MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Baby girl



Arfin mengantarkan Kanaya ke tempat yang memesan kue. Melihat kegiatan Kanaya Arfin juga ikut turun dan membantu Kanaya membawakan bungkusan plastik yang berisi kue.


"Sudah?" Tanya Arfin saat Kanaya sudah kembali ke mobilnya.


"Sudah, dan Alhamdulillah besok ada pesanan lumayan banyak." Ucap Kanaya dengan senyum ceria.


Arfin yang melihat senyum Kanaya menjadi ikut tersenyum.


"Syukur deh, sepertinya itu memang rezeki untuk baby." Tanpa di duga tangan Arfin reflek mengelus perut Kanaya.


Kanaya hanya diam dengan perasaan berkecamuk, ada rasa hangat yang kembali hadir ketika Arfin mengusap perutnya.


Rasanya begitu nyaman dan hangat, "Em, ya. Sejak pindah kesini memang dia membawa rezeki." Ucapnya dengan senyum.


Arfin masih mengelus permukaan perut Kanaya. "Kapan periksa ke dokter, aku ingin melihat anak kita?" Tanya Arfin dengan antusias.


Dug


"Eh, itu tadi apa? apa dia sendang menendang?" Tanya Arfin dengan wajah terkejut dan bingung.


Kanaya masih diam, mencoba merasakan kembali gerakan di dalam perutnya, pasalnya ini kali pertama bayinya memberi pergerakan.


Dug


Dan gerakan itu kembali hadir saat tangan Arfin kembali mengelusnya.


"Nay, dia bergerak lagi." Ucap Arfin dengan mata berbinar.


Kanaya tersenyum haru, dirinya tidak menyangka jika pergerakan sang anak di rasakan oleh Arfin saat pertama kali.


"Iya, dia bergerak." Kanaya tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, begitu juga dengan Arfin.


"Sehat-sehat ya sayang. Bantu Mama jangan rewel." Ucap Arfin di atas perut Kanaya, tanpa diduga lagi Arfin mengecup perut Kanaya untuk pertama kali dalam keadaan saling sadar.


"Terima kasih sudah menjaganya." Ucap Arfin dengan tulus.


Arfin kembali mengantarkan Kanaya kerumah sakit, pria begitu yang sangat begitu antusias untuk menemani Kanaya periksa.


"Kamu ingin dia perempuan apa laki-laki?" Tanya Arfin saat keduanya masih berjalan di lorong rumah sakit, bahkan Arfin tidak segan-segan untuk menggandeng tangan Kanaya.


Sedangkan Kanaya tidak menolak untuk di genggam tangannya, wanita itu malah merasa nyaman dengan keberadaan Arfin di dekatnya.


"Apa saja yang penting dia lahir dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun." Jawab Kanaya sambil mengelus perutnya menggunakan tangan kiri.


Kanaya hanya tersenyum, dia pikir Arfin akan menuntut untuk mendapatkan anak laki-laki tapi sepertinya pria itu menerima apa yang Tuhan titipkan.


Karena sudah membuat janji, sebelum temu. jadi keduanya langsung bisa masuk bertemu dengan dokter.


"Wah, rupanya anda sudah bertemu dengan Mbak Kanaya?" Ucap sang dokter yang mengingat Arfin.


Kanaya menatap Arfin bingung dengan ucapan dokter tersebut.


"Hm, seperti yang anda lihat dok. Saya tidak harus menunggu lama untuk menemukan dia. Dan sekarang dia sudah tidak bisa kabur lagi." Jawab Arfin dengan senyum bahagia.


Dokter itu hanya tersenyum, dan Kanaya malah mencebikkan bibirnya.


"Mari berbaring, hari ini kita akan lihat si kecil punya Monas apa apem." Ucap dokter itu berkelakar.


Kanaya naik ke atas ranjang di bantu dengan suster dan Arfin, wanita hamil itu sudah berbaring dengan bagian perut yang di olesi gel.


"Semua sehat dan baik. Anggota tubuh sudah berbentuk sempurna." Ucap sang dokter sambil menggerakkan alat USG.


Arfin menatap tanpa kedip layar komputer di depannya yang menampilkan gambar empat dimensi.


"Nah, ini jenis kelaminnya." Ucap sang dokter membuat Kanaya tersenyum haru.


"Dia perempuan dok?" Ucap Kanaya yang bisa menebak lebih dulu.


Arfin langsung menatap wajah Kanaya, "Kamu tahu jenis kelaminnya?" tanyanya dengan serius.


Kanaya tersenyum tipis. "Hanya menebak." Jawabnya.


"Anda benar nona, jenis kelaminnya perempuan. Selamat ya."


Arfin ikut tersenyum haru. Dirinya tidak menyangka akan benar-benar menjadi seorang ayah secepat ini. Bahkan Sabahat sekaligus mantan bosnya juga baru saja melahirkan anak kembarnya dan tak lama lagi dirinya juga akan menyusul.


"Terima kasih Naya, terima kasih." Arfin mengecup kening Kanaya.


membuat Kanaya malu karena dilihat dokter dan perawat.


"Kamu bikin aku ingin menghilang Mas."


Bugh