MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Hujan lebat



Arfin memicingkan matanya, saat melihat wanita didepanya diam menatapnya.


"Haloo...anda baik-baik saja nona?" Tanya Arfin sambil melambaikan tangan di depan wajah Kanaya.


"Em, maaf." Kanaya langsung tersadar dan menunduk.


"Kenapa kamu selalu meminta maaf. Apa kita pernah bertemu?" Tanya Arfin menyadari tatapan Kanaya tadi.


"Ah, t-tidak tuan." Kanaya tergagap dengan jantung berdebar kencang.


Arfin hanya mengagguk.


"Mbak ini pesannya."


"Ah, iya mbak. Sebentar saya ambil uang." Kanaya merogoh saku celana yang dia pakai. Tapi sepertinya dirinya tidak menemukan apapun di sana.


"Dimana? apa kau menjatuhkannya." Kanaya tampak bicara sendiri, dan dirinya benar-benar tidak menemukan sesuatu.


"Maaf mbak saya-"


"Ada apa?" Sela Arfin yang melihat wanita didepanya seperti kebingungan.


"Tidak apa-apa." Jawab Kanaya. "Saya tidak jadi beli Mbak, uang saya mungkin tadi jatuh." Ucap Kanaya dengan perasaan tidak enak.


"Oh, iya mbak tidak apa-apa." Pelayan itu mengerti dan ingin kembali, tapi Arfin memanggilnya.


"Mbak, berikan saja. Saya yang akan membayar sekalian pesanan saya." Ucap Arfin pada pelayan tadi.


"Baik Mas." Pelayan itu tampak tersenyum lebar. Selain tampan ternyata pria itu baik juga.


"Mau kemana?" Arfin mencekal tangan Kanaya saat hendak pergi. "Tunggu sebentar, dia sedang mengambil pesanan ku." Katanya yang masih mencekal tangan Kanaya.


Kanaya melirik tangan yang Arfin sentuh, dan Arfin yang menyadari itu dengan segara melepaskannya.


"Ini Mas." Pelayan itu memberikan dua bungkusan.


"Ambil saja kembaliannya." Arfin memberikan selembar uang kertas.


"Ayoo." Arfin mengajak Kanaya untuk pergi, dan saat keduanya baru saja keluar dari warung, tiba-tiba hujan deras langsung menguyur.


"Aaa.." Kanaya panik, dan Arfin langung menarik tangan Kanaya untuk mengikutinya masuk kedalam mobil.


"Masuklah." Arfin membukakan pintu dan Kanaya langung masuk tanpa membantah.


"Ah, sial..!" Arfin mengusap rambutnya yang basah, dan bajunya juga basah.


Begitu juga dengan Kanaya mekipun tidak sebasah seperti Arfin.


Kanaya melirik keluar kaca mobil dan melihat hujan yang sangat lebat.


"Apa setiap hari hujan seperti ini." Tanya Arfin yang masih membenahi bajunya yang basah.


Kanaya menoleh dan dirinya melihat rambut Arfin yang basah dan acak-acakan.


Sadar akan tatapan Kanaya, Arfin menoleh. Dan Kanaya langung membuang wajah.


"Sudah beberapa hari ini hujan deras campur angin." Jawab Kanaya tanpa melihat wajah Arfin.


"Aku bukan asli orang sini, jadi tidak tahu." Kata Arfin.


Kanaya tidak merespon. "Hey, apa kau punya nama." Arfin menoel bahu Kanaya dengan jari telunjuknya.


"Apa?" Kanaya menatap Arfin kesal.


"Apa kau punya nama? aku Arfin kau?"


"Ano..kau Arfiano." Kata Kanaya dalam hati.


"Ka- em Alifa." Kanaya meralat ucapanya, ketika ingin menyebutkan namanya.


"Alifa. Nama yang bagus." Arfin mengusap kedua telapak tangannya untuk menghalau rasa dingin ditubuhnya, bajunya yang basah membuatnya sedikit kedinginan.


Jantung Kanaya sudah berdebar kencang sejak tadi, dirinya merasa lega karena Arfin tidak mengenali dirinya.


Meskipun begitu Kanaya merasa sesuatu yang mendesaknya untuk menatap wajah pria yang ada di sampingnya, rasanya Kanaya ingin sekali menatap wajah tampan Arfin begitu lama, hingga tanpa sadar Kanaya duduk miring agar bisa melihat wajah Arfin dari samping.


Setelah sedikit lama hening tidak ada yang bicara, dan hujan di luar sudah mulai reda, Arfin berniat untuk mengantarkan Kanaya pulang.


"Hujannya sudah reda, aku antar kau-" Arfin tertegun melihat wanita yang sudah terlelap di sampingnya.


"Apakah seenak ini hingga membuatnya tertidur." Katanya sambil geleng kepala.


Arfin menatap lekat wajah Kanaya, dirinya seperti tidak asing dengan wajah wanita yang terlelap itu, tapi Arfin tidak mengingat apapun.


"Dimana kita pernah bertemu." Gumamnya dengan perasaan yang berbeda.