
Setiap hari Kanaya menitipkan pesanan yang di minta Olive, sudah satu minggu Susi membantu membawakan kue-kue untuk anak bos nya yang sekarang menjadi bos-nya juga.
Bukan hanya kue, Kanaya juga harus membuatkan puding atau dessert setiap hari.
Entah karena enak atau kecanduan, seolah yang memakan kue nya itu tidak bosan mekipun harus setiap hari.
Pagi ini Susi sudah mejeng dirumah Kanaya untuk membawakan orderan kembali.
"Mbak Naya tau ngak kalau yang makan ini semua cuma bos doang?" Tanya Susi yang duduk sambil memperhatikan Kanaya mengemas kue ke dalam paper bag yang sudah di siapkan.
"Mana aku tahu?" ucap Kanaya. "Lagian sebanyak ini apa gak berlebihan di konsumsi orang hamil, ini manis semua loh." Katanya lagi tanpa melihat wajah Susi.
Susi yang mendengar hanya menaikkan sebelah alisnya. "Hamil?" Beo Susi.
"Ya, bukankah anak ibu Olive sedang ngidam, itu berarti hamil kan." Kanaya meletakkan papar bag didepan Susi.
"Eh, mana ada laki-laki hamil?" Ucap Susi bingung.
"Laki-laki?" Kini giliran Kanaya yang mengerutkan keningnya.
Susi mengangguk. "Anak Bu Bos itu laki-laki dan dia masih lajang, masa laki-laki bisa hamil." Ucap Susi lagi.
Kanaya membulatkan kedua matanya, "Jadi yang di sebut ngidam siapa?" Ucapnya dengan pelan, dan di sambut Susi dengan gerakan bahu, tidak tahu.
Sampainya di resort, Susi sudah ditunggu Arfin diruangannya, sejak satu minggu terakhir perasaan semakin menjadi-jadi saat memakan semua kue yang Susi bawa.
"Maaf pak, saya telat." Ucap Susi sambil cengengesan, karena dirinya memang telah 10 menit.
"Duduk dulu, ada yang ingin saya tanyakan." ucap Arfin sambil meraih paper bag yang Susi beri.
Dengan canggung dan kikuk Susi duduk dengan gusar, pasalnya baru ini dirinya duduk didepan bosnya yang ganteng mempesona.
"Duh, jantung gue kenapa malah jedag-jedug." Ucap Susi dalam hati w melihat wajah atasnya dalam waktu cukup lama.
"B-bapak mau tanya apa?" Ucap Susi yang gugup.
"Siapa yang membuat ini semua, em maksud saya siapa namanya?" tanya Arfin dengan jantung berdebar.
"Mbak ini nanti ada yang ngambil kan?" Tanya bik Sari yang melihat banyak plastik besar berisi Snack box pesanan.
"Belum tahu bik, katanya sih iya. Tapi belum konfirmasi kembali." Jawab Kanaya.
"Duh, gak pasti gitu. Takutnya nanti ngak di ambil kita yang kelabakan mbak." Ucap bik Sari lagi.
"Semoga tidak bik, kalaupun begitu mereka yang rugi karena uang sudah masuk sebagai DP." Tutur Kanaya.
Kanaya tidak ingin mengambil resiko, mekipun usahanya terbilang kecil, tapi dirinya menghindari hal kecil kemungkinan yang terjadi, Kanaya menerapkan prinsip jika persetujuan order harus memberikan uang di muka sebagian, hanya untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan.
Waktu menunjukan pukul sepuluh, beberapa orang sudah datang untuk mengambil pesanan mereka, hanya tinggal satu orang yang belum mengambil.
Ting..
Pesan masuk di ponsel Kanaya, dan Kanaya membuka pesan dari salah satu pemesan.
"Mbak Naya maaf merepotkan, kami mengalami kendala dalam pengambilan orderan kue, kebetulan dirumah tidak ada yang bisa di mintai tolong, kalau bisa mbak Naya tolong antara kan kue nya ya, saya kirim alamatnya."
Tak lama dibawan pesan itu masuk Sherlock alamat pemesan.
Kanaya mengehela napas, dirinya memesan ojek untuk mengantarkan pesanan.
Duduk di teras sambil menunggu ojek, Kanaya sambil sibuk dengan ponselnya, membalas chat orderan masuk untuk selanjutnya.
Tak lama sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah yang Kanaya tinggali, sesaat Kanaya tertegun melihat mobil mewah berhenti tepat didepan kontrakannya.
Jantung Kanaya semakin berpacu cepat, saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil, Kanaya tidak bisa untuk berkedip melihat sosok pria yang selama ini dia hindari.
"Ano.." Gumam Kanaya dengan lirih, tiba-tiba kedua matanya terasa perih dan panas.
.
.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