MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Kau Cemburu?



Hari ini Arfin mengajak Kanaya untuk pindah, dirinya tidak betah tinggal ditempat kecil seperti kontrakan yang dia tempati, apalagi Arfin juga butuh privasi dari tetangga sekitar. Dirinya tidak leluasa untuk melakukan apapun. Ingin enak-enak saja merasa sungkan kalau-kalau suara merdu tengah malam terdengar oleh tetangga, karena jarak mereka hanya terhalang dengan tembok. Jadi sudah pasti jika dirinya minta jatah suara merdunya akan menjadi khayalan kalayak ramai.


"Apa tidak bisa kita tinggal disini saja." Ucap Kanaya yang masih enggan untuk meninggalkan kontrakan.


"Kita butuh privasi Nay, disini aku merasa tidak leluasa." Ucap Arfin.


Kanaya berpikir jika Arfin tidak bisa tinggal di tempat sederhana seperti ini, karena memang pria itu dari keluarga kaya.


Sedangkan arti leluasa Arfin jauh berbeda dengan apa yang di pikirkan Kanaya.


"Jika kamu bosan kamu bisa main ke sini, kontrakan ini sudah aku bayar selama satu tahun. Jadi tidak masalah jika kamu mau datang." Ucapan Arfin membuat Kanaya menghela napas, untuk apa keluar uang jika tidak di manfaatkan, aneh.


Keduanya meninggalkan kontrakan, Arfin membawa Kanaya ke resort miliknya. Mereka akan tinggal disana, karena Arfin sendiri bekerja mengelola resort orang tuanya.


Selain resort, Arfin juga masih aktif untuk membangun usahanya sendiri, diam-diam pria itu mendirikan sebuah restoran di beberapa cabang tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk papanya.


Baginya usaha orang tuanya tidak bisa dia miliki seutuhnya, mengingat dirinya masih memiliki adik. Dan Arfin memilih untuk mengelola sampai Arfan siap menggantikannya.


Sampainya di resort, Arfin membantu membawakan koper Kanaya, pria itu juga menggenggam tangan Kanaya. Seperti takut jika Istrinya itu akan kabur lagi.


"Pagi Mas." Sapa pelayan yang selalu standby di resort.


"Tolong ambilkan koper di mobil dan bawa ke penginapan saya." Ucap Arfin menyuruh wanita yang usianya tidak jauh dari nya.


"Baik Mas." Wanita itu melakukan apa yang Arfin suruh, sebelum pergi wanita itu melirik wanita yang di bawa atasanya itu, yang dalam keadaan hamil.


Kanaya sendiri merasa risih ditatap seperti itu, meksipun hanya sebentar.


"Nah, ini tempat tinggal kita." Arfin membuka pintu penginapan yang tidak di kunci.


"Kamu bisa menambahkan apa yang kurang, karena disini aku hanya numpang tidur." Ucap Arfin sambil melepaskan kemeja yang dia pakai.


Kanaya melirik sekilas dan berlalu untuk melihat isi di dalamnya.


"Kenapa di dapur hanya ada lemari pendingin." Ucap Kanaya ketika sudah kembali ke ruang tengah, di mana Arfin duduk sambil bertelanjang dada.


Bahkan semalaman pria itu tidur dengan bertelanjang dada, membuat Kanaya susah tidur.


"Aku tidak suka masak, mau makan tinggal suruh Mila antar kemari." Jawabnya santai.


Mendengar nama wanita di sebut membuat Kanaya memicingkan matanya. Mila? Mila siapa itu. Pikirnya dalam hati.


Tak lama pintu diketuk dari luar, Arfin pun berdiri hendak membuka pintu.


"Pasti itu Mila, mengantar koper." Ucap Arfin yang berjalan mendekati pintu.


Kanaya membulatkan matanya melihat penampilan suaminya yang akan bertemu dengan wanita lain.


"Stop Mas!! jangan di buka!" Teriak Kanaya saat Arfin sudah memegang handel pintu.


Arfin menoleh kebelakang dan melihat Kanaya yang tergesa-gesa mendekatinya.


"Jalanya pelan-pelan, kamu hamil Nay." Ucap Arfin yang ngeri melihat cara jalan Kanaya.


"Pakai baju dulu jika ingin keluar atau bertemu dengan tamu." Ucap Kanaya ketus.


Sedangkan Arfin masih diam mencerna ucapan istrinya itu. Hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyum cerah.


"Kau cemburu!"


.


.


Slow update mau tamat 😁