyum dibalik tanganya yang ada di bibir, dirinya merasakan keanehan yang dia rasakan dan itu karena Kanaya sedang mengandung anaknya.


"I didn't expect to have a child so soon." Gumamnya dengan senyum.


Tak lama Arfin sampai di rumah Kanaya yang dia tahu, Arfin segera keluar setelah mobilnya terparkir dipinggir jalan.


Tok...Tok...Tok..


Arfin mengetuk pintu dengan jantung berdebar, rasanya tidak sabaran untuk mendengar dari Kanaya jika dirinya benar-benar hamil.


Tidak ada jawaban Arfin kembali mengetuk pintu dan memanggil.


"Kanaya...!! Nay..!!" Arfin memanggil sambil terus mengetuk pintu.


"Alifa...!!! Kanaya...!!"


Arfin masih terus memanggil dan perasaan tiba-tiba tidak enak.


"Kanaya, buka pintunya aku Ano Nay..!!" Teriaknya lagi yang mengingat jika Kanaya memanggilnya dengan sebutan 'Ano'.


"Cari siapa Mas!!"


Arfin menoleh kebelakang saat ada seseorang yang bertanya dari arah jalan.


"Kanaya? saya mencari Kanaya!" Seru Arfin juga.


"Dia sudah pergi, diusir warga karena hamil..!!"


Deh


"Apa.." Suara Arfin tercekat mendengar apa yang baru saja dia dengar.


"Lebih baik Mas pergi, dari pada teriak-teriak disitu." Orang itupun langung pergi.


"Kanaya diusir." Arfin kembali menatap pintu rumah Kanaya, perasaan berkecamuk dengan rasa bersalah bercampur sedih mendera.


Arfin meninggalkan kediaman Kanaya dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan. Baru kali ini dirinya merasakan hal yang belum dia rasakan.


Ingin marah, sedih dan penyesalan menjadi satu.


"Sekarang aku harus mencari mu kemana."


.


.


Tiga hari setelahnya....


Kanaya begitu senang ketika dirinya mempromosikan kue yang akan dia buat.


Kanaya membuat sempel kue dan dia titipkan di warung ataupun dia bagikan cicipkan kepada tetangga.


Dan saat pagi dirinya baru beroperasi, sore hari Kanaya sudah mendapatkan pesanan berapa kue untuk esok.


"Mbak Naya, besok kasih agak bayakan ya. Soalnya tadinya yang beli satu balik lagi beli gitu terus." Kata pemilik warung yang Kanaya titipkan.


"Baik Bu, besok saya tambahin jumlahnya. Terima kasih sudah mau saya titipin." Ucap Kanaya.


Kanaya mengucap syukur, awal yang begitu bagus untuknya memulai semua.


"Oya Mbak, kalau bisa mbak Naya kasih nomor hpnya di kue, biasanya ibu-ibu sini banyak yang ngadain pengajian, supaya mereka gampang menghubungi mbak Naya." Ide dari pemilik warung membuat Kanaya semakin bersemangat.


"Iya Bu nanti akan saya kasih, terima kasih sarannya."


Kanaya pun pergi setelah mengambil hasil penjualan kue yang dia titipkan habis tak tersisa.


"Ya Tuhan, terima kasih sudah memberi jalan mudah untuk kami." Kanaya mengusap perutnya sendiri, rasanya begitu senang mendapati hasil usahanya di terima dengan baik.


"Kita berjuang bersama ya Nak, bantu ibu." Gumamnya dengan rasa syukur.


Sampainya dirumah Kanaya mempersiapkan bahan untuk besok, Kanaya suka membuat sore hingga malam hari dan keesokannya dirinya tinggal paking.


"Untuk sementara begini dulu, nanti kalau sudah berjalan lancar aku usahakan untuk melengkapi semua." Ucapnya dengan rasa bahagia.


Tok...Tok...Tok..


"Mbak Naya..!!"


"Iya.." Kanaya berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.


Ceklek


"Susi, ada apa?" Tanya Kanaya yang melihat tetangga kontrakan.


"Nih." Susi memberikan selembar kertas.


"Apa ini?" Kanaya membukanya.


"Pesanan kue besok pagi untuk temen kerja." Kata Susi dengan senyum.


"Eh, kok." Kanaya sempat terkejut.


"Kue mbak Naya enak, teman-teman Susi banyak yang suka." Katanya dengan riang.


"Tapikan bukanya di kafe hotel bayak kue enak ya?" Tanya Kanaya dengan bingung.


"Enak, tapi harganya dua kali lipat dari punya mbak Naya. Jadi besok Susi bawa kuenya bisa kan."


"Em, kalau segini banyak. Aku harus belanja lagi Sus." Kanaya menatap Susi.


"Oke, nanti Susi temenin. Susi pulang dulu."


Susi yang berusia 20 tahun itupun pergi, meninggalkan Kanaya yang tersenyum.


"Rezeki anak."


Kanaya mengusap perutnya.


.


.


.


LIKE, Komen dong sayang...😘😘😘