MBA (Married By Accident)

MBA (Married By Accident)
Berkumpul



Sampainya di penginapan, Arfin mencari Istrinya, pria itu jadi takut jika Herman akan melakukan hal macam-macam pada istrinya.


"Sayang kamu dimana?" Arfin mencari ke kamar tapi tidak ada, pria itupun akhirnya mencari di tempat lain.


"Kanaya!" Panggilnya lagi saat belum melihat Kanaya.


"Ada apa mas, teriak-teriak." Kanaya muncul dari belakang dengan tangan sedikit kotor oleh tanah.


"Kamu sedang apa?" Tanya Arfin balik.


"Aku lagi tanem bunga, ada apa teriak-teriak."


Arfin menghela napas, pria itu sepetinya lega. "Aku pikir kamu kemana." Arfin memeluk Kanaya dan mencium keningnya.


"Memangnya aku mau kemana, disini saja susah m membuat ku betah." Balasnya setelah Arfin mengendurkan pelukannya.


"Ngak tahu, pokoknya kalau aku pulang kamu harus ada di rumah." Ucapnya lagi.


Kanaya terseyum. "Mama sudah sampai mana?" Tanya Kanaya mengingat mertuanya akan datang, tadi juga Sasi sudah membalas pesannya jika dirinya juga akan datang, demi ingin bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama menghilang.


"Sebentar lagi mungkin sampai, memangnya kenapa?" Arfin merangkul bahu Kanaya, mengajaknya untuk mencuci tangan.


"Aku Udah buat makanan banyak, dan aku juga mengundang teman ku untuk datang." Ucap Kanaya dengan senyum.


Arfin mengerutkan keningnya menatap Kanaya dengan intens. "Memangnya kamu punya teman?" Tanya Arfin.


"Nanti kamu juga tahu." Kanaya tersenyum manis, sambil berlalu masuk ke dalam kamar.


Arfin pun tersenyum smirk melihat tingkah istrinya, tiba-tiba otak mesyum nya bekerja.


Masuk kedalam kamar, Arfin hanya melihat pakaian Kanaya yang tergeletak di lantai, dan suara gemericik air mengalir di dalam kamar mandi.


Arfin pun dengan tergesa melepaskan pakaiannya, pulang lebih awal ternyata tidak membuatnya rugi.


Arfin melihat Kanaya yang berdiri dibawah air shower, di mana ada ruang kaca transparan yang menyekat bagian shower.


Dengan senyum penuh minat, Arfin melihat tubuh molek Kanaya dari belakang.


Hingga miliknya yang tidak bisa di ajak kompromi sudah ingin menyentuh hangatnya lembah surgawi.


"Siapa yang menggoda, kamu saja yang gampang tergoda." Balas Kanaya sambil menyentuh tangan Arfin mengusap-usap perutnya dengan gerakan memutar.


Rasanya begitu nyaman, dan menenangkan.


Dengan kecupan kecil dibagian pundak hingga leher yang Arfin lakukan membuat Kanaya memejamkan mata. Hormonnya saat hamil besar justru membuatnya selalu ingin merasakan sentuhan suaminya.


Melihat mangsanya sudah terlena, Arfin membalikkan tubuh Kanaya dan langsung mencium bibir yang sudah menjadi candunya, air yang mengalir tidak menyurutkan aktifitas keduanya yang semakin panas.


Hingga olahraga sore pun mereka habiskan didalam kamar mandi.


.


.


.


Ruang tamu yang tidak seberapa besar itu kini menjadi ramai.


Kelurga berkumpul hanya karena Arfin sedang berulang tahun, sedangkan orangnya sendiri pun lupa, mengingat pertemuan dengan mertuanya tadi cukup menguras emosi dan tenaganya.


"Terima kasih sayang." Arfin mencium kening Kanaya setelah meniup lilin.


Pria itu terharu dengan apa yang dirinya dapatkan. Istri yang baik, serta calon anaknya yang sebentar lagi akan hadir, Arfin sungguh bahagia.


Sasi pun ikut hadir, wanita itu tersenyum bahagia melihat Kanaya yang sekarang hidup jauh lebih baik, apalagi ada pria yang bertanggung jawab, membuat Sasi benar-benar terharu.


"Sasi, giliran kamu. Kapan menikah?" Tanya Olive.


Sasi hanya tersenyum kaku. "Nanti Tante jika sudah bertemu jodoh." Jawabnya dengan santai.


Kanaya hanya geleng kepala, sepertinya Sasi temannya itu akan sulit untuk menikah.


"Carikan saja di jodoh Mah." Celetuk Kanaya.


Dan mereka semua hanya tertawa, tapi tidak dengan satu orang yang sedang duduk bersama Arfin dan papa Ando.