MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Bahagia selamanya



Sasi membuka matanya saat tidak lagi mendengar suara gaduh, bahkan pakaiannya sudah berganti dengan pakaian rumahan.


"Apa aku jadi menikah." Gumamnya sambil mengubah posisinya menjadi duduk.


Sasi melihat sekitar, dirinya terkejut saat tidak berada di dalam kamarnya.


"Di mana ini." Sasi pun akan turun dari atas rajang besar dan empuk, tapi saat kakinya baru menyentuh lantai tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuk sosok pria yang Sasi kenali.


"Alex." Gumam Sasi dengan tatapan mata tak berkedip.


"Sudah bangun." Alex membawakan nampan berisikan makanan untuk Sasi.


Kemudian pria itu berdiri di depan Sasi yang masih duduk disisi ranjang.


"Kenapa aku di sini, bukankah aku sudah menikah." Ucap Sasi tanpa menatap wajah Alex yang berdiri di depannya.


"Kau itu bicara dengan siapa."


Sasi mendongak menatap Alex dengan kesal. "Apa disini ada orang lain!" Ketus Sasi yang tiba-tiba kesal.


Alex mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu jadi marah-marah." Protes Alex yang mendengar nada ketus Sasi.


Sasi membuang wajah, kakinya hendak melangkah pergi tapi Alex mencegahnya dengan memeluk perut Sasi.


"Mau kemana? kau berhutang penjelasan banyak padaku." Alex membawa Sasi keatas ranjang dan mengungkung wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Kau mau apa? lepas!" Sasi berontak saat tubuhnya di apit tubuh kekar Alex.


"Mau apa? apa saja karena aku bebas melakukan apapun pada istriku." Alex tersenyum menyeringai melihat wajah syok Sasi.


Cup


Di kecupnya bibir Sasi yang terbuka membuat wanita itu langsung tersadar.


"I-istri." Suara Sasi tercekat.


Bagaimana bisa menjadi istri jika pernikahannya saja batal, dan Kalau pun menikah pasti sudah menikah dengan anak juragan sapi.


"Hm, di sini ada anak kita." Tangan Alex menyentuh permukaan perut Sasi.


Membuat Sasi langsung menyingkirkan tangan Alex dan mendorong Alex untuk menyingkir.


"Bukan, dia bukan anak mu!" Pekik Sasi yang berjalan menjauh dari Alex.


Sasi berjalan keluar dari kamar tapi belum mencapai pintu tubuhnya sudah kembali melayang saat Alex menggendongnya.


"Alex! turunkan aku!" Pekik Sasi dengan wajah merah karena marah.


"Diam!!"


Suara bentakan Alex menggema di kamar itu membuat Sasi ketakutan, apalagi melihat wajah Alex yang merah padam.


Melihat wajah ketakutan Sasi membuat Alex mengusap wajahnya kasar, mencoba mengurangi ledakan emosinya agar tidak menimbulkan penyesalan.


"Dengar, kita sudah menikah. Meskipun bayi itu bukan bayiku. Aku akan tetap bertanggung jawab."


Ya, Alex bicara seperti itu hanya ingin Sasi tidak terus menerus menolak dirinya. Alex tahu jika Sasi hamil adalah anaknya.


"Bukankah pria sepertimu tidak akan mau menerima wanita jala*ng sepertiku! lalu untuk apa kau bertanggung jawab jika dia bukan darah daging mu! hah untuk apa!!" Sasi meluapkan rasa sakit hatinya pada Alex.


"Tidak ada orang tua yang mau anaknya menikah dengan *******!!! lalu kenapa kau sendiri menikahi jala*ng sepertiku hah!!" Sasi menatap nanar Alex yang hanya diam melihat.


Alex maju dan meraih tengkuk Sasi, mencium paksa bibir Sasi yang sudah banyak bicara.


Sasi yang awalnya berontak perlahan terlihat pasrah saat tenaganya tak sebanding dengan tenaga Alex.


Beberapa saat Alex melepaskan tautan bibirnya menangkup kedua sisi wajah Sasi yang basah oleh air mata.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Hanya saja aku-"


Alex menatap kedua mata Sasi yang terluka, Alex tahu dirinya salah dan keterlaluan. Hanya saja itu bentuk protesnya jika dirinya tidak suka Sasi menerima perjodohan dengan pria lain, tanpa sadar Alex sudah menjerat Sasi dalam hatinya.


"Aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku, Sasi aku menginginkanmu lebih dari teman ranjang. Aku mencintaimu."


.


.


Di kediaman Arfin dan Kanaya, kedua orang tua mereka datang. Kini Olive sering sekali datang ke kediaman putranya hanya karena rindu dengan cucu perempuannya.


"Mah, kenapa tidak pindah kesini saja. Biar Kalista ada temen nya." Ucap Kanaya sambil membawakan minum untuk ibu mertuanya.


"Maunya Mama begitu, tapi papa mu masih susah dibujuk." Ucap Olive sambil menimang cucu.


Arfin dan Ando muncul dari dalam ruang kerja Arfin, keduanya ikut duduk di samping wanitanya masing-masing.


"Sayang bagaimana kalau minggu depan kita adakan acara syukuran sekaligus kita mengesahkan pernikahan kita secara hukum." Ucap Arfin setelah tadi berbicara dengan ayahnya.


Bagaimana pun keduanya menikah agama lebih dulu, mengingat Kanaya sudah hamil dan Arfin ingin bertanggung jawab. Dan sekarang anak mereka sudah lahir Arfin ingin melegalkan pernikahan mereka secara hukum dan agama, dan mereka akan kembali mengulang ijab kabul.


"Tidak apa Mas, aku ngikut saja." Jawab Kanaya.


Arfin tersenyum dan mencium pucuk kepala Kanaya.


"Terima kasih sudah memberikan ku kesempatan lebih dulu." Ucapnya dengan tulus.


Satu minggu sudah terlewati, kini kediaman Arfin cukup ramai dengan kerabat dan beberapa anak-anak dari panti asuhan. Seperti biasa mereka membuat acara juga untuk acara amal.


"Saya terima nikah dan kawinya Kanaya Alifa binti Herman dengan mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai."


"Bagaimana? sah?"


"Sah!!"


Semua yang hadir tampak lega mendengar kata sah, mereka semua mengucap syukur.


Kedua mempelai tak kalah merasa lega, kini pernikahan mereka sudah sah secara hukum dan agama. Dan kini mereka sudah di karuniai bayi perempuan cantik dan lucu.


"Terima kasih sayang, aku mencintai kalian."


Keduanya saling bertatap dan tersenyum, terpancar kebahagiaan di antara keduanya yang begitu ketara.


Kini kehidupan Kanaya sudah bahagia, mendapatkan suami dan keluarga yang menyayanginya. Ditambah dengan putri kecil mereka yang melengkapi kebahagiaan keduanya.


Siapa sangka wanita yang menjual keperawanannya dan bahkan hampir di jual ayahnya sendiri kini hidup dengan berlimpah kasih sayang, Kanaya bersyukur atas takdir yang membawanya dalam kebahagiaan.


Percayalah jika ada pelangi setelah badai. Dan semua akan indah pada waktunya jika kita percaya dengan takdir.


...TAMAT...