
"Ahh boleh, Mama punya teman anaknya belum menikah juga." Jawab Olive dengan senyum ceria.
"Nah, di coba Sas. Kayak kencan buta gitu." Timpal Kanaya yang bersemangat.
Sedangkan para pria hanya diam menyimak apa yang wanita bicarakan.
"Boleh deh kalau memang orangnya juga mau, asalkan menerima aku apa adanya yang bukan speak bidadari ini." Jawab Sasi ringan.
"Wah, asik kalau sudah begini. Nanti Tante kabarin deh, temen Tante udah pengen liat anaknya nikah."
Ketiganya tertawa, mereka begitu seru membicarakan apa saja yang mereka mau.
"Hey, kenapa kau menatapnya begitu? apa kalian ada something?"
Arfin menepuk pundak Alex membuat pria itu berdecak kesal.
"Rese!" Balas Alex yang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Dih, ngambek. Kayak perempuan pms Lo." Balas Arfin.
Ando hanya geleng kepala, dirinya lebih memikirkan apa yang Arfin katakan tadi. Herman kembali dan mengusik rumah tangga anaknya, dan Ando tidak akan diam.
Setelah acara kumpul yang sangat hangat dan seru, kini Sasi harus pamit pada Kanaya. Kedua wanita itu saling berpelukan.
"Sering-seringlah main Sas." Ucap Kanaya.
"Tentu, apalagi sebentar lagi keponakan ku launching."
Sasi mengusap perut Kanaya lembut.
"Di princess." Bisik Kanaya.
Sasi semakin melebarkan senyumnya, "Pasti sangat cantik seperti kamu." ucap nya dengan senyum lebar.
Mereka pun berpisah dengan Sasi yang datang bersama Alex, pulang pun kembali dengan pria itu.
Di dalam mobil keduanya tidak ada yang saling bicara, Sasi sibuk menatap jalan lewat kaca jendela mobil.
Sedangkan Alex fokus menyetir tapi tidak dengan pikirannya yang tidak fokus.
Sasi berdehem dan pandanganya lurus kedepan.
"Hm, tidak ada salahnya mencoba peruntungan perjodohan." Jawab Sasi.
Alex tersenyum sinis. "Memangnya ada orang tua yang menjodohkan anaknya dengan mantan pel*acur".
Sasi langsung menatap Alex yang hanya berwajah datar, Sasi menelan ludah susah, hatinya tiba-tiba nyeri mendengar perkataan Alex. Padahal pria itu yang sudah menerima keperawanannya.
Sasi memilih membuang wajah, tidak menjawab ucapan Alex yang cukup menyakiti hatinya.
"Aku pikir otak mu bekerja dengan baik, jika kau melakukan hal konyol itu. Maka aku akan membuka aib mu sendiri. Jadi itu sih terserah kamu."
Sasi hanya diam, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja. Tega sekali Alex bicara seperti itu. Padahal dirinya juga yang menikmati tubuhnya tanpa mau di manjakan dengan yang lain.
.
.
Setelah mereka pamit, kini Ando dan Olive memilih untuk menginap di hotel resort, mereka ingin menikmati liburan di resort sendiri seperti pengunjung yang lain.
"Mama dan papa, aneh-aneh saja." Kanaya geleng kepala, dirinya berjalan masuk sedangkan Arfin mengunci pintu dan mengikuti langkah Kanaya.
"Mereka juga butuh me time sayang, seperti kita ini." Arfin memeluk Kanaya dari belakang mencium pucuk kepala dan leher.
"Mas, jangan mulai." Kanaya menggeliat saat Arfin menyerang lehernya.
"Aku mau hadiahku dari kamu." Bisik Arfin dengan napas yang sudah memburu.
Aroma kulit Kanaya selalu bisa membangkitkan hormon di tubuhnya, meskipun tadi sore sudah ngecas, tetap saja rasanya masih kurang.
"Umm, kado apa."
Arfin tidak menjawab, melainkan mengangkat tubuh Kanaya dan langsung membawanya masuk kedalam kamar.
Arfin langsung membaringkan tubuh Kanaya di ranjang, bibirnya sudah bergerilya di bibir Kanaya, bibir Kanaya sudah seperti lolipop apalagi ketika bibirnya menemukan sumber kehidupan yang begitu menggoda, membuatnya membuat Arfin seperti anak bayi yang menyusu begitu kuat.
"Ahh Mas, jagan kuat-kuat." Kanaya sudah seperti cacing kepanasan saat Arfin sudah menyentuh area sensitifnya, wanita itu hanya bisa pasrah dan mendesaah saat tubuh keduanya saling menyatu berbagi kehangatan dan kenikmatan dunia.