
Ajakan menikah Arfin membuat Kanaya kembali berfikir, jika kemarin-kemarin dirinya tidak memikirkan untuk menerima lamaran Arfin, tapi malam ini entah kenapa dirinya mengalami kegelisahan mengingat ajakan Arfin tadi.
"Nikah siri." Gumam Kanaya sambil menatap langit kamarnya.
"Apa aku harus menerima?" Dirinya merasa dilema, tapi ucapan Arfin untuk mengajaknya menikah secara agama membuat Kanaya tidak bisa mengabaikan ucapanya.
Jika menikah hukum mungkin Kanaya akan menolak, tangannya mengusap perutnya yang buncit, besok adalah jadwal pemeriksaan dirinya untuk melihat jenis kelamin si bayi.
"Sehat-sehat sayang." Gumamnya dengan pelan.
Karena merasa mengantuk, Kanaya memilih untuk istirahat, besok pagi dirinya akan mengantarkan pesanan kue.
Di kontrakan sebelah yang di tempati Arfin, pria itu sedang menghubungi orang tuanya.
"Pah, Mah. Aku mau menikahi." Ucapnya tho the poin setelah panggilan terhubung.
Membuat dua orang di seberang sana membelalakkan matanya.
"Apa?"
Arfin berdecak kesal melihat reaksi kedua orang tuanya dari layar ponsel.
Keduanya sedang melakukan panggilan Vidio call. Arfin bisa melihat wajah kedua orang tuanya syok, sedangkan Arfin sendiri kesal melihat reaksi Olive dan Ando.
"Kamu sudah bertemu dengan wanita itu?" Tanya Olive setelah menguasai rasa keterkejutannya.
Arfin mengaguk. "Mama tahu, selama ini kue yang aku makan itu adalah buatannya." Tutur Arfin semakin membuat Olive membulatkan kedua matanya.
"J-jadi Naya itu Kanaya?" Ucap Olive dengan terbata.
"Hm, dia calon ibu dari anak-anakku. Jadi aku mau Mama dan papa besok datang, aku akan menikahi Kanaya secara agama, karena dia tidak mau jika aku langsung menikahinya secara hukum." Tutur Arfin dengan wajah sendu.
"Ck, kenapa kamu begitu beruntung. Habis di buat bunting langsung menikah. Berbeda dengan papa yang harus bertaruh nyawa dulu baru bisa menikah, itupun belum nyicil duluan." Ando melirik Olive di akhir ucapanya.
Plak
"Dasar kadal buaya buntung!" Kesal Olive mendengar ucapan suaminya.
"Yasudah besok Mama dan papa akan datang, apa yang kamu butuhkan bilang saja." Ucap Olive yang hanya di angguki oleh Arfin.
Arfin menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu tamu, setelah pulang dari resort dirinya belum bertemu Kanaya, jam sudah menunjukan pukul 10 malam dan dirinya baru saja sampai, membuatnya tidak bisa bertemu Kanaya, pasti wanita itu sudah terlelap.
Pagi hari Kanaya sudah rapi dengan penampilannya, dress semata kaki yang longgar, rambutnya dia ikat satu. Jika dilihat wajah Kanaya ini masih seperti wanita remaja hanya saja perut nya kok sudah buncit.
Efek suka mainan sosis yang memuntahkan mayones, akhirnya membuat perutnya kenyang selama sembilan bulan.
"Nay." Arfin sudah berdiri didepan pintu kontrakan Kanaya ketika wanita itu membuka pintu.
Kanaya tertegun melihat penampilan pria didepanya.
Rambut berantakan, di bawah matanya terdapat kantung mata yang sedikit menghitam, pakaian Arfin juga sepertinya pakaian kemarin pagi.
"Kamu baru pulang?" Tanya Kanaya yang menyimpulkan dari penampilan Arfin.
"Aku hanya tidak bisa tidur." Jawab Arfin sambil memindai penampilan Kanaya. "Kamu mau kemana?"
Kanaya melirik kebelakang ada dua kantung kresek yang akan dia antar, sedangkan bik Sari tidak bisa datang pagi ini.
"Mau antar kue."
Arfin ikut melirik kebelakang. "Biar aku antar, kamu sedang hamil tidak seharusnya membawa sebanyak itu."
Kanaya hanya diam. "Tapi kamu terlihat lelah."
"Tidak masalah, aku akan mandi sebentar. Ingat jangan kemana-mana."
Cup
Kanaya tergugu mendapat kecupan di kening mendadak, dan tersadar ketika Arfin sudah pergi.
"Kenapa dengan jantungku." Gumamnya dengan menyentuh dadanya.