
“Kau yakin akan menghubungi Bella?” tanya Mick pada Lamia.
Mereka bersama-sama keluar dari ruangan pertemuan paling akhir. Kofv dan yang lainnya sudah pergi lebih dulu, meninggalkan Mick dan Lamia yang berjalan bersama menyusuri koridor kastel.
“Sejauh yang kuingat, Bella memiliki kemampuan telepati terkuat di kerajaan. Satu-satunya peluang kita adalah menjangkau frekuensinya dan berkomunikasi tanpa diketahui siapapun,” jelas Lamia.
“Aku mengerti tentang poin itu. Tapi fakta bahwa dia membantu Balder, atau setidaknya membiarkan adiknya berulah sampai sejauh ini tidak bisa ditampik, Mia. Bukankah seharusya kau yang lebih mengerti tentang itu,” sergah Mick.
Lamia menghentikan langkahnya, lantas berbalik pada Mick.
“Aku tahu, Mick. Tapi dia satu-satunya harapan kita. Aku lebih tidak menyukai Bella dibanding siapapun. Tapi aku punya alasan yang baik untuk memilihnya meski aku membencinya. Itu karena dia begitu lemah oleh rasa bersalah. Hatinya yang lemah itu yang membuatku tidak menyukainya, sekaligus dapat menjadi peluang untuk kita.”
“Apa kau bermaksud untuk menekannya?”
“Apa aku terlihat sejahat itu, Mick? Tidak. Tentu saja tidak. Aku tahu dia tidak pernah punya niat jahat pada orang lain. Dia hanya bersikap lemah dan karena itu Balder selalu memanipulasinya. Bella selalu merasa bersalah pada Balder karena telah merebut posisi adiknya sebagai Penguasa Martian,” ungkap Lamia.
“Selama ini Bella memang tidak punya pendirian dalam mengatur kerajaan. Dia hanya terus didikte oleh para tetua, juga dimanfaatkan oleh Balder. Apakah kau akan masuk ke celah itu dan membawa Bella ke pihak kita?”
“Aku hanya akan melakukan penawaran,” jawab Lamia.
“Sebenarnya aku senang karena hatimu melunak, Mia. Sejak dulu Bella sangat mengagumimu, tapi kau selalu bersikap keras padanya.”
“Itu karena dia menyebalkan dan tidak punya pendirian,” sanggah Lamia.
“Bukan karena Aeron?” selidik Mick.
Lamia menghela napas pendek. “Maafkan aku, Mick, karena tidak pernah mendengarkanmu. Aeron adalah temanku, lebih seperti keluarga. Tapi perasaanku padanya sudah berakhir sekarang,” kata Lamia tulus.
“Begitukah? Kuharap kau benar-benar serius saat mengatakannya,” balas Mick tersenyum tipis.
Lamia mengangguk pelan. “Sedang kuusahakan,” ucapnya jujur.
...***...
... ...
Pertemuan kembali digelar esok paginya. Sebelum Kofv dan yang lainnya datang, Lamia, Mick dan Lao Fen sudah berada di ruang pertemuan pagi-pagi buta. Waktu itu dirasa paling cocok untuk menghubungi Bella, mengingat siang nanti sang Ratu Martian pasti sudah sibuk dengan urusan kenegaraannya.
Sama seperti Bella, Lao Fen memiliki bakat telepati yang tinggi. Meski begitu, karena keduanya belum pernah bertemu, akan sedikit memakan waktu bagi Lao Fen untuk menjangkau frekuensi Bella. Dengan menggunakan ingatan Lamia tentang Bella, Lao Fen mencoba meraih sekat-sekat sihir Bella di kediamannya di istana. Tindakan ini cukup riskan karena bisa saja gelombang sihir Lao Fen tertangkap oleh orang lain yang berkemampuan sama. Beruntung jangkauan telepati Bella lebih luas dibanding siapapun.
Di tengah penantian mereka, tiba-tiba Lao Fen membuka penutup matanya. Benar-benar kejadian langka. Sepanjang Lamia mengenal Lao Fen, ia belum pernah melihat kedua mata pria tersebut. Akan tetapi, betapa terkejutnya Lamia setelah melihat Lao Fen membuka mata. Keseluruhan mata Lao Fen hanya berwarna putih. Tidak ada bola mata di dalamnya. Hanya warna putih mutlak. Meski begitu, sorot Mata Lao Fen begitu tajam, seakan bisa menembus seluruh tubuh Lamia.
Tiba-tiba kedua mata Lao Fen mengeluarkan cahaya kebiruan yang semakin lama semakin terang. Cahaya itu terus bersinar hingga Lao Fen tampak seperti mengeluarkan laser berwarna biru dari matanya.
“Siapa kau?” mulut Lao Fen jelas-jelas bergerak, namun suara yang keluar sama sekali bukan suara Lao Fen, melainkan suara perempuan yang amat dikenal Lamia.
“Bella,” ucap Lamia pendek.
Rasanya agak ganjil melihat Lao Fen berbicara dengan suara Bella. Rupanya Lao Fen memiliki kemampuan sebagai medium.
“Mia?!” seru suara Bella terkejut. “Kau baik-baik saja? Aku benar-benar mencemaskanmu,” lanjut Bella.
“Aku baik-baik saja, tapi kau tahu kita punya beberapa urusan yang harus diselesaikan,” sergah Lamia.
