Mars Vs Venus

Mars Vs Venus
MARS VS VENUS 024



Dua hari telah berlalu. Mars benar-benar menepati ucapan nya yang tidak akan menemui Venus. Galau, bosan, dan suntuk itu yang di rasakan Venus saat ini sampai beberapa hari kedepan.


"Arghhh bosan banget gueeee, mo ngapain yaa?" Venus menjatuhkan badan di atas ranjang berwarna biru muda. "Mars ogeb masa ngga mau nge-hubungin gue, kan gue bisa jadi penyemangat diaaa" Venus duduk dan mengacak-acak rambutnya sendiri. "Bosennn"


Bosan adalah satu hal yang paling tidak di sukai Venus. Kenapa tidak? ya karena saat bosan Venus tak akan tau mau ngelakuin apa. Di karenakan otaknya langsung nge-blank. Contoh nya sekarang, padahal masih banyak kegiatan yang bisa ia lakukan tapi yang ada di otak cantiknya hanya Mars seorang.


(Dah lah orang yang bucin mah otak nya udah beda )


Oke back to story'.


Sedangkan di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama. Mars sedang mengerjakan contoh soal. Namun terganggu dengan kedatangan kucing kesayangan yang di beri nama Pluto. Akhirnya fokus Mars pun terpecah seketika.


"Yee si Pluto lo emang yaa ganggu aja dah kek Venus yang ganggu hari-hari gue" Mars memangku Pluto dengan gemas.



"Jangan ganggu dulu yaa Pluto gue mau belajar dulu. Jadi lo main di tempat lain aja dulu yaa" ucap Mars sembari melepaskan Pluto dari pangkuannya.


Setelah melepaskan Pluto, Mars segera melanjutkan kegiatannya kembali dengan serius. Karena rencananya ia ingin segera menyelesaikan kegiatannya sesegera mungkin, agar bisa bertemu Venus malam nanti.


Sudah dua hari ia tak bertemu Venus. Ia tak tenang, bukan karena ia takut oleh olimpiade yang akan segera terlaksana. Tapi ia tak tenang karena mengingat Venus yang dekat dengan seorang lelaki, yang ternyata salah satu mahasiswa universitas Dermaga. Itu artinya lelaki itu bisa saja sering datang ke sekolah mereka dengan berbagai alasan.


...-----------------------...


Detik terus berlalu, tak terasa hari sudah memasuki jam enam sore. Mars segera membereskan meja belajarnya dan membersihkan diri di kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian Mars keluar dari kamar mandi. Rambut basah menyisakan beberapa tetesan air di dahi, dan handuk kecil yang terkalung di leher nya menambah kesan seksi pada diri Mars. Mars berjalan menuju cermin besar di dalam ruang gantinya. Lalu ia menyeringai lebar sambil menyibakkan rambut basahnya kebelakang.


"Ahh... ngga nyangka gue, Kao ternyata gue ganteng juga. Pantes aja sih banyak cewe yang suka sama gue" ujar Mars sambil terus menyeringai. Namun seringaiannya redup saat mengingat ia sudah beberapa hari ini tak menemui Venus.


...-------------------...


Tiga Hari Kemudian.


Mars kembali ke sekolah dengan menenteng piala. Ya... Mars lagi-lagi memenangkan olimpiade antar sekolah ini. Setelah bertemu kepala sekolah dan guru pembimbing nya. Mars segera melangkahkan kakinya menuju kelas. Niat hati ingin melepas rindu pada Venus, tapi nyatanya hari ini Venus tak masuk.


Mars pun menghampiri Naina, gadis yang paling dekat dengan Venus selama SMA ini. "Nai.. Venus mana?" tanya Mars pada Naina.


Naina mendengus " Buat apa lo nanya-nanya Venus hah!" ketus Naina dengan wajah memerah.


Mars mengerutkan dahinya tak mengerti, kenapa Naina marah padanya. "Gue nanya baik-baik yaa Nai. Tinggal jawab aja apa susah nya ha?" sentak Mars.


Naina berdiri dan mengebrak meja. Brak... "Heh! masih peduli Lo sama Venus hah?" Naina membentak Mars.


"Lo kenapa sih ngga jelas" merasa kesal dengan sikap Naina yang tiba-tiba marah, Mars pun ingin beranjak pergi.


Namun ucapan Naina langsung menohok hatinya. "Kalo lo lebih peduli sama olimpiade Lo dari pada Venus. lebih baik lo putusin dia. Dia ngga bahagia sama lo"


"Maksud lo apa ha?" Mars bertanya dengan membentak Naina. "Selama ini Venus baik-baik aja kok. Dia bahagia sama gue" ujar Mars.


"Yakin lo? Bukannya lo egois yaa? seminggu tanpa kabar dengan alasan persiapan olimpiade sekolah" Naina bertepuk tangan dua kali lalu melanjutkan perkataannya "Kemaren bukannya lo lagi jalan yaa sama Kejora? Jujur aja sih ngga papa santai aja Venus mah"


Mars terdiam, ia memikirkan apa benar kemarin ia pergi bersama Kejora?


"Masa sih kemaren gue jalan sama Rara? perasaan ngga deh" batin Mars.