MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Mengajak menikah



Malam hari Kanaya tidur dengan perasaan gelisah, wanita itu hanya bisa membolak-balikkan tumbuhnya di atas ranjang, melihat jam Kanaya menghela napas. Jam 10 malam tapi dirinya menginginkan sesuatu untuk di makan.


Tidak biasanya Kanaya merasa ngidam seperti ini, rasanya menginginkan sesuatu yang sangat mendesak membuat perasaanya tidak enak.


Dengan terpaksa Kanaya bagun dari tidurnya, wanita itu mengambil jaket yang ada di gantungan lemari. Kanaya mengikat rambutnya asal ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Keluar dari pintu rumah Kanaya tampak ragu, tapi mau bagaimana lagi, dirinya benar-benar ingin.


Membuang rasa gengsi dan egonya, Kanaya berjalan sebelah rumah. Rumah kontrakan Arfin hampir seminggu ini.


"Kenapa begini." Kanaya tampak gusar saat sudah berdiri didepan pintu kontrakan Arfin, wanita itu ragu untuk mengetuk pintu, tapi semakin ditahan rasanya begitu sesak.


Dengan penuh keberanian Kanaya mengetuk pintu kontrakan Arfin, wanita itu mengigit bibirnya dengan resah.


Ketukan pertama tidak menyahut, membuat Kanaya mendengus kesal, tangannya kembali mengetuk dan beberapa saat pintu dibuka dari dalam.


"Nay, ada apa?" Arfin membuka pintu dan mendapatkan Kanaya yang berdiri depannya dengan wajah gelisah. Dan Arfin yang hanya bertelanjang dada hal itu membuat Kanaya gelisah.


Mungkin karena sedang hamil, dan sama sekali tidak pernah melihat apa yang ada didepan matanya.


"Nay.." Arfin melambaikan tangan didepan wajahnya, membuat Kanaya langung tersadar.


"Em, itu. Aku ingin sesuatu." Ucap Kanaya dengan wajah bingung.


"Ingin apa katakan?" Arfin merasa gemas dengan ekspresi wanita didepanya ini, sedikit-sedikit mencuri pandang kearahnya.


"Aku ingin makan-"


Tidak ada rasa canggung lagi di saat Kanaya melihat apa yang dia inginkan didepan mata. Tatapan senang dengan binar bahagia tampak begitu jelas.


"Kamu hanya ingin makan bakso ini." Tanya Arfin yang tidak percaya dengan apa yang Kanaya inginkan.


Melihat Kanaya mengagguk antusias Arfin hanya bisa menghela napas.


"Kenapa harus bakso Nay, aku bahkan bisa membawamu ke restoran bintang lima." Ucap Arfin yang tidak mengerti selera keinginan Kanaya.


Makan bakso dipinggir jalan, penjualnya menggunakan gerobak. Memang ramai tapi Arfin merasa kurang yakin jika untuk Kanaya konsumsi, mengingat Kanaya sedang hamil anaknya, tidak bisa makan sembarangan.


"Aku pengen makan di sini, kalau kamu tidak suka pulang saja." Ucapan Kanaya menjadi ketus mendengar keluhan Arfin.


Wajah wanita itu juga tampak kesal, katanya kalau menginginkan sesuatu boleh memintanya, tapi giliran di minta malah mengomel. Membuat mood Kanaya menjadi buruk.


"Bu-bukan begitu Nay. Aku hanya menyarankan jika kamu mau ke restoran juga aku antar." Arfin memberi jawaban dengan hati-hati agar Kanaya tidak tambah sebal.


Kanaya hanya menatap Arfin sinis, dan tak berselang lama pesanan Kanaya datang, hanya Kanaya karena Arfin sudah makan dan tidak ikut memesan, Arfin hanya memesan teh hangat saja.


"Jangan banyak-banyak sambal, tidak baik untuk wanita hamil." Protes Arfin saat Kanaya ingin menambahkan sambal di mangkuk baksonya, padahal sebelumya Kanaya sudah menaruh satu sendok sambal, gimana Arfin gak protes coba.


Tidak mau mendengarkan ucapan Arfin, Kanaya menambahkan satu sendok sambal lagi yang warnanya merah, Arfin meringis melihat Kanaya mengaduk sambal itu hingga tercampur dengan kuah bakso dan melihat Kanaya memakannya tanpa gangguan.


"Apa begini kalau ibu hamil ngidam." Gumam Arfin dengan wajah ngeri.


