
"Terima kasih..."
Kanaya turun dari mobil Arfin, setelah pria itu menghentikan mobilnya.
Jam sudah menunjukan hampir tengah malam, dan Kanaya memilih pulang setelah dari hotel Arfin.
Arfin membuka kaca jendelanya dan memanggil Kanaya.
"Alifa, lain kali aku akan mampir." katanya sambil tersenyum menatap Kanaya yang hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Lebih baik tuan tidak usah datang." Jawab Kanaya membuat Arfin menautkan kedua alisnya.
"Kenapa...?"
"Ya ampun, bagaimana tidak hamil jika kelakuannya begini. pulang malam dianterin pria kaya. Pantas saja dia bisa hamil tanpa harus menikah. Hebat sekali kamu Kanaya, bisa mendapatkan uang banyak dengan jual diri."
Deg
Kanaya menatap tetangganya yang sengaja berdiri didepan pintu dengan suara yang dikeraskan.
"Alifa dia bilang apa?" Arfin menatap Kanaya yang sudah berwajah pias.
Kanaya hanya menatap Arfin tanpa menjawab, tapi cairan bening di mata Kanaya cukup membuat Arfin paham.
"Alifa..."
Kanaya berjalan masuk kedalam rumah tanpa perduli dengan panggilan Arfin.
"Pasti anda tidak tahu kan kalau Kanaya hamil. Cih dasar pria hidung belang." umpat tetangga Kanaya menatap Arfin tajam dan kembali masuk kedalam rumah.
"Kanaya? Hamil?"
.
.
Arfin kembali ke resort setelah mengantarkan Kanaya kerumahnya. Pria itu mengingat-ingat nama Kanaya yang sepetinya dirinya pernah mendengar.
"Kanaya, jadi namanya Kanaya atau Alifa." Katanya yang berekspresi bingung.
Di rumah sederhana, Kanaya menangis dengan memeluk guling, dirinya memang hamil diluar nikah tapi entah kenapa kata-kata yang terlontar dari mereka begitu menyakiti hatinya.
"Tidak boleh lemah, kamu harus kuat Kay, demi dia." Kanaya mengusap perutnya yang masih datar, wanita itu tersenyum pilu mengingat ada malaikat kecil di dalam perutnya.
Sasi mengunjungi Kanaya di kafe.
"Sasi, tumben kamu kemari?" Kanaya begitu senang melihat Sasi datang ke kafe.
"Sengaja, aku bawa ini untuk keponakan." Sasi memberikan paper bag di atas meja.
"Apa? kamu repot-repot sekali." Kanaya membuka papar bag yang Sasi berikan.
"Biar ponakan aku tumbuh sehat, jadi ibunya harus minum susu." Sasi tersenyum.
Kanaya hanya terkekeh. "Aku saja belum memikirkan, tapi terima kasih kamu perhatian sekali." Kanaya bicara dengan tulus.
"Untuk kamu dan calon ponakan aku." Sasi ikut tersenyum. "Oh, ya. ngomong-ngomong kamu ada rencana buat kasih tahu pria itu tidak?" Tanya Sasi.
"Kita bicara di samping saja." Kanaya mengajak Sasi untuk pindah tempat, karena bicara ditempat umum tidak membuatnya nyaman.
Saat ini adalah jam istirahat Kanaya selama satu jam kedepan, dan kebetulan kafe tidak terlalu ramai.
"Aku tidak tahu." Kanaya berujar. "Aku hanya merasa kalau aku tidak perlu mengatakan hal ini padanya, karena memang aku yang melakukannya demi uang." Kanaya mengusap perutnya.
"Tapi Kay, dia juga berhak tahu, mekipun kita tidak tahu apa reaksi dia tapikan-"
"Aku takut justru itu akan membuatnya merasa sebuah kesalahan Sas, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan dia." Dia yang Kanaya maksud adalah janin yang dia kandung.
Kanaya tidak tahu Arfin seperti apa, hanya saja Kanaya sedikit menyimpulkan kejadian tadi malam seorang Arfin. Dan rasa takut timbul dalam hatinya.
Sasi membenarkan ucapan Kanaya, ada benarnya Kanaya menutupi semua itu.
"Baiklah jika itu keputusanmu, tapi kamu harus selalu cerita padaku apapun itu. Aku sudah menganggap mu seperti adik ku Kay."
Kanaya tersenyum haru. "Terima kasih Sas, kamu adalah orang satu-satunya perduli padaku.
Keduanya berpelukan, Kanaya begitu bersyukur masih mempunyai Sasi yang sudah dia anggap seperti saudara.
.
.
LIke, Komen jangan lupa Sayang 😘😘😘