
Kanaya lantas langsung menunduk cepat. "Maaf." Katanya yang langsung pergi dengan cepat.
Sedangkan pria yang berdiri itu tertegun, pria itu seperti mengingat sesuatu tapi dirinya lupa dan-
"Astaga!" Pria itu menepuk keningnya dan segera berlari untuk mengikuti wanita yang dia tahu Kanaya. Ya Kanaya, wanita yang Arfin cari.
Alex menatap kesekiling, pria itu mengedarkan pandangan di depan halaman parkir rumah sakit. Tidak terlihat Kanaya apa wanita itu sudah pergi.
"Cepat sekali wanita itu menghilang." Gumam Alex yang langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Kanaya mengintip dari balik dinding, jantungnya berdebar kencang ketika bersembunyi di balik tembok. Meskipun hanya melihat sekali, tapi Kanaya hafal siapa pria itu. Pria yang memberinya pekerjaan dengan hasil uang cepat.
Kanaya bisa bernapas lega saat Alex sudah kembali masuk kerumah sakit, Kanaya buru-buru menghentikan ojek yang kebetulan lewat.
"Lu kerumah sakit Medica sekarang." ucap Alex pada seseorang di balik telepon.
"Oke gue tunggu." Alex mematikan ponselnya.
Pria itu datang kerumah sakit karena ingin menjenguk kerabatnya, siapa sangka jika akan bertemu dengan wanita yang selama ini di cari Arfin.
"Eh...Eh... Mau kemana?" Olive menghentikan langkah kaki Arfin yang sedikit berlari.
"Mau jemput calon mantu Mana." Kata Arfin sambil buru-buru berlalu.
"Calon mantu, jemput di mana?" Pikir Olive yang bingung.
"Terima kasih pak." Kanaya memberikan ongkos pada ojek yang dia tumpangi.
Rasanya hari ini begitu melelahkan, dirinya tidak akan menyangka akan bertemu bos Alex di rumah sakit. Kanaya pikir dirinya sudah cukup jauh bersembunyi dari hiruk-pikuk kota, tapi yang namanya kebetulan siapa yang tahu kan.
"Mbak Naya dari mana?" Tanya ibu Susi yang kebetulan sedang didepan rumah kontrakan.
"Dari rumah sakit Bu, periksa." Jawab Kanaya dengan senyum.
Tangannya mengelus perutnya yang kian membesar, Kanaya begitu menikmati kehamilannya.
Beruntung tetangga dan lingkungan menerima dirinya, dan mereka mengerti dengan keadaan meskipun sebagian juga Kanaya mendengar bisikan-bisikan yang tidak enak.
"Terus bagaimana? sehat dedek bayinya?" Tanya ibunya Susi dengan antusias.
"Iya Bu, sehat dedeknya." Kanaya duduk di teras di temani ibunya Susi.
Hari ini Kanaya memang meliburkan pesanan kue karena dirinya ingin istirahat setelah pulang kontrol.
Drt...Drt..
Ponselnya bergetar, ada panggilan masuk, dengan nama Susi.
"Siapa?" Tanya ibu Susi yang kepo.
"Susi Bu." Jawab Kanaya sambil mengangkat telepon.
"Halo Sus, ada apa?" Tanya Kanaya.
"Urgen apa? kamu kenapa?" Kanaya ikut panik.
"Bukan aku mbak, tapi mbak Naya dapat pesanan urgent, kalau tidak aku bakalan di pecat mbak." Diseberang sana Susi menepuk mulutnya yang tidak bisa difilter. Sedangkan wanita di depannya hanya geleng kepala.
"Maksudnya apa Susi, bicara yang jelas." Kanaya malah kesal.
Susi meringis saat ponselnya direbut bosnya.
"Halo, maaf saya mengangguk."
Kanaya mendengar suara yang berbeda, ini lebih lembut seperti wanita dewasa.
"I-iya, maaf saya bicara dengan siapa?" Kanaya menjadi bingung.
"Saya bosnya Susi, saya hanya ingin meminta mbak untuk membuatkan kue. Sebelumnya Susi juga bilang kalau mbak sedang libur, tapi saya minta tolong karena anak saya sedang ngidam."
Kanaya tampak diam mendengarkan. 'Ngidam' Kanaya mengehela napas sejenak, beruntung sekali wanita yang sedang ngidam itu mendapatkan perhatian. Sedangkan dirinya?
Kanaya langung menggeleng kan kepalanya, dirinya tidak boleh memikirkan hal seperti itu, karena nyatanya tanpa merasakan ngidam, dirinya begitu menikmati masa kehamilannya.
"Mbak Naya bagaimana?"
Suara seseorang di seberang sana membuat Kanaya tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya Bu. Kalau begitu nanti sore atau malam bisa di ambil. Biar Susi yang menghubungi ibu ya." Jawab Kanaya yang menerima pesanan dadakan ini.
"Terima kasih Mbak Naya, nanti semua bisa sama susi, saya terima beres ya." Wanita itu tersenyum senang mendengarnya.
"Iya Bu, baik."
Mereka menyudahi obrolan, dan Kanaya hanya bisa tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Ada apa Mbak? Susi kenapa?" tanya ibu Susi yang ikut mendengarkan.
Kanaya menoleh. "Tidak apa Bu, saya hanya mendapat orderan dadakan dari bos anak ibu." Jelasnya.
Kanaya pun masuk di temani ibunya Susi, wanita itu akan membantu Kanaya untuk membuatkan pesanan dadakan itu.
Sedangkan dirumah sakit, Arfin tampak duduk lemas, dirinya baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan. Dan benar jika Kanaya tadi habis kontrol di sana.
"Sudahlah, kita tunggu bulan depan. Bukankah kau sudah mendapatkan tanggal Kanaya periksa." Alex menepuk pundak Arfin.
"Hm, tapi itu lama sekali Alex. Dan kenapa pula Kanaya menuliskan alamat rumah lamanya." Arfin frustasi.
Dokter yang dia temui mengatakan alamat Kanaya tinggal, tapi ternyata Arfin ingat jika alamat itu adalah alamat rumah lama.
"Dia pintar, agar kamu tidak bisa menemukannya dengan cepat." Ledek Alex sambil tertawa.
Arfin mengumpat Alex kesal. "Dimana pun dia, pasti gue bakalan nemuin." Ucapnya dengan penuh keyakinan.
TINGGALKAN JEJAK KALIAN 😘😘