
Hari-hari Arfin cukup menyenangkan setelah tongkat saktinya menemukan rumah yang sangat nyaman dan hangat, apalagi rumah itu sangat terasa nikmat luar biasa.
Pekerjaannya selesai dengan cepat dia tidak ingin lama-lama jauh dari sang istri.
Sore ini Arfin janji akan mengajak Kanaya untuk jalan-jalan sore disekitar resort, dirinya ingin memperlihatkan resort kelurganya pada sang istri.
Meskipun tinggal di lingkungan resort, tapi kediaman yang mereka tempati lumayan jauh dari resort yang disewakan atau pun wahana bermain, dengan jarak tempuh lima belas menit jalan kaki.
Arfin sudah sampai di kediaman dirinya dan sang istri, saat masuk. Arfin melihat Kanaya yang baru saja meletakkan alat kebersihan.
"Sayang kenapa kamu bekerja membereskan rumah? ada Mita yang melakukanya." Ucap Arfin yang tidak bisa melihat ibu hamil itu melakukan pekerjaan rumah.
"Mita aku suruh pulang mas, aku hanya ingin bergerak aktif. Jika ada Mita aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Kanaya sambil meraih tangan suaminya dan menciumnya. "Sudah selesai pekerjanya?" Tanya Kanaya sambil membawakan tas kerja Arfin.
Arfin mengagguk dengan tatapan terpaku, perlakukan kecil tapi mampu membuat hatinya berdebar.
"Tapikan kamu sedang hamil sayang, aku takut kamu kenapa-kenapa." Arfin mengekori Kanaya masuk kedalam kamar sambil membawa tas kerjanya.
"Tapi aku lebih tidak nyaman jika di rumah kita ada wanita lain yang memperhatikanmu." Kanaya berbalik menatap Arfin dengan tatapan tak suka.
Sedangkan Arfin menelan ludah melihat tatapan Istrinya yang sedang marah.
"Kamu cemburu?" Arfin menatap Kanaya intens.
Kanaya membuang wajah dengan perasaan kesal, entah kenapa.
"Mungkin, karena aku tidak suka ada wanita lain di rumah kita, kecuali orang itu sudah ibu-ibu, dia masih muda dan cantik, tidak menutup kemungkinan jika kamu -"
"Hey... hey... bicara apa kamu." Arfin langsung memeluk Kanaya dari belakang, mengusap perut buncit sang istri yang begitu menyenangkan.
"Baiklah, aku akan meminta Mama untuk mengirim pelayan dari rumah. Maaf jika sudah membuatmu tidak nyaman." Arfin mengecup pipi Kanaya dari samping. "Percayalah, aku tidak akan macam-macam ketika memiliki kamu." Bisiknya yang mulai memberikan sinyal bahaya untuk Kanaya.
Kanaya hanya diam sambil menikmati sentuhan tangan Arfin yang membuat tubuhnya meremang.
"Mandi lagi." Bisik Arfin yang sudah berhasil membuat mangsanya terhanyut oleh-nya.
Hormon ibu hamil begitu mudah terpancing, Arfin menyukai reaksi Kanaya yang selalu bisa dirinya pancing.
Kini keduanya masuk kedalam kamar mandi, Kanaya yang sudah mandi pun terpaksa mandi lagi dengan versi yang berbeda dari sebelumnya.
Kedua insan yang sedang dimabuk asmara menikamati sore dengan pergulatan bercocok tanam, meskipun sudah menghasilkan tunas, tapi Arfin selalu rajin ingin meyirami nya setiap hari.
"Ahhh Mas." Kanaya mencekram pundak Arfin dengan lenguhan merdu saat miliknya begitu penuh di bawah sana.
Arfin sampai mengigit bibirnya merasakan miliknya yang terasa nikmat di dalam rumahnya yang hangat.
"Bergeraklah, cari kenikmatan mu sendiri enghh." Arfin menggapai dua melon kembar yang begitu segar didepan matanya, tangan dan bibir nya tidak mau diam sambil merasakan goyangan pinggul Kanaya yang naik turun.
Air di dalam balthub beriak keluar tumpah karena aksi keduanya yang main enjot-enjotan.
Satu minggu telah berlalu, Arfin begitu senang dengan keadaan Kanaya yang sedang hamil, dirinya merasa di untungkan oleh anaknya. Karena hampir setiap malam Kanaya selalu melayaninya di atas ranjang dengan sangat bersemangat, bahkan Arfin sering dibuat tak berdaya karena servis sang istri yang begitu sangat memuaskan.
Meskipun begitu Arfin tetap memilih cara aman untuk bayinya, mengingat kandungan Kanaya yang semakin besar.
Tok...Tok..Tok..
Ruangan kerja Arfin di ketuk dari luar, membuat Arfin mempersilahkan orang yang di luar untuk masuk.
"Selamat siang tuan Arfin."
Arfin yang sedang memeriksa data, mendingan ketika mendengar suara asing di depannya.
Mata Arfin membeliak tajam melihat pria yang berdiri dengan senyum menyebalkan.
"Kau!!"