.


.


Setelah menuruti permintaan ibu hamil, Arfin membawa Kanaya pulang, wanita itu sudah tertidur di dalam mobil Arfin sejak tadi. Entah mengapa melihat wajah polos Kanaya yang terlelap Arfin begitu senang.


Sampainya di kontrakan Arfin menatap pintu kontrakan Kanaya, dia tahu pasti di dalam saku Kanaya ada kunci. Tapi karena ingin dekat dengan Kanaya Arfin memilih membopong Kanaya masuk kedalam kontrakannya.


"Tidak apa kan kamu disini." Ucapnya sambil menyelimuti tubuh Kanaya di atas ranjangnya.


Arfin tersenyum, tangannya mengelus kepala Kanaya lembut dan tatapannya turun menatap perut buncit Kanaya yang tertutup selimut.


Arfin kembali membuka selimut yang menutupi perut Kanaya, pria itu menyingkapnya hingga perut Kanaya terlihat di balik pakaian Kanaya.


Arfin duduk di sisi ranjang, mengelus perut buncit Kanaya dengan lembut. Ada debaran hangat yang merasuk dalam dirinya, rasa hangat yang membuat dirinya merasa nyaman.


"Baik-baik diperut Mama sayang." Bisiknya diatas permukaan perut Kanaya, Arfin mencium sedikit lama permukaan perut Kanaya dan saat itu juga Arfin merasa bibirnya di tendang.


"Eh, kok." Arfin yang terkejut langsung menarik wajahnya, matanya memerhatikan perut Kanaya yang mengahdirkan gerakan lembat.


Senyum Arfin begitu lebar, dirinya tampak takjub. "Apa kau sedang menujukan aksimu dengan papa hm." Katanya sambil mengelus permukaan perut Kanaya yang masih mengasikan gerakan pelan.


Malam ini Arfin seperti mendapat mainan baru di dalam rumahnya, tidak hentinya pria itu tersenyum bahagia melihat keajaiban bayi di dalam perut Kanaya.


Hingga pergerakan Arfin membuat Kanaya terusik, dan wanita itu mengerjakan matanya untuk membuka mata.


Melihat Kanaya membuka mata, Arfin masih duduk santai di tepi ranjang.


"Kau sudah bangun?" Tanya Arfin dengan senyum yang tak luntur.


Kanaya langung beringsut untuk duduk, wanita itu menatap sekitar, bukan kamarnya.


"Aku tidak tahu kau menaruh kunci dimana, jadi aku bawa kau ke rumahku." Ucap Arfin seperti tahu apa yang ada di pikirkan Kanaya.


"Nay, apa dia seiring bergerak di dalam sana?" Arfin melirik perut Kanaya dengan tatapan matanya.


Kanaya mengikuti tatapan Arfin, reflek dirinya menyentuh perutnya saat tendangan sedikit kuat membuatnya meringis.


"Awas.." Rintihan Kanaya lolos, membuat Arfin tentu saja panik.


"Kenapa Nay?" Pria itu tampak khawatir.


Kanaya mengusap perutnya perlahan, "Dia menendang kuat sekali." Ucap Kanaya pelan tapi bibirnya menyunggingkan senyum.


Kedua mata Arfin berbinar. "Boleh aku menyentuhnya." Ucapan Arfin dengan penuh harap, mekipun tadi sudah tanpa minta ijin dulu.


Melihat tatapan penuh harap Arfin Kanaya mengangguk pelan, Arfin juga berhak merasakan kebahagiaan yang di ciptakan oleh anaknya.


Dengan senyum mengembang Arfin menyentuh perut Kanaya, kali ini dengan ijin sang empu yang memiliki perut.


"Kenapa dia tidak bergerak lagi." Gumam Arfin dengan berharap.


"Mungkin dia sudah tidur." Jawab Kanaya langsung.


Arfin mendongak dan kini kedua wajah mereka begitu dekat. Kanaya yang merasa salah menjawab menjadi gugup, karena Arfin langsung menatapnya.


"Kay, ayo kita menikah. Aku ingin selalu didekat kalian. Menuruti apapun yang ingin kan berusaha menjadi calon papa siaga. Setidaknya kita nikah siri tidak apa, setelah anak kita lahir aku akan menikahi mu secara sah di mata hukum."


Kanaya menelan ludah susah payah, ucapan Arfin benar-benar membuat hatinya tidak tenang.