
Akibat candaan Mars yang keterlaluan. Berakhirlah sekarang ia tidur di ruang tamu. Bukan karena tak memiliki kamar tamu. Tapi karena semua kuncinya telah di sita Venus.
Poor Mars.
Venus benar-benar kesal dengan candaan Mars. Bisa-bisanya Mars bercanda tentang kehamilan. Tapi apa yang di ucapkan Mars benar.
Venus keluar kamar dengan tergesa. Ia ingin mengambil sesuatu. Venus tak menghiraukan panggilan Mars di belakangnya.
"Sayang maaffff yah. Aku bercanda loh tadi,"
"Bercanda apaan gitu. Sana ihh, kamu bau," lagi-lagi Venus mengusir Mars.
"Sayangggg aku udah mandi lho tadi,"
"Kamu bau Massss ihh. Malesin banget," mata Venus sudah memerah. Sebentar lagi akan menumpahkan air mata buaya. Canda buaya.
"Eh eh jangan nangis. Iya-iya aku jauh-jauh," Mars sudah mengambil jarak, sekitar satu meter setengah.
"Radius dua meter. Kalo lewat aku pukul kamu," ancam Venus.
'Malang banget nasib gue. Bercanda doang lho tadi hiksðŸ˜' batin Mars.
Venus kembali lewat di depan Mars sehabis dari dapur. Mengambil air ternyata. Mata Venus melayangkan tatapan sangat tajam.
"Sayang ini Mas beneran tidur di luar?"
"Iya!"
"Kok tega?"
"Kamu gilaa. Sana tidur di sofa,"
"Aku nggak bisa bobok kalo nggak meluk kamu sayang ku, cintaku, lope-lope ku" bujuk Mars.
"Hilihh boong banget. Dulu tidur sama siapa sebelum sama aku emang nya? Kamu tidur sama cewe lain?" tuduh Venus.
"Astaghfirullah sayang mana mungkin ihh. Dahlah nggak lagi-lagi aku ngomong gitu ke kamu" Mars langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Dengan posisi menghadap ke sandaran sofa.
Venus menatap acuh Mars yang ikutan ngambek.
"Bodo amat" ujar Venus lalu kembali masuk ke kamarnya.
...***...
Matanya buram, kepala pusing dan perut seolah-olah sedang di acak-acak. Venus berjalan perlahan ke wastafel dan kembali muntah. Berhenti sejenak karena merasa kepalanya kembali pusing. Ruangan seakan-akan berputar. Tak lama kemudian Venus jatuh pingsan di depan wastafel.
Sedangkan di ruang tamu, Mars sudah terbangun saat merasa perasaan nya tak nyaman. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya. (Semacam ikatan batin lah yaa)
Mars berjalan tergesa ke kamarnya. Namun tak ada Venus di dalam. Seketika rasa panik timbul.
"Yang?" panggil Mars.
"Sayang? Jangan becanda," Mars menatap sekeliling, namun tak ada Venus. Ya iyalah orang Venus lagi di kamar mandi.
Setelah berkeliling kamar dan ruang ganti, Mars tetap tak menemukan venus. Satu-satunya ruangan dalam kamar hanyalah kamar mandi.
"Ya Allah semoga ada di sana,"
Mars terkejut melihat Venus sudah terkapar di depan wastafel. Dengan segera Mars mengangkat tubuh Venus dan membawanya ke kasur.
"Datang ke rumah gue sekarang juga," tanpa melihat waktu, Mars dengan tanpa rasa iba menelpon dokter pribadinya.
"Ya Allah sayang kamu kenapa?" mata Mars berkaca-kaca memandang Venus.
Tak lama kemudian, dokter pribadinya datang.
"Ekhem jadi gini," dokter dengan tampilan yang berantakan menatap Mars lekat.
"Apa hah!" geram Mars, di saat genting seperti ini Faldo a.k.a dokter pribadi Mars masih sempat menatap lekat padanya.
"Istri Lo nggak kenapa-napa---"
"Pala Lo nggak kenapa-napa. Dia pingsan di kamar mandi tadi. Percuma dokter Lo!" marah Mars.
"Gue belum selesai ngomong egee. Dengerin dulu napa sih. Istri Lo emang nggak kenapa-napa, ini hal yang biasa untuk wanita hamil. Dia pingsan karena kurang cairan. Mungkin sebelum dia pingsan, istri loh ini udah sering bolak balik muntah," jelas Faldo.
Mars tercengo mendengar penjelasan Faldo.
"Jadi intinya apa?"
"Lo kok bo'doh banget sih Mars? Lo itu udah mau jadi bapak!" marah Faldo.
"What?!"