“Maafkan aku, Mia. Aku benar-benar tidak tahu kalau masalahnya akan jadi sepanjang ini. Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini, Mia. Meski begitu aku mempercayaimu. Kau pasti bukan gaian seperti yang dituduhkan orang-orang. Aeron memberitahuku tentang Antidoksin yang dibuat Mick. Tentu saja aku sangat mempercayai kemampuan Mick, karena itu pasti kau juga tidak terinfeksi,” cerocos Bella panjang lebar.
Mick tampak mengangguk-angguk bangga. Lamia hanya menghela napas melihat tingkah sahabatnya sedari tadi.
“Walaupun kau bilang seperti itu pun, aku yakin kau pasti tahu siapa yang membuatku menjadi buronan, bahkan menyebarkan rumor palsu tentangku. Dan kuanggap kau tidak melakukan apapun terhadap hal itu,” sanggah Lamia terus terang.
Bella tampak terdiam sejenak, ia baru bicara setelah beberapa saat.
“Maafkan aku, Mia. Posisiku benar-benar sulit. Sudah terlambat bagiku untuk menyesal. Balder telah mengendalikan para tetua. Aku menjadi tawanan di istana ini, Balder mengatur segalanya termasuk segala keputusanku,” rintih Bella.
“Dan kau tetap bersikeras untuk menyelamatkannya, mengorbankan begitu banyak prajurit terlatih, hanya untuk membuat Martian menjadi sarang gaian?!” sambar Lamia mulai murka.
Suara Bella semakin lirih. “Aku hanya berharap Balder bisa berubah, Mia. Aku tak menyangka dia akan bertindak sejauh ini. Aku… aku melakukan kesalahan,” terdengar isak tanggis patah-patah sang Ratu Martian.
Lamia benar-benar frustasi setiap harus menghadapi Bella yang begitu lemah. Dia seorang Ratu!
“Kau tahu Balder memiliki kemampuan itu. Kita tidak mungkin membiarkannya terus merajalela. Aku berharap ini pelajaran terakhir yang harus kau pahami, Bella. Berhentilah merasa bersalah pada Balder. Sejak awal dia tidak pantas menjadi Raja. Kau adalah Ratu Martian yang terpilih. Bertindaklah sesuai statusmu,” ujar Lamia mencoba menurunkan nada bicaranya.
“Sudah terlambat untukku, Mia. Bahkan Aeron diawasi dengan ketat karena dekat denganku. Aku sudah kehilangan kesempatanku untuk bertindak mencegah Balder. Semua Tetua Kerajaan sudah berubah menjadi gaian dan kini mereka dikurung di penjara bawah tanah. Tidak ada yang mendukungku di istana. Balder terus membuat gaian-gaian baru untuk dia kendalikan,” rintih Bella
“Kalau begitu, aku akan memberimu penawaran,” ucap Lamia kemudian.
“Penawaran?”
“Pada hari yang sudah ditentukan, aku akan menyerang Terra Sabaea. Saat itu kau harus melakukan dua hal. Pertama, buatlah kondisi dimana para penduduk Terra Sabaea dapat diungsikan. Kedua, bujuk Balder untuk mengerahkan pasukan Antariksa dibawah komando Aeron,” kata Lamia.
Bella kembali terdiam. Sepertinya sang Ratu cukup terkejut mendengar permintaan Lamia. Bella tidak menyangka bahwa Lamia ternyata memiliki rencana tersebut, dan sekalipun Mick membantunya, namun untuk mendapatkan pasukan yang bisa melawan Terra Sabaea tidaklah mudah. Meski begitu Bella ingin mempercayai Lamia. Bagaimanapun juga kejadian mengerikan ini terjadi karena kelalaiannya. Bella harus menebusnya entah bagaimanapun caranya.
“Baik, akan kulakukan, Mia. Kupastikan Aeron membantumu tanpa diketahui oleh Balder,” ujar Bella kemudian.
“Kalau begitu aku akan menghubungimu lagi setelah semua pesiapan selesai. Sebelum itu, mintalah Aeron untuk memasukkan beberapa prajurit pangkalan Antariksa ke dalam kelompok Pasukan Kerajaan. Amati penyebaran gaian buatan Balder, dan usahakan untuk mengontrol penyebaran agar tidak terlalu meluas,” perintah Lamia kemudian.
“Serahkan padaku. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menghentikan Balder. Ini mungkin tidak bisa menebus kesalahanku, tapi kuharap setidaknya aku bisa membantumu,” jawab Bella.
“Baiklah, kuserahkan sisanya padamu,” jawab Lamia.
“Terimakasih, Mia. Maafkan aku…” rintih Bella.
Lamia tidak menjawab. Ia hanya terdiam, hingga beberapa saat setelahnya, sambungan telepati mereka pun terputus. Mata laser Lao Fen meredup dan kesadarannya pun berangsur pulih. Setelah kembali menggunakan penutup mata, Lao Fen pun mulai bicara dengan suaranya sendiri.
“Apa kau benar-benar bisa mempercayai Ratu, Lamia?” tanya Lao Fen kemudian.
“Ini memang terlihat seperti pertaruhan yang sulit. Tapi setidaknya satu kali dalam hidupku, aku ingin mempercayai Bella,” kata Lamia.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Lao Fen setuju.
"Meski begitu, kita tetap harus mempersiapkan rencana cadangan, Lao Fen,” lanjut Lamia.
...***...