
"Apa bisa dihubungi?" Tanya Arfin begitu antusias.
Sasi menggeleng, " Sejak satu Minggu yang lalu nomor nya tidak bisa dihubungi." Jawabnya lemah.
Arfin mengusap wajahnya kasar, tubuhnya gelisah dengan perasaan yang entah kenapa jantung nya berdebar kencang.
"Di mana bapak nya?" tanyanya lagi.
Sasi menatap Alex yang hanya mengangkat satu alisnya.
"Sebelum Kanaya pergi, pak Herman sudah tidak pulang selama dua minggu." Jawab Sasi.
Arfin menghembuskan napas kasar. "Dia juga tidak masuk kerja selama itu." Ucapnya yang masih didengar Alex dan Sasi.
"Gue akan bantu, siapa tahu anak buah gue bisa menemukan Kanaya." Tutur Alex.
Arfin menatap Alex dan mengaguk. "Thanks Lex, gue juga akan melakukan hal yang sama." Katanya dengan wajah sedikit gelisah.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Sasi tiba-tiba.
Arfin menatap Sasi dengan tatapan menunggu apa yang akan Sasi katakan.
"Em, itu. Apa jika mau menemukan Kanaya kau akan menikahinya?" Tanya Sasi pelan dengan sedikit rasa takut. "Maksud ku, saat Kanaya tahu dia hamil, aku sudah menyuruhnya untuk memberi tahu mu, tapi dia bilang jika semua yang terjadi sudah menjadi resikonya karena uang yang dia dapat, dan dia tidak ingin menuntut apapun lagi." Sasi bicara dengan menatap wajah Arfin yang hanya datar saja.
"Kanaya tidak ingin menganggu kehidupan kamu, meksipun dia hamil anak mu "
Arfin mengepalkan tangannya. "Omong kosong." Ucapnya dengan tersenyum hambar. "Jangan harap dia bisa menikah dan membiarkan anakku mempunyai ayah tiri." Kesalnya mengingat jika Kanaya akan menikah dengan pria lain.
Sasi hanya menatap Arfin dengan tersenyum simpul.
"Kalau begitu, kau harus menemukanya. Aku tidak tahu sekarang kehidupan dia seperti apa, meskipun aku tau Kanaya adalah wanita yang pekerja keras. Tapi kondisinya yang hamil pasti akan menyulitkan dirinya untuk mendapatkan pekerjaan."
Mendengar ucapan Sasi, rahang Arfin mengeras. Bagaimana jika Kanaya dalam keadaan hamil terlunta-lunta di jalan. Bagaimana bisa anaknya bertahan jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Sedangkan orang yang mereka pikirkan sedang duduk sambil merekap pesanan kue untuk besok sampai bulan depan.
"Kalau setiap bulan ada pesanan 1000pics, aku tidak sanggup untuk melakukanya sendiri." Ucapnya sambil berfikir.
"Tapi mengambil pekerjaan juga butuh ongkos untuk membayar." Kanaya menghitung kambali modal dan untuk yang akan dia dapatkan, sebelum dirinya benar-benar mencari orang untuk datang membantunya.
"Setiap hari ada warung yang harus di setor kue, dan setiap harinya pesanan mereka semakin bertambah." Katanya lagi sambil melihat pesanan.
"Baiklah aku akan mencari orang untuk membantuku." Kanaya tersenyum puas melihat hasil kegiatannya yang sudah hampir dua minggu.
Dikediaman orang tua Arfin..
"Pah, papa menangkap aneh gelagat anak kita?" Tanya Olive pada suaminya saat berada di atas ranjang.
"Aneh apanya sayang." Ando yang tadinya melihat gawai pekerjaan nya, langsung di matikan.
"Apanya yang aneh." Pria itu menatap istrinya yang duduk bersandar di bahu ranjang seperti dirinya.
"Tadi pagi sebelum pergi ke resort, aku mendengar dia muntah-muntah setelah mencium bau uap nasi di meja makan." Tuturnya sambil menatap suaminya.
Ando menaikan alisnya sebelah. "Mungkin dia sedang tidak enak badan." Jawabnya.
"Aku rasa tidak, kamu tahu kan kalau Arfin tidak suka bau bawang goreng?" Katanya lagi.
"Lalu?" Ando mengambil rambut Olive dan memutar-mutarnya menggunakan jari telunjuk.
"Dia ngemil bawang goreng gitu aja, hampir habis satu toples."
"Terus kenapa, mungkin dia sendang pengen. Biasanya kamu dulu juga gitu kan saat hamil Arfan, kamu tidak suka kacang, tapi saat hamil kamu malah makan kacang setiap hari." Kata Ando mengingatkan Olive saat ngidam dulu.
"Kamu mah, itukan aku pas hamil. Wajar dong kalau aku ngidam, ini si Arfin masa dia ngidam." Katanya sambil memukul dada suaminya.
"Bisa jadi dia juga ngidam."
Plak
"Auwss, Ndut kok di geplak sih." Ando mengusap lenganya yang terasa panas karena Olive menggunakan tenaga saat memukulnya.
"Kalau bicara jangan sembarangan, Arfin itu laki bukan wanita yang bisa hamil." Olive mendelik tajam menatap suaminya.
"Ck, siapa bilang pria tidak bisa ngidam. Pria juga bisa, itu di namakan sindrom couvade. Dimana suami yang akan mengalami gejala Morning sickness." Terang Ando.
"Tapikan dia tidak punya istri hamil pah." Olive menatap suaminya bingung.
"Ya, mungkin saja anak mu itu bikin anak orang melendung lebih dulu." Jawab Ando dengan santai.
Bugh
"Bicara sembarang kamu!!"