
Arfin di bantu Olive untuk bersiap, jika pagi menjelang siang Arfin sama sekali tidak ada tenaga. Tapi setelah siang hingga malam, Arfin akan sehat seperti biasa, dan gejala ini sudah hampir dua minggu Arfin rasakan.
"Mah, kalau aku muntah di mobil bagaimana?" Tanya Arfin seperti anak kecil yang hendak berpergian jauh dan dirinya takut akan muntah.
"Sudah Mama siapkan plastik, tidak usah khawatir." Kata Olive dengan santai.
Arfin hanya pasrah meskipun rasanya memalukan, mobil elit tapi kenapa dirinya seperti orang kampungan.
"Kenapa aku harus ikut Mah, menyusahkan Mama saja." Katanya lagi yang menuruni anak tangga di bantu mamanya berpegangan.
"Sudah jangan banyak protes, kamu kan tidak pernah ikut acara di resort." omel Olive membuat Arfin diam.
Sampainya di luar mobilnya sudah siap, dengan Ando yang mengemudi, Arfin sudah mengambil posisi paling nyaman.
"Kenapa seperti membawa orang sekarat Mah?" Tanya Ando yang melihat semua yang disiapkan Olive.
Jok mobil di rebahkan dan di tambah kasur di dalamnya, ada bantal dan selimut.
"Ya memang bawa orang sekarat Pah, sekarat ngidam." Olive tertawa.
Ando hanya geleng kepala. "Dia lebih parah mendapatkan karma." katanya sambil masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi.
Arfin yang lemas enggan untuk menimpali ucapan kedua orang tuanya.
Karma atau bukan entahlah, dirinya hanya bisa menikmati apa yang sedang dirinya rasakan. Jika memang ini yang membuat bayi dan ibunya baik-baik saja maka Arfin rela merasakan seperti ini.
Perjalan menuju resort hampir memakan waktu dua jam, dan Arfin memilih untuk beristirahat.
Siang hari....
"Bik, itu tolong di masukin kardus semua ya, biar nanti enak bawanya." Ucap Kanaya pada bik Sari.
"Iya neng, ini udah semua 200box di tambah 25 yang neng Naya tambahkan." Bik Sari menghitung dengan teliti.
Semua sudah di packing dalam kardus dan tinggal menunggu mobil yang akan mengambilnya.
"Iya bik, itu masih ada sisa dan saya lebihkan sapa tahu kurang."
Bik Sari hanya mengiyakan. "Aku bersyukur bik, ini rezeki bayi ini." Kanaya mengusap perutnya yang sudah menonjol.
Kehamilannya sudah memasuki angka tiga bulan, dan Kanaya sudah sangat merasakan perubahan di tubuhnya.
Rasanya begitu senang dan bahagia, apalagi kehamilannya membawa berkah untuk dirinya.
"Iya neng, dedek bayi membawa rezeki ya." Kata Bik Sari yang juga ikut senang.
Tak lama mobil yang mereka tunggu datang, di bantu Susi yang ikut datang bersama supir.
"Susi, ini ada 25 box lebihnya. Bilang sama bos kamu." Kata Kanaya pada Susi.
"Eh, kok lebih Mbak?" Tanya Susi bingung.
"Sengaja, Mbak juga ingin berbagai. Siapa tahu kurang." Kanaya menjelaskan.
"Oh, gitu. oke deh nanti aku sampaikan." Susi pun pamit meninggalkan kontrakan Kanaya.
"Bik, bawa saja yang belum di bungkus sebelum pulang."
Kanaya menyuruh bik Sari untuk membawa sisa kue yang ada.
"Terus mau bibik apakan?" tanya Kanaya yang duduk di kursi meja makan, menatap sisa-sisa kue.
"Nanti malam ada kumpulan RT, biar bik Sari bawa kesana aja ya. Buat tambah-tambah di sana, boleh?" Tanya bik Sari.
"Boleh bik, dari pada tidak kemakan."
Bik Sari tampak senang. Sedangkan Kanaya terus mengucapkan syukur untuk rezeki hari ini di perlancar, dan dirinya bisa membayar jasa bik Sari setiap minggu.
.
.
Di resort acaranya sudah di mulai, di pelataran resort mendirikan tenda, semua pengunjung ikut dalam acara di tambah khusus ibu-ibu pengajian disana di undang.
Olive melakukanya dalam bentuk syukur yang dia panjatkan, semoga usaha kelurganya selalu di perlancar.
Hampir dua jam acara terselenggara, dan semua berjalan dengan lancar tidak ada hambatan.
"Bu, ini semua sudah menerima makanan yang kita sediakan, dan ini sisanya." Susi memperlihatkan kardus yang masih ada beberapa sisa makanan.
"Loh, kok ada sisa. Bukanya malah kurang karena ternyata yang datang lebih dari yang diperkirakan." Tanya Olive tampak bingung.
"Iya Bu, tapi tadi mbak Naya memang kasih lebih takut kurang, katanya Mbak Naya juga ingin berbagi." Kata Susi dengan sopan.
Olive terdiam sebentar. "Naya? siapa Naya?" tanya Olive yang tidak tahu.
"Ini, tempat saya pesan semua ini Bu. Ini untuk ibu sama bapak saja, biar mencicipi kue buatan Mbak Naya yang enak endulita." Kata Susi sambil tersenyum senang mempromosikan kue Kanaya.
"Masa sih, aku jadi teringat penasaran." Olive menerima 3 box yang tersisa.
"Eh, tapi kalian-"
"Tenang aja Bu, udah semua. Kalau saya gampang tinggal minta Mbak Naya kenyang saya Bu." Kelakar Susi membuat keduanya tertawa.
Setelah selesai, Arfin duduk bersandar sofa ruang keluarga. Setelah mengikuti acara yang berlangsung dirinya tampak baik-baik saja.
"Kamu lapar tidak?" tanya Olive yang melihat putranya duduk bersandar.
Olive meletakkan 3 box tadi di atas meja.
"Mama bawa apa?" tanya Arfin.
"Kue, sisa acara tadi. Padahal seharusnya kurang, tapi ternyata yang buat kue melebihi pesanan Mama. Dia baik bukan." Olive tersenyum sambil membuka makanan di dalam box itu.
Olive mencoba salah satunya, dan cukup menikmati cita rasa yang ada di kue itu.
"Enak Mah?" tanya Arfin lagi.
"Em, enak. Lebih enak dari toko langganan punya Mama." Tutur Olive yang masih asik menikmati kue nya.
Arfin pun ikut mengambil salah satunya yang menggugah seleranya, pria seperti ingin meneteskan air liurnya saat melihat kue di tangannya.
"Bagaimana?" Tanya Olive ketika Arfin mengunyah kue.
"Em, kenapa-"
Arfin merasakan jantungnya berdebar ketika menelan kue itu, entah apa yang dia rasakan. Hanya saja rasanya sangat berbeda saat memakan kue itu, rasanya sampai ke dalam relung hatinya.