
“Aku tahu. Jangan terlalu keras padanya, Kovf. Dia gadis yang baik,” kata Misty kemudian.
“Aku hanya khawatir,” desah Kovf.
“Percayalah padanya. Semua akan baik-baik saja. Kita sudah menemukan tujuan kita. Tidak ada yang perlu dirisaukan,” kata Misty meyakinkan.
“Kau selalu berhasil membujukku, Mist,” kata Kovf tersenyum.
“Sejujurnya, itu karena kau memiliki hati yang lembut,” sahut Misty balas tersenyum.
“Baiklah. Aku akan mengijinkan Shira kembali ke Isidis,” kata Kovf kemudian.
“Terimakasih Kovf. Kalau begitu aku harus kembali bekerja. Sore ini aku akan ke Agathadaemon,” kata Misty kemudian.
“Apa? Itu terlalu berbahaya, kau tidak harus…”
“Tenanglah, Yang Mulia. Aku akan baik-baik saja,” potong Misty sambil membungkuk memberi hormat. Gadis itu tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” kata Misty berpamitan.
“Berhati-hatilah,” kata Kovf kemudian.
Menjelang senja, Misty telah menyelesaikan urusannya dengan berkas-berkas kasus yang harus dipelajari dan ditanganinya. Ia kemudian bersiap pergi ke Agathadaemon bersama sejumlah prajuritnya. Valles Marineris terletak jauh di sebelah barat perbatasan Martian. Setelah menempuh perjalanan udara melewati Terra Arabia – distrik terbarat Martian – Misty dan beberapa anak buahnya mengitari dataran luar Martian. Rumah jamur sudah tak terlihat lagi. Sejauh mata memandang, hanya hamparan tanah gersang kecoklatan yang terlihat. Setelah perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Misty melihat retakan lembah yang sangat panjang. Iya yakin itulah jalan masuk ke Agathadaemon.
“Kita sudah sampai di Valles Marineris,” kata Misty kepada anak buahnya.
Rombongan itu segera terbang mendekat. Sebuah lembah yang sangat gelap menyambut kedatangan mereka. Lembah itu sangat dalam hingga tak terlihat dimana dasarnya. Perlahan-lahan misty dan anak buahnya terbang ke dalam lembah itu menuju kedalaman tak terkira. Lampu-lampu redup dari scarab yang mereka tunggangi menjadi satu-satunya penerangan mereka. Kesunyian yang aneh melingkupi mereka dan membuat perasaan menjadi tak nyaman. Atmosfer di dalam lembah itu sama sekali berbeda dengan di Borealis. Hembusan angin kadang terasa bagai bisikan gaib yang menyimpan banyak misteri.
Akhirnya setelah terbang cukup dalam, Misty melihat sebuah bangunan besar memanjang yang tampak tak terawat. Di sekeliling bangunan itu terdapat tabir manna transparan yang berfungsi untuk mengurung para narapidana agar tak dapat bebas keluar. Satu-satunya cara untuk melewati tabirmanna tersebut ialah dengan sebuah alat pendeteksi khusus yang hanya dimiliki anggota Prajurit Pelindung Martian. Oleh karena itu, Misty dan anak buahnya dapat dengan mudah melewati tabir manna tersebut dan memarkirkan scarab mereka di atap bangunan tersebut.
Dengan menggunakan tongkat cahaya yang dibawa oleh masing-masing orang sebagai penerangan, mereka pun memasuki penjara Agathadaemon dengan hati-hati. Cahaya remang yang dikeluarkan oleh tongkat-tongkat cahaya mereka memperlihatkan kondisi penjara yang sangat memprihatinkan. Debu menempel di segala tempat, dan bau tak sedap memenuhi udara di dalam penjara. Suara bisikan dan desisan sesekali terdengar dari berbagai arah, menebarkan nuansa mistis yg tak nyaman. Misty dan anak buahnya menyusuri lorong demi lorong yang gelap. Dari balik kegelapan terlihat beberapa kilatan cahaya yang memandangi mereka dalam diam. Satu dua gerakan tak lazim juga tertangkap oleh sudut mata Misty. Misty berusaha acuh meskipun dalam hati ia benar-benar tegang.
Akhirnya setelah melalui ratusan anak tangga ke bawah, mereka pun sampai di ruangan yang terdalam dan tergelap di penjara itu. Sebuah pintu besi berlapis baja dengan ornamen sihir di depannya menyambut mereka. Misty mengambil sebuah anak kunci kecil yang tampak lusuh dan penuh karat, lalu memasukkan ke lubang yang berada tepat di tengah ornamen sihir tersebut. Begitu bunyi klik pelan terdengar, ornamen sihir tersebut pelahan-lahan bergerak lembut membentuk sebuah lingkaran. Selang beberapa menit, pintu besi tersebut sirna dan menampakkan sebuah ruang tanpa jendela dan tanpa cahaya sedikitpun. Misty dan anak buahnya masuk ke dalam ruangan itu dengan waspada.
