
..."Melupakan bukan hal yang mudah untuk kamu yang telah lama bersama. Tapi tak ada yang tak mungkin. Bisa saja saat ini kamu belum melupakannya, tapi kita tak tau kondisi kedepannya. Berjuang meski tanpa-nya, karna hidup tak selalu berjalan di tempat. Tapi harus ada kemajuan"...
...~...
...~...
...~...
...*Venus Arleta Queenzeela*...
Sepulangnya dari kampus Venus hanya berdiam diri. Sengaja tak melihat isi undangan pemberian Stela. Karena menurutnya undangan itu akan semakin menambah luka hatinya.
Bukan tanpa alasan Venus tak mau membuka undangan cantik tersebut. Venus hanya mewanti-wanti agar tidak merasa tersakiti. Ia bimbang datang atau tidak nanti di acara pernikahan itu.
"Hiks sakit" Venus memukul pelan dadanya.
Venus POV on
Sakit hati. Dua kata yang selalu hadir di hari-hari ku. Tiga tahun telah berlalu tanpa-nya. Semua tampak baik-baik saja. Tapi tidak dengan kenyataan nya.
Memang aku tak menampakkan kesedihan ini, tapi bukan berarti aku tak tersakiti. Dia pergi tanpa kabar, dan datang dengan sebuah kartu undangan. Memang bukan dia yang memberikan tapi namanya tertera di sana sebagai pengantin lelaki.
Jangan kalian pikir aku tak pernah berusaha untuk melupakan. Namun sekuat apapun aku berjuang untuk melupakan, tetap saja bayang-bayang itu tak mudah hilang.
Aku menatap kearah undangan yang terletak di atas meja. Undangan cantik, hampir mirip dengan desain impianku.
Aku melamun, lamunan kosong tepatnya. Hingga tiba-tiba dering telepon membuyarkan lamunanku.
Nomor tidak dikenal. Siapa? apa penipuan. Tak aku pedulikan hingga deringnya mati. Tak lama kemudian dering yang sama berbunyi.
"Iss nggak tau apa kalau aku lagi galau!" sentak ku kesal dengan dering itu. Lagi-lagi nomor tidak dikenal.
"Halo" ujar ku masih sedikit kesal.
Tak ada jawaban. "Ini siapa yaa?" tanyaku.
Masih tak ada jawaban. "Kalo tidak berkepentingan saya tutup!" cetus ku lagi.
"Ja-jangan" akhirnya ada jawaban dari sebrang.
"Siapa?"
"Ini Stela Ve" ohh Stela. Kenapa tadi diam aja dasar pelakor, ehh?.
"Kenapa Stel?" tanyaku dengan nada suara sedikit lembut.
"Datang yaa, acara aku besok. Please" untuk apa sih dia memohon-mohon seperti ini. Heran deh.
"Emm aku nggak bisa janji Stel"
"Aku mohon Ve. Kali ini aja yah" ini anak kok maksa banget sih.
"Ya udah, kapan?" aku memukul pelan bibirku. Bisa-bisanya aku nanya kapan, kan Stela udah ngasih undangan.
"Kan udah aku kasih undangan Ve"
"Belom aku baca"
"Emm oke deh. Aku usahain yaa. Insha Allah nggak janji"
"Yey aku tunggu pokoknya" girang sekali dia.
Haruskah aku menangis lagi? jujur aku sudah lelah menangisi dia. Sungguh sesuatu yang tak ada guna. Kamu kuat Ve, jadi kamu harus datang besok. Harus pokoknya harus. Buktikan pada mereka kalau kamu tak lagi mengharapkan dia yang sudah menjadi milik orang lain. Hidup tak selalu diatas dan tak juga selalu dibawah.
Venus POV end
Dua hari kemudian
Venus telah membulatkan tekad-nya untuk datang ke acara Stela. Venus sudah tampil cantik dengan make-up natural dan dress hitam selutut.
"Kamu yakin mau datang ke sana Ve?" tanya Naina.
"Yakin lah emang kenapa?" saut Venus tegar, ahh bukan pura-pura tegar sebenarnya.
"Nangis Ve kalau itu bisa buat kamu lega" tawar Naina.
"Nggak ahh ntar riasan aku luntur lagi gara-gara nangis" tolak Venus dengan kekehan kecil di akhir kalimat.
"Dihh make-up nya waterproof mon maap" sindir Naina.
"Ohh iya lupa" Naina terkekeh geli melihat Venus. Meski sebenarnya Venus tak sedang baik-baik saja, tapi dia hebat menyembunyikan lukanya.
...***...
Suasana di ballroom hotel mewah sangat ramai. Pasti butuh budget besar untuk ini semua pikir Venus.
"Rame banget, tau gini aku ajak Naina tadi" Venus merasa risih sebab sejak ia menginjakkan kaki di ballroom hotel ini, ia tak lepas dari godaan para lelaki. Dari yang muda sampai yang sudah punya cucu dua, maybe.
"Sendiri aja cantik?" tanya seorang lelaki tampan di samping Venus. Namun tak di hiraukan nya.
"Aku temani mau?" tawar lelaki itu. "Aku juga nggak bawa pasangan nih" ujar nya lagi.
'Dasar lelaki buaya' batin Venus.
"Dia bersama saya" tiba-tiba ada suara bass seorang lelaki berdiri di belakang Venus.
"Jadi anda silahkan cari pasangan lain. Dia tunangan saya!" usir lelaki itu pada lelaki tampan di depan Venus.
Akhirnya lelaki itu pergi dengan decakan kesal.
"Lain kali ajak aku kalau ada acara di tempat yang ramai seperti ini sayang" Venus merinding mendengar bisikan lelaki itu. Sebab lelaki itu berbisik tepat di telinga Venus. Lalu ia menghembuskan nafas di leher Venus.
"Kamu cantik sekali sayang"
...***...
Tbc
Akhirnya setelah sekian lama Ika bisa double up lagi. Karena bentar lagi Ika mau mid semester jadi yahh nggak tau kapan bisa up lagi. Moga aja besok bisa yaaa.
See you next chapter 😗