MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Acara pernikahan



Sasi mendorong dada Alex agar pria itu melepaskan pelukannya.


"Susi aku pulang dulu, kalau ada apa-apa kabari aku." Ucap Sasi tanpa mau menatap pria yang berdiri menatap nanar dirinya.


"Baik Mbak."


Susi pun hanya bisa menjadi penonton, dia tidak tahu dan tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain.


"Mau kemana biar aku antar." Alex mengikuti Sasi.


"Tidak perlu, aku sudah ada janji dengan seseorang." Jawab Sasi datar tanpa ekspresi.


Mendengar ucapan Sasi, Alex langsung mencekal lengan Sasi.


"Lepas!"


Sasi mengibaskan tangannya yang di cengkram Alex.


"Sasi lihat aku!" Alex menyentuh kedua bahu Sasi dengan kasar agar wanita itu menatap wajahnya.


Sasi tak bergeming wanita itu tetap membuang wajah membuat Alex kesal.


"Hey! kau tidak mendengarkan aku!" Pekik Alex dengan tangan mencekram dagu Sasi dengan paksa.


Sasi menatap Alex dengan tatapan penuh kebencian, Ia membenci pria yang sudah membuatnya sakit hati.


"Kau tidak merindukan ku hm, bagaimana kalau kita ke hotel menghabiskan waktu bersama. Aku rasa itu ide bagus." Ucap Alex dengan tatapan yang susah di artikan.


Melihat tatapan Sasi yang penuh kebencian membuat dada Alex terasa nyeri, ingin sekali Alex mengatakan jika dirinya merindukan Sasi, tapi ego tidak akan mengakui hal yang membuatnya merasa lemah.


Cuih


Alex memejamkan matanya saat Sasi meludahi wajahnya.


Srett


Dihempaskan nya tangan Alex, Sasi menatap Alex dengan sinis.


"Terima kasih, aku tidak butuh hotel untuk memuaskan pria sepertimu!"


Sasi menahan air matanya agar tidak jatuh, dadanya terlalu sesak hanya untuk bernapas.


"Jangab pernah temui saya lagi!"


Setelah mengatakan itu Sasi pun pergi dengan berlari.


Alex mengusap pipinya yang terkena ludah Sasi, pria itu menatap pugung Sasi yang semakin jauh.


Sasi bersandar di dinding toilet, wanita itu menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sesak yang sejak tadi ia tahan.


Sedangkan di ruang bersalin Arfin senantiasa memberikan semangat untuk sang istri. Tidak henti-hentinya pria itu bercerita masa dimana dirinya frustasi saat mencari keberadaan Kanaya. Arfin terus bercerita meskipun Kanaya tidak menanggapi.


"Dorong sekali lagi Bu, bayinya sudah akan keluar."


Arrghh!!


Oek...Oek...


Suara tangisan bayi yang melengking membuat Arfin tersenyum penuh haru. Kanaya lemas namun juga merasa lega setelah berhasil berjuang melahirkan sang buah hati.


"Selamat tuan, nyonya bayinya perempuan."


Arfin tersenyum haru saat melihat bayi merah yang menangis kencang saat suster membersihkannya.


"Terima kasih sayang, kamu hebat." Ucap Arfin sambil mengecupi wajah Kanaya.


Kanaya hanya tersenyum, rasanya begitu lelah setelah persalinan.


"Kami bersihkan dulu ya tuan, ajak ibunya mengobrol agar tidak tidur." ucap dokter yang masih bekerja di bawah sana.


"Dia cantik seperti kamu sayang, terima kasih."


Tak henti-hentinya Arfin mengucapkan terima kasih pada sang istri, dirinya tidak menyangka akan memiliki bayi secepat ini.


Suster datang dan memberikan bayi yang sudah bersih, ditaruhnya di dada Kanaya untuk mencari sumber kehidupan di dada sang ibu. Kanaya tersenyum penuh haru melihat bayi mungil yang selama ini dia nantikan, tidak terasa air matanya menetes karena bahagia.


