
Kanaya mulai melakukan aktifitas untuk melancarkan persalinan, wanita itu ingin melakukan persalinan normal meskipun sang suami memintanya untuk melakukan persalinan secara operasi saja. Karena menurut yang Arfin tau, melahirkan normal butuh beberapa waktu untuk merasakan sakit saat menunggu bukaan lengkap, dan Arfin merasa jika melakukan persalinan normal akan membuat Kanaya kesakitan membuat dirinya tidak tega.
Hari ini Arfin bertandang ke Jakarta ada pertemuan dengan Klein membuat pria itu harus meninggalkan Istrinya.
Meskipun hanya sehari rasanya Arfin tidak rela, mengingat kehamilan Kanaya sudah memasuki waktunya.
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya." Arfin mencium kening Kanaya sebelum masuk mobil.
"Iya Mas, ada Susi yang Mas tugaskan untuk menjaga ku." Ucap Kanaya melirik Susi yang baru saja datang.
"Mbak Nay!" Teriak Susi dengan senang.
Arfin hanya tersenyum. "Sengaja biar kamu tidak kesepian." Tangan Arfin menyentuh pipi Kanaya.
"Hati-hati, salam untuk Mama dan papa."
Arfin mengangguk. "Jagan rewel sayang, jaga Mama yah." Bisik Arfin didepan perut buncit Kanaya, bahkan pria itu mencium perut Kanaya tanpa malu dilihat Susi.
"Duh, mata gue panas lihat yang manis-manis." Ucap Susi yang sudah merasa gerah pagi-pagi.
"Aku berangkat." Arfin kembali memeluk Kanaya, mencium pipinya.
"Ish, sudah sana berangkat." Kanaya yang malu mendorong suaminya agar segera masuk ke mobil.
Kanaya melambaikan tangan saat mobil Arfin mulai meninggalkan halaman, wanita itu tersenyum dan menghampiri Susi yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
"Duh mbak Susi jadi pengen nikah." seru Susi.
"Yaudah sih Sus, tinggal nikah kok." Ucap Kanaya santai.
"Tinggal nikah, nikah sama siapa mbak pohon pisang!" Jawab Susi sedikit ngegas.
Kanaya tertawa, hingga suara seseorang yang memanggilnya membuat Kanaya menoleh.
"Sasi!!" Pekik Kanaya tersenyum senang melihat Sasi datang ketempat tunggalnya.
"Nay."
Keduanya berpelukan. "Kok bisa di sini? sama siapa?" Tanya Kanaya menoleh kebelakang tidak ada siapa-siapa.
"Sendiri Nay, memangnya mau sama siapa?" Balas Sasi sambil tersenyum.
"Kirain." Ucap Kanaya sambil tersenyum.
"Susi."
"Sasi."
"Ayo masuk, senang sekali hari ini rame." Kanaya tak henti-hentinya terseyum senang.
Dia pikir akan merasa kesepian saat sang suami pergi, tapi nyatanya dirumah malah ramai dengan kedatangan Sasi dan Susi.
"Suami kamu ke Jakarta?" Tanya Sasi saat keduanya sudah duduk di ruang tamu, Susi menawarkan diri untuk mengambilkan minum.
"Iya, katanya ada ketemu dengan klien."
Sasi hanya mengangguk. Wanita itu menatap Kanaya yang perutnya sudah besar dan Kanaya sendiri sepertinya tampak bahagia.
Sasi membayangkan jika dirinya di posisi Kanaya, pasti akan bahagia punya suami yang begitu perhatian dan menyayanginya.
"Sas, Sasi!" Panggil Kanaya sedikit keras membuat Sasi tersadar.
"Em, iya Nay."
"Kamu kenapa?" Kanaya menatap wajah sahabatnya dengan lekat.
Sasi tersenyum. "Tidak apa Nay, hanya melihat kamu bahagia aku juga bahagia." Ucapnya tidak sepenuhnya berbohong.
Kanaya menggenggam tangan Sasi dan tersenyum. "Aku juga akan bahagia melihat kamu juga bahagia." Ucap Kanaya dengan tulus.
Sasi tersenyum haru. "Terima kasih Nay."
Ketiganya banyak melakukan kegiatan bersama, seperti memasakan bergosip dan saling bercengkrama, hingga saat Kanaya tiba-tiba merasakan perutnya yang kram dan sakit.
"Akhh..!" Kanaya menyentuh perut bagian bawah, wanita itu mengaduh dan membuat Sasi panik.
"Nay, kamu kenapa Nay? apa sudah waktunya melahirkan." Tanya Sasi panik.
"Mbak Nay, aku panggil ambulans." Susi pun segera memanggil ambulans saat melihat Kanaya kesakitan.
"Sakit Sas, arrghh."
Sasi membulatkan kedua matanya saat melihat kaki Kanaya mengalir darah.
"Nay!!"