MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Menjual dan di jual



Setelah itu Kanaya jarang keluar rumah, selain berangkat kerja, dirinya tidak ingin mendengar ucapan tetangganya yang memang tidak menyukainya. Hingga tiba di mana Herman pulang dan Kanaya di paksa untuk ikut dengannya.


"Bapak mau ajak aku kemana?" Kanaya tampak bingung, tidak biasanya bapaknya mengajaknya keluar rumah ataupun hanya sekedar jalan-jalan saja.


"Nanti kamu juga tahu, yang penting kamu nurut saja." Herman mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.


Sedangkan Kanaya yang merasa bapaknya sedikit berubah menyunggingkan senyum tipis. Dirinya senang jika bapaknya mulai perhatian kembali padanya, karena setelah meninggalnya sang ibu, bapaknya menjadi sosok bapak yang Kanaya tidak kenal lagi.


"Loh, kok ke hotel pak?" Kanaya bertanya setelah turun dari motor Herman.


"Bapak akan bertemu teman bapak di salah satu kamar hotel ini, makanya kamu bapak suruh dandan." Ucap Herman sambil menaruh helm yang dia pakai.


"Teman yang mana pak? bapak punya teman orang kaya?" Tanya Kanaya dengan wajah penasaran.


"Sudahlah, kamu jangan banyak bertanya." Herman mengajak Kanaya masuk ke hotel bintang lima yang terkenal di kota.


Kanaya tidak memiliki pikiran negatif dengan bapaknya, dia pikir Herman berkata dengan jujur.


Sampainya di depan pintu kamar yang Herman tau, pria itu membuka pintu dengan kunci yang dia miliki.


"Bapak punya akses masuk kamar ini?" Tanya Kanaya lagi.


"Sudah bapak bilang, ini kamar teman bapak." Kata Herman lagi yang sudah berhasil membuka pintu kamar.


Kanaya mengikuti Herman dari belakang, dirinya bisa melihat fasilitas didalam kamar hotel yang begitu mewah.


"Kamu tunggu disini, nanti teman bapak akan datang." Herman hendak keluar tapi Kanaya mencegahnya.


"Maksud bapak apa? bapak mau kemana?" Kanaya menyentuh lengan Herman.


"Hanya mencari makanan, kamu tunggu saja dia, jika dia datang turuti saja permintaannya." Ucap Herman lagi.


"Maksud bapak turuti apa? bapak tidak macam-macam kan?" Kanaya terus mendesak ketika perasaanya mulai tidak tenang.


"Turuti apapun yang dia minta, karena bapak punya hutang dan kamu sebagai jaminannya."


Petir menyambar begitu hebat dan hujan seketika turun dengan deras. Kanaya berdiri mematung mendengar apa yang Herman katakan.


"Bapak menjual ku."


Herman menyentak tangan Kanaya dan segara pergi, Kanaya tidak lagi mendesak Herman, ternyata bapaknya tidak berubah masih sama seperti dulu, tidak memilki perasaan.


"Aku sudah menjual diriku sendiri, dan sekarang bapak menjual ku juga." Air matanya seketika luruh, Kanaya tidak menyangka jika dirinya memang hidup hanya untuk menjual diri.


"Oh.. Tuhan!!!" Tubuhnya luruh kebawah dengan tangis pilu, Kanaya tidak menyangka jika hidupnya seperti ini.


Menjual kehormatan demi mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit Fikri, dan pengorbanan Kanaya tidak bisa membuat adiknya sehat seperti sedia kala, dirinya kehilangan kedua orang yang dia kasihi, dan sekarang Kanaya harus mengasihi dirinya sendiri yang dijual oleh bapaknya.


Ceklek


Pintu hotel terbuka, Kanaya yang melamun akhirnya menoleh kearah sumber suara. Lampu yang tamaran tidak membuat keduanya mengenali satu sama lain. Kanaya duduk di atas ranjang dengan posisi memeluk kedua kakinya.


Arfin membuka jas yang membalut tubuhnya, Kanaya hanya bisa melihat siluet seseorang yang tengah membuka pakaiannya.


Ehem...


Arfin berdehem. "Kenapa tidak menghidupkan lampu?" Tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita yang duduk di atas ranjang.


Jendela kaca besar yang terbuka, angin malam yang berhembus dengan cuaca hujan diluar sana.


"Sepertinya anak preman itu begitu pemalu." Arfin terkekeh. "Kau tahu, dia mengemis padaku untuk ku berikan uang dengan jaminan putrinya yang masih perawan." Arfin berujar. "Dan sekarang dia benar-benar menepati janjinya memberikan putrinya untuk tidur denganku."


Kanaya tidak bersuara, hanya saja air matanya terus mengalir tanpa henti.


"It's oke, mungkin kau memang pemalu, ingin bercinta dalam kegelapan." Arfin kembali terkekeh.


Kanaya bisa melihat jika pria itu perlahan naik keatas ranjang, dan dirinya sangat mengenali suara pria yang sudah menukar uangnya dengan dirinya. Dan Kanaya semakin berasumsi jika Ano atupun Arfin yang dia kenal adalah pria yang suka menukar uangnya dengan sebuah kesucian seorang gadis. Dan Kanaya cukup kecewa dengan itu. Dia pikir Arfin adalah pria yang bertanggung jawab tapi ternyata Arfin sama saja.