Mars Vs Venus

Mars Vs Venus
MARS VS VENUS 044



"Kamu cantik sekali sayang" Suara itu membuat Venus merinding.


'Astaghfirullah suaranya bikin merinding' batin Venus.


"Ck" Lelaki itu berdecak pelan karena Venus tak berbalik menghadapnya. 'Seandainya sekarang nggak lagi acara udah gue cium nih Venus' batin lelaki itu.


"Berbalik sayang. Apa kamu nggak rindu aku?" dengan gerakan ragu Venus membalikkan badannya.


Deg...


Mata membulat sempurna dan mulut yang sedikit terbuka. Itu lah raut wajah Venus sekarang. Tak terasa air mata sudah menganak sungai di pelupuk mata Venus.


"Aku rindu kamu" ucap Mars sembari memeluk tubuh mungil Venus. Ya lelaki itu adalah Mars. Mars Putra Bagaskara, lelaki yang selalu hadir di pikiran Venus.


Air mata Venus menetes dengan serempak menandakan ia sedang tak bahagia juga tak sedih. Apa yang harus ia lakukan sekarang pun ia tak tau.


Sekelebat bayangan dua hari belakangan kembali di pikiran Venus. "Lepas!" Venus memberontak di dalam pelukan Mars.


"Lepaskan saya" Venus kembali memberontak tak lupa juga bahasa formal yang di gunakan Venus.


"Nggak. Aku nggak akan lepasin kamu lagi Ve. Udah cukup tiga tahun ini aku tersiksa karena jauh dari kamu" ucap Mars.


"Hiks hiks lepas Mars. Lepas. Kita nggak akan bersatu Mars takdir nggak berpihak pada kita" Venus tak memperdulikan dia sedang dimana. Terserah dengan para tamu undangan yang menatap heran mereka berdua.


"Siapa yang bilang Ve?"


"Aku! aku yang bilang. Itu semua karena keadaan Mars. Nyatanya kamu akan nikah kan hari ini?" ujar Venus setelah terlepas dari pelukan Mars.


"Nikah? sama siapa?" Mars mengelak.


"Stela! Hari ini. Di ballroom hotel ini"jelas Venus.


"Aku yakin kamu nggak baca undangannya kan?" tanya Mars.


"Buat apa aku baca? Buat bikin sakit hati iya?" ucap Venus dengan mata yang masih berair.


"Ikut aku" Mars menarik tangan Venus.


"Nggak"


"Ikut aku Ve please" Mars menatap Venus dengan tatapan memohon.


"Nggak mau" Tolak Venus yang sengaja membuang muka saat melihat tatapan Mars.


"Ikut aku atau aku cium bibir kamu disini hmm?" satu ancaman lolos dari bibir Mars.


Lagi-lagi ia harus teringat masa lalu bersama Mars. Dimana saat Mars mulai mengancam dan tak di turuti maka ia akan benar-benar melakukan hal yang tak di duga. Mencium Venus salah satunya.


Dengan senyum menyeringai Mars menarik tangan Venus menjauh dari tempat mereka tadi.


Disinilah mereka berada. Kamar yang sudah di hias dengan sedemikian rupa. Dapat di tebak kalau ini adalah kamar pengantin.


'Kamar pengantin? Apa maksud Mars ngajak aku kesini? Mau pamer kalau disini dia dan Stela akan malam pertama? Cih menjijikkan' batin Venus.


"Tunggu disini sebentar" ucap Mars sebelum meninggalkan Venus di dalam kamar pengantin itu.


'Hiks dasar kurang ajar. Pasti dia lagi nyari Stela. Pasti dia mau pamer kemesraan di sini. Hiks kenapa pake nangis lagi sih. Dasar mata lebay" Venus membatin sambil mengusap-usap matanya lebaynya.


Tak lama kemudian masuk lah beberapa perempuan dengan kotak besar di tangannya.


"Dengan mbak Venus Arleta Queenzeela?" Tanya salah satu dari mereka.


"Iya saya sendiri" jawab Venus. Sendiri? iya kan dia lagi duduk sendiri disini. Mars sudah meninggalkan nya tadi.


"Mohon untuk ikut kami kesini mbak Venus" ujar salah satu dari mereka lagi. Menunjuk ke arah meja rias yang ada di kamar.


Venus yang bingung hanya menurut saja. Toh dia sudah letih meratapi nasib. Ehh nggak ada hubungannya sama sekali yaa.


"Saya mau di apain ya mbak?" tanya Venus yang sedari tadi diam saja.


Bagaimana tidak bertanya, perempuan-perempuan ini meriasnya sedemikian rupa. Venus ingin melihat apa yang di buat oleh para perempuan ini di wajahnya. Tapi disini tak ada kaca.


"Kami sedang merias mbak Venus" jawabnya.


'Kalo itu aku juga tau dodol' umpat Venus.


"Silahkan mbak gaunnya di pakai"


"Bagus banget gaunnya" bisik Venus pelan.


Tanpa pikir panjang Venus segera memakai gaun itu. Ckckck dia nggak tau aja apa yang bakal terjadi nanti.


...***...


Tbc


Bye-bye next chapter 😗