
Jembatan itu berlapis emas dengan batu mulia aneka warna menghiasi seluruh bagiannya. Setiap sisi pegangannya berornamen sulur yang meliuk-liuk cantik bagaikan ranting keemasan yang berkilau ditimpa cahaya. Batu-batu mulia yang bertaburan sepanjang ornamen itu bak bunga warna-warni yang turut berkilau memamerkan keindahan. Aliran sungai yang biru terang di bawah jembatan itu seakan menyempurnakan pemandangan tersebut.
“Jadi inikah jembatan Borealis itu? Ternyata aslinya memang lebih indah,” kata Mick yang selama ini hanya melihat jembatan itu melalui foto.
“Aku bahkan baru tahu kalau di sini ada jembatan,” kata Lamia masih terpukau.
“Sepertinya kita harus menepi sekarang. Lihat itu kapal Melight yang digunakan Misty,” kata Mick menunjuk kapal besar dengan bentuk seperti ikan raksasa bertubuh panjang. Kapal itu sepenuhnya tertutup besi dan hanya ada dua jendela kaca kecil di bagian depan menyerupai mata.
“Bagaimana mereka naik ke atas sana?” tanya Lamia memperkirakan undakan yang paling rendah kurang lebih seratus meter di atas mereka.
“Ada tangga di samping kapal,” kata Mick.
Sebuah batu landai menjorok di kaki tebing. Di sebelahnya terdapat tangga batu spiral menuju ke atas.
“Ayo menepi,” ajak Mick.
Lamia mengela nafas tak sabar.
“Mick, kendaraan ini bisa terbang. Kurasa lebih baik kita langsung ke atas,” kata Lamia sembari menyiapkan mode terbang Seabreachernya.
“Astaga, perjalanan air ini membuatku lupa segalanya,” kata Mick menepuk keningnya sendiri. Lamia hanya tertawa kecil. Sudah lama ia tak melihat Mick begini linglung.
Tak lama kemudian Seabreacher yang ditunggangi Lamia dan Mick terangkat dari air dan melesat ke atas menuju kota Borealis diikuti lima Seabreacher lainnya. Mereka melihat Misty dan beberapa orang lain melambai di atas salah satu bangunan dan Lamia pun mengarahkan Seabreachernya untuk mendarat di sana. Seabreacher lainnya pun mengikutinya.
“Kalian sudah sampai,” sambut Misty begitu semua turun dari Seabreacher.
“Maaf sedikit lama,” kata Mick.
“Aku tak menyangka kalian datang melalui Sungai Phillias,” sambung Daniel yang juga sudah menunggu kedatangan mereka.
“Angin dingin dari Planum Boreum terlalu berbahaya bagi Seabreacher kecil ini. Karena itu Lamia dan Mick mengusulkan jalur air yang kami lalui,” jelas Kovf yang mengendarai Seabreacher bersama Lao Fen.
“Apakah kita akan segera masuk? Salem sedikit tidak enak badan,” kata Shira menggandeng Salem yang tampak pucat.
“Tentu saja. Ayo kita segera masuk,” jawab Misty.
Misty mengantar mereka masuk ke dalam bangunan yang ternyata sebuah penginapan. Belasan kamar berjajar melingkar di bangunan oval tersebut. Di tengahnya terdapat meja resepsionis yang bersebelahan dengan lift.
“Mick kau baik-baik saja? Kau tampak pucat,” tanya Misty khawatir.
“Dia mabuk kendaraan. Setelah istirahat sebentar dia pasti membaik.” jawab Lamia buru-buru.
“Iya, aku baik-baik saja. Tak perlu khawatir,” kata Mick tersenyum.
“Kalau begitu ini kunci kamar kalian. Sebaiknya kalian segera beristirahat,” kata Misty menyerahkan dua plat besi berornamen abstrak.
“Satu kamar saja untuk kami berdua,” kata Lamia mengambil satu kunci dari tangan Misty.
“Aku melakukan ini karena bila virus tetrodoksin dalam tubuhku mulai bermasalah seperti tempo hari, kau yang tahu bagaimana mengatasinya,” kata Lamia berdalih.
“Ya… yaaa… Aku mengerti,” jawab Mick tersenyum lebar.
“Baiklah, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan sebelum kalian pergi,” kata Misty sebelum rombongan itu berpencar ke kamar masing-masing. Kemudian Misty mengajak mereka semua ke sudut ruangan, jauh dari jangkauan dengar resepsionis tadi.