“Selamat datang,” kata sebuah suara dengan nada ramah yang dibuat-buat.
“Balder Wade,” sahut Misty mendekatkan tongkat cahayanya ke tengah ruangan.
“Wah, wah… Komandan Martian sampai harus repot-repot kemari,” kata Balder Wade yang ternyata tangan dan kaki-nya terikat oleh rantai baja yang direntangkan ke empat penjuru ruangan.
“Apa yang kau lakukan pada prajuritku?” tanya Misty.
“Hm? Tidak ada,” jawab Balder.
“Aku benar-benar tidak tahu. Mereka baik-baik saja saat meninggalkanku. Mungkin kau perlu bertanya pada orang-orang di atas sana. Penjahat di sini bukan hanya aku,” kata Balder lalu diikuti dengan tawa sadis yang mengerikan.
Misty terdiam sejenak. Dia menatap lurus ke arah wajab Balder yang tampak mengerikan di bawah cahaya tongkat yang remang. Balder balas menatap Misty dengan tatapan keji dan senyuman licik di wajahnya.
“Apa yang terjadi saat kau ada di Bumi?” tanya Misty kemudian.
“Haruskah aku menjawabnya? Itu bukan hal yang khusus, maksudku, aku tiba di Bumi, tergigit gaian lalu berubah menjadi seperti mereka,” jawab Balder ringan.
“Mengapa kau bersembunyi di sumur tua dan bertingkah seolah-olah masih menjadi manusia?” tanya Misty lagi.
“Yah… sebenarnya aku hanya sedikit takut untuk bergabung dengankaumku,” jawab Balder. Misty mendengus keras.
“Seorang yang baru berubah menjadi gaian seharusnya tidak punya kesadaran semacam itu,” sanggah Misty tajam.
“Menurutku, kau tidak lebih tahu dari aku,” pancing Balder. Misty hanya menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
“Bagaimana caramu mengendalikan gaian lain?” tanya Misty akhirnya.
“Kau benar-benar ingin tahu? Sebenarnya aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Aku hanya bisa menunjukkannya kepadamu. Kau harus melihatnya sendiri,” jawab Balder.
“Apa maksudmu?”
“Ada semacam microchip yang menempel di belakang kepalaku. Microchip itu mirip dengan yang digunakan di Martian. Tapi ini sedikit berbeda. Aku mengembangkannya sendiri sehingga dapat digunakan untuk mempengaruhi orang-orang yang kuinginkan,” jawab Balder.
“Jangan bercanda. Tidak ada microchip yang dapat mempengaruhi orang lain,” sahut Misty mendelik.
“Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku. Tapi harap kau tahu, aku seorang alkemis. Ilmuan. Aku bukan penyihir seperti kakakku. Atau ahli pedang sepertimu. Kau pikir kau lebih tahu dariku?” tantang Balder.
Misty terdiam sejenak sambil menatap Balder penuh kecurigaan.
“Kalau kau tak percaya, kau bisa buktikan sendiri. Lihat di belakang kepalaku, dan ambillah sebuah microchip kecil yang ada di atas tengkukku. Aku yakin kau akan terkejut,” tantang Balder.
Selama beberapa saat Misty tampak ragu. Tapi kemudian gadis itu berjalan mendekat ke arah Balder untuk memastikan kata-katanya. Namun, saat Misty berada di belakang Balder, tiba-tiba ada seseorang lain yang menyambarnya dan menariknya ke dalam kegelapan.
Dengan panik Misty meronta dan berusaha mengalahkan orang yang menyeretnya, namun ternyata yang dihadapinya tidak hanya satu orang melainkan dua! Salah satu dari mereka telah menggigit bahunya dan membuat Misty berteriak begitu keras. Tak lama kemudian kesadarannya mulai menghilang.
Ia masih mendengar suara anak buahnya yang memanggil-manggil namanya dengan panik, juga suara Balder Wade yang tertawa begitu puas. Tubuh Misty rasanya seperti terbakar. Telingannya mulai berdengung dan rasa pusing luar biasa menyerang kepalanya. Mendadak ia teringat ramuan yang diberikan Mick kepadanya.
Dengan segera ia meminum ramuan itu dan membuat sensasi dingin merasuk ke dalam tubuhnya hingga tulangnya terasa sangat ngilu. Detik berikutnya, Misty pun kehilangan kesadaran.
...***...
...~END~...