MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Keputusan Kanaya



Siapa sangka hidupnya akan seperti ini, ditinggalkan ibu dan adiknya untuk selamanya, di tambah memiliki bapak tapi tidak menganggapnya sama sekali.


Kanaya adalah gadis yang bertanggung jawab dengan keluarga, membatu sang bapak untuk mendapatkan uang untuk pengobatan ibunya. Tapi takdir kembali berkehendak lain saat Tuhan tidak mengijinkan Ibunya sembuh, Tuhan mengambil ibunya untuk selamanya. Setelah itu kehidupannya semakin suram dengan perlakuan bapaknya yang tidak pernah menganggap dirinya, setelah meninggalnya sang ibu, Herman sama sekali tidak pernah memperhatikan kedua anaknya. Apalagi saat tahu jika Fikri adiknya juga mengidap penyakit jantung, dunia Kanaya terasa runtuh seketika.


Dunia semakin pontang panting untuk selalu bisa mendapatkan uang yang cukup untuk kehidupan mereka dan juga untuk pengobatan Fikri.


Apa lagi bapaknya yang tidak tahu diri juga sering membuatnya frustasi saat meminta uang hanya untuk bermain judi.


"Bapak seharusnya yang tangung jawab pada kami, bukan malah meminta uang hanya untuk berjudi seperti ini!" Kanaya berteriak didepan bapaknya yang pulang-pulang minta uang dengan paksa, bahkan sampai menggeledah lemarinya.


Jika waktu bisa diputar dan takdir bisa ditukar, Kanaya lebih memilih kehilangan sosok bapak dari pada sosok ibu yang melahirkannya.


Hingga Tuhan kembali membuat dirinya harus kehilangan sang adik setelah apa yang dia lakukan juga tidak mampu untuk membuat adiknya bertahan.


Terkadang Kanaya berpikir, jika uang yang dia hasilkan adalah uang yang mungkin tidak halal atau berkah, oleh karena itu dirinya juga harus kehilangan adiknya. Rasanya Kanaya sudah putus asa untuk melanjutkan hidup, namun siapa sangka jika Tuhan mengirimkan dirinya malaikat kecil yang akan kembali membuat hidupnya terarah setelah menyerah. Kanaya seperti mendapat kan kembali semangat hidupnya untuk membangun keluarga bersama sang calon bayi. Meksipun dirinya juga tidak mudah melewatinya karena hamil diluar nikah. Hamil tanpa suami adalah hal yang sangat riskan kalangan kehidupan warga Konoha. Pasti banyak cacian dan hinaan yang mereka berikan.


"Nay.." Arfin menatap Kanaya lamat-lamat, sejak tadi wanita itu hanya diam melamun.


Kanaya yang merasakan tangannya disentuh, langsung menariknya, tapi Arfin tidak melepaskan genggaman tangannya membuat Kanaya mendelik kesal.


"Kamu mikirin apa? dari tadi melamun." Ucap Arfin tidak memperdulikan tatapan melotot Kanaya.


"Lepas!" Kanaya masih berusaha melepaskan genggaman tangan Arfin.


Arfin menghela napas dalam. "Nay, apapun yang kamu rasakan aku ingin kamu mau berbagi denganku, mekipun kita belum memiliki hubungan yang terikat, tapi aku mau kamu berbagi denganku."


Kini Arfin bukan hanya menggenggam tangan Kanaya satu, tapi keduanya ia genggam dengan perasaan tulus.


Tatapan Keduanya bertemu, Kanaya menatap kedalam bola mata Arfin. Ada kesungguhan dan ketulusan disana yang membuat Kanaya sedikit tertegun.


"Kandungan kamu semakin besar, aku tidak mau jika-"


"Apa semua ini karena anak ini? begitu dia lahir apa kamu akan mengambilnya dariku? dan status pernikahan, apa itu hanya-"


"Apa maksud kamu?" Arfin menyela ucapkan Kanaya, dia merasa jika ucapan Kanaya hanya untuk kepetingan dirinya saja. "Baiklah, kita memang dua orang asing yang tidak saling mengenal, terikat hanya karena bayi yang ada didalam kandungan mu. Dan aku ayah biologis bayi itu ingin bertanggung jawab, menikahimu sebagai istri dan juga ibu dari anak-anakku." Tutur Arfin dengan jelas.


Kanaya menaikkan satu alisnya, kata-kata Arfin sedikit mengusik pikiran Kanaya.


"Anak-anakmu?" ucap Kanaya pelan dengan tatapan bertanya.


Arfin mengangguk. "Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku kelak, bagiku menikah hanya cukup satu kali."


Kanaya menelan ludah, apakah pria itu sungguh-sungguh ingin membina rumah tangga dengannya, selepas dari anak yang dia kandung.


Tapi melihat keseriusan dan kesungguhan cara bicara dan tatapan Arfin, pria itu tidak berbohong sama sekali, dan sekarang langkah apa yang harus Kanaya ambil?


"Aku pikirkan dulu." Akhirnya kata itu yang meluncur di bibirnya, membuat Arfin mendesahh pelan mendengar ucapan Kanaya.


"Baiklah." Jawabnya lemah.


Arfin melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Kanaya. "Aku akan selalu menunggu, meskipun begitu aku tidak terima penolakan." Ucapnya dengan nada tegas dan peringatan.


Kanaya mendelik tidak suka. "Baiklah kalau begitu aku ingin menikah-"Ucap Kanaya sambil mengamati perubahan wajah Arfin yang syok. "Tapi setelah bayi ini lahir."