
"Mars mau apa sih ngikutin Ve terus!" cetus seorang gadis kecil bernama Venus Arleta Queenzeela. Gadis manis nan cantik yang selalu di ganggu oleh seorang anak lelaki tampan.
"Emang ngga boleh Mars main sama Ve?" tanya anak lelaki tampan itu. Mars Putra Bagaskara namanya, anak lelaki yang sangat suka mengganggu dan membuat rusuh saat didekat Venus.
"Ve ngga suka deket-deket sama Mars. Mars udah rebut perhatian bundanya Ve. Ve benci Mars!" teriak Venus pada Mars.
"Perhatian apa sih Ve? Mars ngga pernah ngerebut apapun kok" ujar Mars sambil mencoba menggenggam tangan Venus.
"POKOKNYA JANGAN DEKET-DEKET VE LAGI! VE BENCI MARS! MARS UDAH AMBIL SEMUA YANG VE PUNYA VE BENCI MARS!" Venus berteriak dan menepis kasar tangan kecil Mars. "INGAT YAA MARS. SAMPE KAPANPUN VE NGGA BAKAL MAU MAIN SAMA MARS. MARS JAHAT! PERGI DARI SINI" Lanjut Venus dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Ve ngga boleh kasar sama Mars" ujar seorang wanita paruh baya sambil memeluk badan kecil Mars.
"Liatkan! liat Mars. bunda bela Mars bukan Ve hiks hiks" tangis Venus pecah saat melihat bundanya membela orang yang dibencinya. Lalu berlari meninggalkan sang bunda dan musuhnya.
Sepuluh tahun berlalu.
SMA DERMAGA.
"Lo apa-apaan sih Mars!" marah Venus.
"Apa lagi sih Ve?" Mars menaikan sebelah alisnya melihat Venus tiba-tiba marah padanya.
Mars dan Venus tak pernah menghiraukan dimana pun dan kapanpun mereka bertengkar. Bahkan semua anak SMA Dermaga mulai yang dari kelas 10 hingga 12 sudah paham betul akan sikap Mars dan Venus yang tak pernah akur dari awal masuk sekolah, bahkan ada yang sudah kenal mereka sejak SMP. Dan memang kenyataannya Mars dan Venus tak pernah berhenti bertengkar. Mereka tidak ada yang tau apa masalahnya. Hanya Mars dan Venus lah yang tau.
"Ini apa hah!" Venus membuang kertas tepat di atas meja depan Mars.
"Ohh ini" Mars tersenyum sambil mengambil kertas tersebut. "Emang salah kalo gue ikut daftar? Lo takut kalah?" remeh Mars.
"Gue?" Venus menunjuk dirinya sendiri. "Hah gue gak bakal kalah dari lo!" Venus mendorong sebelah bahu Mars lalu beranjak pergi dari hadapan Mars.
Namun saat sudah menjauh dari hadapan Mars. Venus berbalik dan menatap remeh ke arah Mars. Mars sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu pertaruhan yang di buat oleh Venus pada dirinya.
"Ayo kita taruhan" tegas Venus.
"Dosa" tepat sekali apa yang dipikirkan oleh Mars. Lalu Mars beranjak pergi. Karena sebenarnya Mars tidak suka bertaruh dengan Venus.
"Ck ternyata seorang Mars Putra Bagaskara takut di kalahkan oleh Venus Arleta Queenzeela. Hah ngga nyangka gue. LEMAH!" Venus meremehkan Mars.
"Mau lo apa sih Ve? ngga capek lo ngerusuh sama gue? gue aja capek Ve!" ucap Mars lembut.
"Ngga mau apa-apa kok. Dan gue ngga bakal pernah capek cari rusuh sama lo. Karna gue ngga suka sama sikap lo!" celetuk Venus. "Kalo lo ngga mau terima taruhan dari gue. BERARTI LO LEMAH, GAK GUNA" ucap Venus sambil menunjuk-nunjuk dada Mars dan menekan kata-kata terakhirnya.
"Oke serah lo" malas Mars.
"Kalo gue menang lo harus nurut sama gue selamanya" ucap Venus.
"Kalo gue yang menang?" tanya Mars.
"Lo boleh suruh-suruh gue, atau apalah" ucap Venus sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Gue ngga pernah tega nyuruh-nyuruh lo" balas Mars santai.
"Jadi lo terima kan?" Venus mulai mengeluarkan senyum manisnya yang mengerikan bagi sebagian orang.
Mars mulai menimang perkataan Venus. Mars paham betul sikap Venus, sekali dia berkata A maka tetap A. Setelah berpikir panjang Mars menemukan jawabannya.
"Oke! kalo gue yang menang lo harus jadi pacar gue" ucap Mars santai.
"Oke deal?" Venus mengulurkan tangannya pertanda persetujuan akan taruhan yang di buatnya. Venus tak pernah berpikir dua kali kalau masalah Mars.
"Deal!" sahut Mars.
Setelah mereka menyetujui taruhan itu Venus langsung berlalu meninggalkan Mars yang masih setia di tempatnya. Memandang kepergian Venus.
'Sampai kapan sih Ve? apa lo ngga capek? gue aja capek gini terus' batin Mars. 'Oke kalo ini yang buat Lo seneng akan gue turuti Ve. Gue selalu ikutin maunya lo' gumam Mars dalam hatinya.
~
~
~
~
Oke segini dulu see you next part 😙