
"Murahan banget yaa ternyata!" Venus menatap remeh ke arah Stela yang berusaha menggandeng lengan Mars.
"Kamu ngomongin aku?!" pekik Stela tak terima.
"Ck. Perasaan gue ngga ngomong sama lo, kok emosi? ngerasa Lo!" Venus menarik tangan Meteor untuk pergi dari sana.
Mars menatap sendu Venus dan Meteor. Hatinya sakit, ingin ia marah dan memukul Meteor saat itu juga. Tapi sekarang ia harus sadar posisi yang hanya sebatas mantan. Tolong garis bawahi MANTAN!
"Kamu liat Mars dia kasar banget sama aku! seharusnya kamu belain aku dong!" kesal Stela melihat Mars yang masih menatap punggung Venus dan Meteor yang sudah menghilang di karidor.
"Lebay banget lo"
"Arghhh liat aja Mars kamu bakal jadi milik aku. Dan kamu Venus, aku akan ambil semua yang kamu punya" Stela menghentakkan kakinya. Sangat-sangat kesal dengan perlakuan Mars dan melihat Venus yang sudah mendapatkan pengganti Mars.
Skip.
Mars pergi ke cafe tempat Ara bekerja. Ia sengaja menemui Ara, karena selain Abrol hanya Ara-lah yang nyambung saat ia ajak bicara.
"Ehh mas Mars datang" sapa salah satu pegawai cafe.
"Kak Lintang ada?"
"Ada mas, pak Lintang sedang ada di ruangannya" saut pegawai tersebut.
"Tolong panggilkan Ara ya, suruh dia ke ruangan kak Lintang" suruh Mars.
"Baik mas"
Sesampainya di ruangan Lintang, mars melihat Lintang sedang mencium Ara.
'Anj'ir ternyata di sini Ara' batin Mars.
Lima menit berlalu masih saja Lintang tak melepaskan Ara. Mars dapat melihat kalau Ara menolak di awal namun tetap hanyut dalam suasananya.
Mars menahan tawanya saat melihat wajah Ara yang memerah seperti kehabisan nafas. Bodohnya Lintang masih tak melepaskan Ara.
"Ekhemm sabar ya Ra! kasian banget kakak gue, pasti baru pertama kali ciuman sampe ngga ngasih izin lo buat nafas. Ckck insyaf lah wahai anak muda" cerocos Mars.
"10 menit yang lalu maybe" santai Mars.
"WHAT!" Ara spontan berdiri mendengar ucapan Mars.
Mars tertawa mengejek "Santai aja Ra" Mars menggeser Lintang dan duduk di tempat Ara tadi.
"Ra aku mau curhat" raut wajah Mars berubah sendu.
"Ck! ganggu aja lo. Tau gini gue kunci tuh pintu" kekesalan Lintang tak di hiraukan. Ara sekarang sedang mendengarkan curhatan Mars yang panjang.
Lintang berdecak kesal "Gue yang punya pacar malah gue yang di kacang! Anji'ng si emang"
Mars terus bercerita tentang hubungan bersama Venus dan perjodohan nya dengan Stela.
"Jadi menurut kamu aku harus gimana Ra? Satu sisi aku sayang sama nyokap dan di sisi lain aku cinta sama Venus. Kalau aku pilih nyokap otomatis Venus tersakiti, begitu juga sebaliknya. Kalau aku milih Venus, aku bisa di cap anak durhaka." raut wajah Mars sangat menyiratkan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Ara terdiam sebentar lalu berucap. "Mars percaya jodoh, rejeki dan maut itu di tangan Tuhan kan? So Mars jalani aja dulu, biarin semua seperti air yang mengalir. Rara yakin Mars bisa ngelewatin semua ini" Rara menepuk pundak Mars pelan, seakan menyalurkan semangatnya.
Lintang menarik pergelangan tangan Rara pelan, setelah merasa Mars sudah selesai dengan sesi curhatnya.
"Udah selesai kan? sekarang lo keluar sono!" Lintang mengusir Mars.
"Dih setan, dulu Rara-nya gue Lo sakitin, Lo dua'in ehh taunya sekarang jadi bucin" sindir Mars. Ia selalu mengingat perlakuan buruk lintang pada Rara dulu.
"Ehh setan Rara-nya gue, Rara-nya gue. Enak aja Lo, Rara tu cuma punya gue. Kejora Amelsya Gianda cuma punya gue. Lintang Utara Bagaskara ingat itu!" marah Lintang.
Mars hanya memutar mata malas. Semenjak sadar Lintang memang sangat posesif dan pencemburu pada Rara. Mungkin efek Rara yang dulu pernah meninggalkan nya.
"Bodo lah. Gue pulang dulu. Ra aku pulang dulu yaa" Mars menyempatkan diri untuk mengusap pelan rambut Rara, mengundang kemarahan Lintang.
"Ehh anji'ng jan pegang-pegang cewe gue!"
...***...
Ika tuh pengen banget bikin konflik nya yang berat. Tapi Ika belum berpengalaman 😭 suka heran sama diri sendiri yang ngga bisa buat konflik yang menarik🧟 dah lah pusing Ika mah🙃