“Pertama, Lamia, jangan perkenalkan dirimu sebagai Lamia Linkheart. Maaf, Lamia, aku bukannya tidak percaya padamu, aku hanya khawatir statusmu sebagai buronan akan menimbulkan sedikit masalah,” tambah Misty cepat-cepat. Lamia mengangguk dalam diam tanda setuju.
“Lalu, pemimpin para pandai besi ini bernama Kokabura Knot. Dia tinggal di seberang jembatan. Sebaiknya, Kovf, kau segera menemuinya setelah ini. Dia ingin menemuimu sebagai pemimpin Cydonia,” lanjut Misty.
“Baiklah. Kebetulan aku juga mengharapkan bantuannya untuk mengolah batu Ephestus yang kita bawa,” balas Kovf menyanggupi.
“Boleh aku ikut denganmu, Kovf?” tanya Lao Fen.
“Tentu saja. Kau memang harus ikut denganku,” jawab Kovf.
“Baiklah. Kurasa itu saja yang perlu kukatakan,” kata Misty kemudian. “Selamat beristirahat,” tutupnya.
Lamia dan Mick segera memasuki kamar mereka. Mick segera merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, sementara Lamia melucuti senjata yang menempel di tubuhnya.
“Astaga, Mia, di depan banyak orang bisa-bisanya kau minta satu kamar dengan laki-laki,” goda Mick tersenyum jahil.
Serta merta wajah Lamia memerah. Ia bahkan menjatuhkan salah satu pistolnya karena gugup.
“Sudah kubilang aku melakukannya untuk mengantisipasi bila keadaanku berubah seperti ketika kita berada di Cydonia beberapa waktu yang lalu. Aku tidak mau berubah menjadi gaian. Dan bila hal itu terjadi kau... mungkin bisa membantuku,” kata Lamia membuang muka.
“Tetap saja sebagai perempuan tindakanmu itu terlalu berani,” lanjut Mick terus menggoda Lamia.
“Berhentilah menggodaku Mick! Kalau kau tidak suka pergilah ke luar dan minta satu kamar lagi! Ah! Ini membuatku gila!” sembur Lamia yang menyarungkan kembali senjatanya lalu berjalan keluar kamar.
“Mia... hei, Mia... tunggu! Maaf aku bercanda! Sebenarnya aku senang kau melakukan hal ini. Hey, kau mau kemana?” seru Mick buru-buru mengikuti Lamia.
Tapi Lamia terus berjalan dan memilih tak mempedulikan Mick.
...***...
Malam hampir menjelang. Lamia dan Mick memilih berjalan-jalan di jembatan besar yang mereka lihat saat datang tadi menggunakan kendaraan semacam Flashwing yang mereka sewa dari penginapan.
Kata Misty, di waktu malam, jembatan itu akan dihiasi oleh ratusan lampu berwana-warni yang indah sekali. Bahkan sepanjang perjanan melewati jembatan itu orang-orang akan dihibur dengan alunan musik yang entah bagaimana dirancang sedemikian rupa untuk dapat mengalun di seluruh bagian jembatan. Mungkin hal inilah yang membuat warga Lembah Borealis memiliki kebiasaan yang unik. Mereka suka sekali menghabiskan malam dengan berjalan-jalan melintasi jembatan yang panjangnya mungkin mencapai beberapa puluh kilometer tersebut.
Setelah Lamia mengamati, memang tidak banyak kendaraan terbang yang lalu lalang di atas kota. Hanya satu dua buah terlihat datang dan pergi. Itu pun hanya kendaraan besar yang mengangkut bahan tambang untuk diolah yang datang dua kali sehari pada jam-jam yang telah ditentukan. Bahkan seseorang yang akan pergi ke rumah lain di kota yang sama memilih menggunakan kendaraan semacam Flashwing yang berjalan di atas tanah.
Mungkin angin besar di luar lembah itu yang membuat orang-orang di tempat ini mengesampingkan kendaraan terbang dan memilih untuk memaksimalkan transportasi darat.
Angin dingin Planum Boreum memang bertiup sepanjang tahun. Bahkan di musim dingin yang berkepanjangan, sering terjadi hujan es yang membuat warga kota kewalahan. Meski begitu, secara garis besar, kota ini cukup nyaman ditinggali meski udara memang sedikit lebih dingin daripada tempat lain di Martian.