
Malam yang seharusnya menjadi malam yang panjang untuk Alex seperti biasa bersama Sasi, kini menjadi malam yang gelap untuk seorang Alex. Pria itu menghabiskan alkohol beberapa botol hingga membuatnya mabuk parah, hingga sang betander harus memapah atasanya itu menuju kamarnya.
Sepanjang di papah Alex terus merancau tidak jelas, hanya terdengar sesekali Alex menyebut nama Sasi.
Setelah memastikan atasanya terlelap, betander itupun memilih pergi karena pekerjanya sedang menunggu.
"Sasi, kau tidak bisa jauh dariku!" Gurau Alex sebelum tertidur karena mabuk.
Sedangkan wanita Sasi memilih untuk pindah kontrakan, wanita itu tidak memiliki siapapun jadi alasan pulang kampung adalah hanya dia buat-buat.
Rasa sakit hatinya karena perkataan Alex membuat Sasi memilih untuk pergi, wanita itu terlanjur jatuh cinta hingga kini menuai rasa sakitnya sendiri.
Sasi mencoba mencari lowongan pekerjaan lewat online, yang terpenting dirinya bisa bekerja.
Hingga tengah malam Sasi tidak bisa memejamkan matanya, bayangan setiap malam dirinya satu ranjang dengan Alex membuat Sasi hampir gila.
"Ya tuhan!" Sasi frustasi sendiri, dirinya seperti seseorang yang sudah kecanduan dengan apa yang mereka lakukan setiap waktu, jika tidak sedang bersama maka keduanya akan melakukan panggilan video yang selalu berakhir harus membuat Alex melakukan pelepasan. Katakan saja dirinya gila, tapi itulah Sasi yang sudah mencintai seorang Alex. Pria penggila se*ks.
"Ngak, aku harus jauh lebih baik." Sasi mencari obat untuk dirinya, obat tidur agar dirinya bisa melewati malam ini seperti malam-malam sebelumnya.
Dirinya harus bisa berubah, yang di katakan Alex benar, tidak akan orang tua yang rela menikahkan anaknya dengan seorang *******.
.
.
.
Matahari sudah bersinar tinggi, keadaan kamar masih tamaran dengan gorden jendela masih tertutup rapat.
Kanaya menggeliat saat merasakan pegal di tubuhnya, tapi lengan seseorang terasa memeluknya erat.
"Mas." Suara Kanaya terdengar serak, matanya belum sepenuhnya terbuka, tapi aroma khas tubuh Arfin sudah merasuk ke indera penciumannya.
"Sudah siang, tidak bekerja." Kanaya ingin bergerak turun, tapi tangan Arfin tidak melepaskan nya sedikit pun.
"Hm, aku hanya ingin berdua denganmu seharian." Bisiknya dengan nada serak khas bangun tidur.
Kanaya sampai merinding merasakan nafas hangat Arfin yang menerpa telinganya.
"Kata dokter, sering berhubungan di trimester akhir akan membantu jalan lahir bayi." Bisiknya lagi sambil mengelus perut buncit Kanaya.
"Em, tadi malam sudah Mas." Kanaya mengigit bibirnya saat tangan nakal Arfin sudah bergerak kemana-mana.
"Hm, tapi aku ingin melihatmu olah raga pagi."
Grep
"Ahhh, Mas!" Pekik Kanaya saat Arfin membantunya untuk duduk di atas tubuh Arfin.
"Mas." Kanaya menunduk malu, saat posisi seperti ini. Dirinya tidak pede melihat tubuhnya terekspose jelas diatas tubuh Arfin.
"Kita olah raga pagi dulu baby." Arfin mengusap perut Kanaya yang tanpa penghalang apapun, jika pagi bagun tidur, sesuatu di bawah sana juga ikut bangun.
Kanaya mengigit bibirnya, menata wajah suaminya yang menatapnya penuh damba.
Arfin bersandar pada bahu ranjang, keduanya saling berhadapan hingga semakin lama wajah keduanya mendekat dengan bibir yang saling menempel.
"Umm, Mas." Kanaya bergerak gelisah saat Arfin menjelajah gunung kembar yang begitu menggoda.
Sejak menikah, Arfin begitu menggilai tubuh Kanaya, baginya wanita hamil memanglah penggoda yang sesungguhnya.
"Akhh.. Nay."