
Setelah semua selesai Kanaya mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah, besok tidak ada pesanan. Karena Kanaya sengaja tidak merima orderan hanya untuk melakukan pemeriksaan ke dokter.
Kandungannya yang akan memasuki empat bulan membuat Kanaya begitu senang, selain bayi dalam kandungannya tidak mempersulit dirinya, Kanaya juga merasa bahagia karena tidak terasa kandungnya sudah berusia mendekati empat bula.
Menjalani hidup seperti ini sama sekali tidak pernah ada dalam bayangan Kanaya, dirinya sungguh merasa bersyukur bisa menjalani semua tanpa adanya kendala yang berarti, demi bayinya Kanaya akan terus berusaha.
"Bapak..." Tiba-tiba dirinya teringat Herman bapaknya.
Kanaya mengambil bingkai foto keluarganya, saat itu Fikri masih berusia satu tahun. Mereka melakukan foto bersama saat itu, hanya saja tidak ada ibunya di sana.
Melihat wajah bapaknya yang masih bisa tersenyum, membuat Kanaya menitikan air matanya. Sudah lama dirinya tidak pernah melihat senyum seorang ayah untuk anaknya. Dan Kanaya sangat merindukan hal seperti itu.
"Sekarang bapak dimana?" Katanya dengan lirih, menahan air mata yang akan jatuh.
Tangannya mengusap wajah Herman di dalam bingkai foto itu.
"Jika kita dipertemukan lagi, aku harap bapak sudah berubah lebih baik." Ucapan Kanaya seperti dia yang dia panjatkan.
Rasanya begitu sesak, mendapati masih memiliki bapak tapi seperti hanya hidup sebatang kara. Kanaya bersyukur Tuhan mengirimkan dirinya malaikat kecil yang hadir dalam dirinya.
"Semoga kita bisa lalui semua ini.." Gumamnya hingga perlahan matanya terpejam.
Di resort
Arfin ikut duduk di meja makan, tumben sekali pria itu pagi-pagi sudah ikut duduk di meja makan. Biasanya jika di rumah Arfin hanya bisa berbaring di atas kasur dengan wajah pucat, dan pagi ini malah sudah memakan sisa kue kemarin yang masih bisa dimakan.
Olive dan Ando saling tatap, saat melihat putranya duduk dengan santai sambil makan dan menikamati secangkir teh.
"Fin, apa kamu sudah tidak mengalami mual?" tanya Olive yang melihat putranya asik makan.
"Entahlah Mah, rasanya aku hanya ingin makan ini." Tunjuknya pada kue di atas piring yang tinggal 2 potong.
"Emangnya seenak apa sih, papa pengen nyoba." Ando yang penasaran mengulurkan tangannya untuk mengambil kue di depan Arfin. Tapi sebelum tangan Ando sampai sudah ditepis lebih dulu oleh Arfin.
"Jangan, papa kan tidak bisa makan yang manis-manis." katanya sambil menatap Ando melotot.
"Heh, bocah sialan. Kenapa kau menatapku seperti hantu!" Kesal Ando yang melihat reaksi Arfin.
Arfin tidak menggubris dan masih melanjutkan untuk makan.
"Mama tidak tahu, semua Mama serahkan pada Susi bagian kantin." Jawab Olive yang memang tidak tahu.
"Aku tidak bisa makan apapun Mah saat pagi selain bubur, dan aku ingin kue-kue ini lagi." Katanya dengan wajah yang begitu memprihatinkan.
"Heh, anak sendal. Kau kan masih bisa menelan bubur, kenapa juga ganti kue." Ucap Ando.
Arfin melirik papanya sinis. "Karena aku tidak mau dikatain 'Bawa orang sekarat'. Memangnya papa pikir aku penyakitan." Kesalnya.
Ando malah tertawa mendengar ucapan Arfin. "Ya memang kan, kamu sekarat kerena kehamilan wanita yang kamu bikin melendung, hahaha."
Olive yang melihat keduanya suka sekali berdebat hanya bisa geleng kepala.
"Alhamdulillah Bu, bayinya sehat."
Kanaya tersenyum haru melihat sebuah layar yang menunjukan gerakan bayi mungil.
"Tapi jenis kelaminnya belum bisa terlihat Bu, bulan depan semoga terlihat ya." Ucap dokter wanita yang menangani Kanaya periksa.
"Tidak apa Dok, ini sudah cukup dia dia berkembang dengan baik."
Kanaya turun dari ranjang pasien di bantu oleh suster. Jika awal kehamilannya dia periksa di klinik. Kini Kanaya memilih periksa di rumah sakit terdekat tempatnya tinggal.
"Ini vitamin untuk ibu dan bayi, karena ibu tidak mengalami keluhan." Dokter memberikan resep untuk Kanaya.
"Baik Dok, terima kasih. Saya permisi." Kanaya pamit.
Disepanjang lorong rumah sakit, Kanaya terus melengkungkan bibirnya melihat foto usg nya untuk pertama kali, dadanya terasa berdebar dengan perasaan senang.
Karena fokus melihat foto bayinya, Kanaya tidak memperhatikan jalan.
Bugh
"Aduhh.." Kanaya mengaduk saat bahunya menabrak sesuatu.
"Anda tidak apa-apa?"
Kanaya mendongak, dan cukup terkejut melihat pria didepanya.