
Hampir satu bulan Fikri berada dirumah sakit, dan hari ini Fikri di bawa pulang dengan tanpa rasa sakit lagi. Kanaya sudah kehabisan air matanya untuk menangisi kepergian sang adik. Wanita itu mengantarkan kepergian adiknya di tempat peristirahatan terakhir.
Semua yang dia korbankan seperti sia-sia, uang yang dia dapatkan untuk membayar pengobatan Fikri tidak membuahkan hasil. Karena semua sudah digariskan oleh Tuhan.
"Kay, sudah." Sasi memeluk Kanaya dari samping, hanya tinggal mereka berdua yang duduk disamping pusara Fikri.
"Semua yang aku lakukan tidak bisa membuat Fikri bertahan Sas, tidak bisa." Air mata yang sempat berhenti mengalir, kini kembali jatuh.
Kanaya tidak bisa membendung kesedihannya saat kehilangan Fikri untuk selamanya.
"Sabar Kay, Fikri sudah tenang. Dia tidak lagi merasakan sakit." Sasi memeluk Kanaya.
Untuk kedua kali Kanaya merasa duka mendalam kehilangan orang yang dia cintai dan sayangi, ibunya sudah pergi dan sekarang Fikri yang juga ikut meninggalkan dirinya. Memiliki bapak, tapi Kanaya merasa sudah tidak memiliki apapun.
Sedangkan dari kejauhan, Herman menatap lurus kedepan, dimana putranya telah berpulang lebih dulu.
"Ayo kita pulang." Sasi mengajak Kanaya beranjak dari sana.
"Yang tenang disana dek, kakak akan baik-baik saja." Ucapan Kanaya begitu sesak. Hatinya terasa nyeri mengingat bagaimana mereka berdua bertahan hidup.
.
.
.
Sampainya di rumah, Kanaya duduk disofa ruang tamu, setelah Fikri mengembuskan napas terakhir, Kanaya tidak membawa sang adik pulang, melainkan langsung mengurus pemakaman untuk Fikri, karena menurutnya lebih cepat lebih baik. Tetangga sekitar pun tidak ada yang datang, kerena mereka melihat kelurga Kanaya sebelah mata, mengingat bapaknya seorang preman yang suka berjudi. Dan di takuti banyak orang.
"Minum dulu." Sasi memberikan gelas berisi air putih.
"Terima kasih Sas." Kata Kanaya manatap sahabatnya sekilas.
"Hem, lagi pula kita berteman sudah lama. Sudah sepantasnya saling membantu." Sasi tersenyum.
Kanaya membalas senyum Sasi sekilas. Tapi tiba-tiba perutnya terasa mual dan bergejolak.
"Emph." Kanaya menutup mulutnya. "Huek." Kanaya langsung berlari menuju dapur, wanita itu memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kay, kamu kenapa?" Sasi membantu memijat tengkuk Kanaya yang sedang muntah.
Kanaya hanya menggeleng, perutnya seperti di aduk, membuatnya mual.
Kanaya yang lemas dan sedikit pucat, dibantu Sasi duduk kembali di sofa.
"Gak tau Sas, aku sudah telat satu bulan." Katanya dengan lesu.
"Tunggu, aku keluar sebentar." Sasi bergegas pergi menuju apotik, dirinya ingin memastikan jika sahabatnya itu hamil atau tidak.
Sedangkan Kanaya merebahkan kepalanya di bahu sofa, matanya terpejam begitu terasa berat.
Tanganya mengelus perutnya yang rata, apakah dirinya benar-benar hamil?
Jika iya, maka dirinya akan mendapatkan kehidupan kedua dengan hadirnya sang buah hati, Kanaya akan kembali memiliki keluarga di dunia ini untuk selalu membuatnya bertahan.
Memiliki seorang bapak tidak membuatnya merasa memiliki keluarga, tapi bagaimana pun jika tidak ada bapaknya, Kanaya juga tidak ada di dunia ini.
"Kay, coba ini." Sasi tiba-tiba datang menyodorkan benda berbungkus plastik. "Ini aku beli bisa di pakai kapan saja, tidak perlu menunggu bagun tidur." katanya lagi.
Kanaya menerimanya, meksipun sudah yakin dengan hasilnya tapi tidak ada salahnya untuk memastikan.
Sasi menunggu dengan cemas di ruang tengah, wanita itu seperti seorang ibu yang takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Bagaimana?" Tanyanya setelah melihat Kanaya keluar dari dalam kamar mandi.
Kanaya menyodorkan alat berbetuk panjang dan kecil itu. Sasi yang penasaran langsung mengambilnya dan melihat dengan seksama.
"Kay, kamu-" Sasi menatap wajah Kanaya tanpa ekspresi, sedangkan Kanaya hanya tersenyum tipis.
"Aku akan menjadi seorang ibu Sas." Lirihnya dengan bibir bergetar.
Sasi langsung menghamburkan memeluk Kanaya, memeluk erat dengan air mata yang mengalir.
"Sabar Kay, ini anugrah." Kata Sasi dengan penuh haru. "Kita akan besarkan dia bersama." Sasi tersenyum haru menatap wajah Kanaya.
Wanita berusia 32 tahun itu begitu terharu melihat Kanaya yang menerima takdirnya hamil di luar nikah.
"Iya, Sas. Aku akan merawatnya karena dia kelurga ku."
.
.
Semangat Kay💪💪