
“Tidak mudah menambang sesuatu yang kuat. Semakin dalam benda itu terkubur, semakin kuatlah dia, karena melalui proses yang sangat lama,” terang Ament angkat bicara. Mick mengangguk-angguk paham.
Tak terasa malam pun berganti pagi. Bahkan Mick sekalipun tak bisa tidur dengan nyenyak malam itu. Ia hanya bergerak-gerak gelisah dan tak nyaman dengan apapun yang ia lakukan. Sementara Lamia meski memiliki tubuh setengah gaian tetap merasa begitu kelelahan. Keduanya sudah kehilangan selera untuk bicara ketika akhirnya Kovf dan Lao Fen muncul ke permukaan.
“Kapan kalian sampai di sini?” tanya Kovf begitu melihat mereka.
“Semalam,” jawab Lamia lemah.
“Lebih baik tidak perlu memaksakan diri. Kalian tampak seperti orang yang nyaris sekarat,” balas Kovf.
“Aku tak menyangka sebesar ini kekuatan Cydonia,” jawab Lamia.
“Begitulah. Aku pun sudah hampir mencapai batasku. Namun kami belum menemukan apapun selain tanah dan bebatuan di dalam sana. Jadi apa yang membuat kalian kemari? Kudengar kalian berhasil di Syrtis Major Planum dan Isidis Planatia.”
“Itulah kenapa kami kemari. Hanya soal waktu sampai pemerintah akan menyadari pergerakan kita. Kita tak punya banyak waktu lagi untuk memulai rencana selanjutnya atau pemerintahlah yang akan menyerbu kemari.”
“Aku tahu. Berdoa sajalah semua ini segera berakhir.”
“Sebentar lagi. Aku melihat cahaya putih berkilau akan segera muncul di sini,” kata Lao Fen tiba-tiba.
“Benarkah?” tanya Lamia kemudian.
“Benar. Lao Fen mendapat penglihatan itu dua hari yang lalu,” jelas Kovf.
“Tapi aku pun melihat cahaya itu membawa kehancuran,” lanjut Lao Fen.
“Kuharap bagian itu tak pernah terjadi,” kata Kovf tampak khawatir.
“Kehancuran?” tanya Lamia memastikan.
Lao Fen mengangguk dalam diam.
“Tak heran. Sesuatu yang memiliki kekuatan terlalu besar tentu bisa membawa kehancuran,” komentar Mick terbangun dari tidurnya.
“Apa yang kau lihat Lao Fen? Kehancuran seperti apa?” tanya Lamia lagi.
“Cahaya yang sangat menyilaukan dan orang-orang yang diterpa oleh cahaya itu terbakar hingga terkelupas kulit-kulitnya. Api ada di mana-mana dan...” mendadak Lao Fen terdiam. Ia tampak khusyuk merenung dan mulutnya bergerak-gerak seakan mengucapkan sesuatu tanpa bersuara.
“Lao Fen? Kau baik-baik saja?” tanya Lamia.
“Aku baru saja mendapat penglihatan lagi. Namun kali ini berbeda dari sebelumnya.” kata Lao Fen kemudian.
“Apakah tidak ada kehancuran?” tanya Kovf sedikit berharap.
“Bukan. Aku masih melihat kehancuran itu. Tapi aku juga melihat Lamia berdiri di depan kita dan mengeluarkan burung elang besar yang bersinar dari pistolnya. Benda itu terbang berputar-putar mengelilingi cahaya putih itu dan mengancurkannya,” kata Lao Fen menjelaskan penglihatannya.
“Aku? Burung elang? Bagaimana mungkin? Aku tak pernah mengeluarkan burung apapun dari pistolku. Aku bahkan belum pernah melihat burung seumur hidupku. Aku hanya melihat mereka dari gambar,” komentar Lamia bingung.
“Mungkin memang kedatanganmu kemari sudah ditakdirkan,” sahut Kovf pada Lamia.
“Kalau begitu aku akan menunggu di sini sampai kalian menemukan benda yang kita cari. Mick kau kembalilah ke Utopia Planatia,” kata Lamia.
“Tidak. Aku akan tetap bersamamu,” jawab Mick.
Lamia menghela nafas pelan dan mulai menyerah membujuk Mick.
“Kami akan pergi keluar gerbang untuk mencari udara segar. Kalian mau ikut atau tetap di sini,” tanya Kovf kemudian.
“Aku masih cukup kuat untuk berada di sini, Kovf. Pergilah,” jawab Lamia.