"Bayinya boleh di azani tuan." Ucap suster yang mendapat anggukan dari Arfin.


Arfin menemani Kanaya yang terlelap, sedangkan Olive langsung menimang cucunya begitu datang.


"Pah dia cantik sekali." Di ciumnya pipi merah si bayi, Olive gemas dengan cucunya.


"Hm, kamu juga cantik Ndut." bisik Ando sengaja menggoda sang istri.


"Ish, gombalnya kebangetan."


Ando hanya terkekeh melihat wajah kesal istrinya.


"Tapi tetep cinta."


.


.


Satu bulan telah berlalu setelah kelahiran putri pertama Arfin dan Kanaya yang diberi nama Kalista. Bayi cantik itu kini genap berusia satu bulan.


"Mas kami sudah siap!" Seru Kanaya yang baru saja keluar dari kamar dengan mengendong Kalista.


Kanaya menatap suaminya yang sedang mengobrol dengan sahabatnya.


"Hay Nay? kalian mau kemana?" Tanya Alex yang datang hanya untuk mampir melihat keponakannya.


"Em, itu-" Kanaya menatap suaminya, meminta Arfin yang menjawab.


"Ada kerabat yang akan menikah, kami akan kesana, ya kerabat Kanaya." Jawab Arfin dengan nada ragu.


Alex menatap keduanya bergantian, dan mengangguk saja.


"Baiklah, kalau kalian mau pergi. Lain kali aku mampir lagi. Ini hadiah untuk si kecil." Alex memberikan paper bag pada Arfin.


"Terima kasih Lex, sorry gue ada urusan." Ucap Arfin tidak enak.


"Its oke, no problem."


Alex pun pamit, sedangkan Arfin dan Kanaya masuk kedalam mobil untuk segera pergi.


"Mas, apa Alex tidak tahu jika Sasi-" Kanaya menatap suaminya yang sedang fokus menyetir.


Kalista tertidur pulas di pangkuan Kanaya, bayi mungil itu selalu nyaman jika dalam dekapan sang ibu.


"Sepertinya tidak."


Kanaya hanya menghela napas. Tidak di sangka kehidupan Sasi lebih miris darinya.


Saat di jalan Alex baru sadar jika dirinya akan memberikan berkas penting pada Arfin, pria itu merutuki kebodohannya yang lupa.


"Ck, kenapa kau jadi pelupa Lex." Ucapnya pada diri sendiri.


Alex memilih untuk putar arah, tapi saat melewati lampu merah di seberang jalan, Alex melihat mobil Arfin sedang berhenti karena lampu merah, Alex pun memilih mengikuti mobil Arfin dari belakang.


"Kemana dia." Gumam Alex saat mobil Arfin memasuki gang kecil.


Alex berhenti sedikit jauh dari mobil Arfin, karena didepanya ada mobil yang juga berhenti.


Saat turun Alex melihat beberapa warga berpakaian rapi menuju rumah kecil yang sepertinya ada acara.


"Maaf Bu, di sana ada acara apa?" Tanya Alex yang pada ibu-ibu yang sepertinya akan datang ke acara itu.


"Oh itu nikahan, juragan sapi mau menikahkan anaknya." Jawab si ibu.


Alex mengerutkan keningnya. "Sejak kapan Arfin bergaul dengan juragan sapi." Ucapnya bermonolog sendiri.


Karena penasaran dan ingin memberikan berkas penting, Alex pun memilih ikut mendekat ke acara pernikahan juragan sapi itu.


Pria itu ikut masuk kedalam tanda untuk mencari keberadaan Arfin, dan saat semakin maju Alex baru melihat Arfin yang sedang mengobrol dengan seseorang, tapi langkahnya terhenti saat seorang penghulu memanggil mempelai wanita untuk keluar.


"Tolong panggilan nak Sasi, acara akan segera di mulai."


Deg


Seketika jantungnya berdebar saat tahu jika acara pernikahan ini adalah acara pernikahan Sasi.