Kovf, Lao Fen dan beberapa orang yang baru naik ke permukaan beranjak meninggalkan Lamia dan Mick.
“Percayalah pada kekuatanmu, Lamia. Kau adalah jiwa dari senjatamu,” bisik Lao Fen sebelum benar-benar meninggalkan mereka.
Lamia tidak begitu memahami maksud Lao Fen. Namun gadis itu tak lagi bertanya-tanya. Bahkan pikirannya telalu lelah untuk merasa kebingungan.
...***...
Hari berganti malam dan belum ada tanda-tanda penemuan apapun dari penggalian tersebut. Kovf kembali masuk ke dalam lubang bersama Lao Fen dan beberapa orang lain. Entah mengapa malam itu terasa lebih tenang dibanding biasanya. Ketenangan yang ganjil itu membuat Lamia menggigil aneh. Udara seakan berhenti bergerak. Tak ada suara apapun di sekitar mereka. Bahkan langit tampak kosong. Seperti lorong gelap yang mengangasiap menelan siapapun yang menatapnya.
Hati Lamia gelisah sedari tadi.Mungkin akibat kekuatan aneh ini, pikir Lamia berusaha tak peduli dengan suasana hatinya. Lamia menoleh menatap Mick yang masih terjaga. Tampaknya pemuda itupun tengah larut dalam pikirannya sendiri. Mendadak Lamia menyadari telinganya mulai berdengung pelan. Rasa nyeri perlahan menyerang kepalanya, makin lama makin kuat.
Dengungan di telinganya pun semakin keras hingga ia tak tahan lagi. Lamia mencoba menutup kedua telinganya dengan tangan. Sia-sia. Alih-alih berhenti, dengungan itu semakin keras hingga menyerupai lengkingan panjang yang memekakan telinga. Sakit kepalanya pun semakin menjadi-jadi hingga Lamia tak tahan lagi. Ia sudah setengah sadar ketika tubuhnya mulai berguling di tanah. Detik berikutnya Lamia mengerang keras memecah keheningan.
Mick dan orang-orang di tempat itu melonjak kaget menyadari kondisi Lamia. Dengan sigap, Mick meraih tubuh Lamia dan berusaha menenangkannya. Salem dan Ament yang ada di tempat itu pun turut membantu. Namun semua usaha itu percuma. Bahkan teriakan-teriakan Mick memanggil Lamia tak lagi dapat didengar oleh gadis itu. Dalam kepalanya kini hanya terngiang suara asing yang begitu dingin dan kejam.
“Pergi... Utopia Planatia... Bunuh! Bunuh semuanya!!” seru suara dalam kepala Lamia.
Lamia berontak sambil berteriak kesetanan. Tubuhnya bergerak sendiri untuk mengikuti perintah dalam kepalanya. Dengan dibantu oleh beberapa orang, Mick terus menahan Lamia untuk tetap berada di tempat itu. Mick berusaha memiting dan memukul Lamia, berharap gadis itu pingsan. Namun sedikitpun Lamia tak dapat ditumbangkan. Semakin keras usaha orang-orang untuk menghentikannya, semakin besar kekuatan Lamia untuk melepaskan diri. Beberapa orang tampak kewalahan dan terlempar ke segala arah karena kibasan kuat gadis itu. Pergulatan tersebut berlangsung selama beberapa menit sampai akhirnya salah satu enchanter berhasil mengikat Lamia dengan ikatan etherdan membuat gadis itu tak lagi banyak bergerak.
“Apa yang terjadi?” tanya Salem tersenggal kelelahan.
Mick menggeleng pelan tak mengerti. Ia masih mengawasi Lamia yang menggeram beringas sembari mendelik mengerikan.
Apakah antidoksin dalam tubuhnya melemah? Apa akhirnya Lamia dikuasai virus itu? Tanya Mick dalam hati. Ketakutan dan kecemasan mulai merasuki perasaan Mick. Ia tidak ingin kehilangan Lamia, terlebih dengan cara seperti ini.
“Gadis itu berbahaya! Bukankah sebaiknya kita menyingkirkannya?” tanya salah satu enchanter yang membantu mereka.
Mick tampak terperanjat.
“Mungkin ini karena aliran kekuatan di tempat ini tak dapat ditahannya. Kurasa tubuhnya kelelahan. Mungkin sebaiknya aku membawanya keluar. Kata Mick mencoba menyelamatkan Lamia.