
Lamia sudah duduk di hadapan delapan orang yang menatapnya dengan serius. Ini saatnya melakukan negosiasi dengan para petinggi Cydonia. Tanpa menunggu lama, Lamia segera menggelar perkamen besar yang sudah dia siapkan sebelumnya. Di atas perkamen yang membentang seluas meja kayu bulat itu, gambaran kasar peta Martian terpampang. Lamia membuatnya dengan bantuan Mick.
“Ini adalah gambaran pembagian wilayah di Martian saat ini. Seperti yang terlihat di sini, Terra Sabaea berbatasan langsung dengan Isidis Planatia dan Serpentis. Kedua wilayah ini membantu kita memblokir akses Pasukan Martian untuk mencapai Utopia Planatia, tempat hutan rimba terlebat di Martian.
“Memanfaatkan hal itu, kita bisa membawa para penduduk untuk mengungsi di daerah ini sementara kita menambang Kristal Ephestus di Elysium Mons. Aku yakin Daniel akan berperan penting di sini mengingat dirimu adalah ahli botani dan enchanter berelemen tanah. Utopia Planatia akan menjadi surga untukmu. Melindungi para penduduk juga akan mudah jika menggunakan kemampuanmu.
“Di saat yang sama, Ament akan bertanggung jawab melakukan penambangan Kristal di sini. Itu mungkin akan memakan waktu lama dan berbahaya. Oleh karena itu, Misty dan pasukannya akan membantu. Masalah selanjutnya adalah bagaimana membawa pergi para penduduk ini menuju Utopia Planatia?
“Aku bisa pastikan pergerakan kita tidak akan terendus oleh pasukan kerajaan, karena daerah ini tidak dapat diakses dengan mudah. Tapi, banyaknya gaian di sekitar perbatasan Cydonia akan menjadi kendala tersulit. Karena itu aku sendiri akan mengawal perjalanan penduduk sampai ke Utopia Planatia,” terang Lamia memulai penjelasannya.
“Kau sendirian memangnya bisa melawan gaian sebanyak itu?” sanggah Daniel.
“Sejauh gaian itu tidak menyerang para penduduk, aku bisa menjadi umpan,” jawab Lamia yakin.
“Mia! Apa maksudmu?” sergah Mick terkejut.
“Gigitan gaian itu tidak akan berpengaruh padaku. Aku bisa menjadi umpan untuk menarik gerombolan gaian itu dan membuka jalan. Saat area itu sudah bersih, kalian bisa menyeberang dengan aman,” ujar Lamia.
“Itu terlalu riskan, Mia. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi kalau kau dikerubungi begitu banyak gaian?” sahut Misty.
Lamia tersenyum simpul. “Aku sudah pernah mengalami hal yang lebih parah. Jumlah gaian di perbatasan jauh lebih sedikit dari yang pernah kuhadapi sebelum-sebelumnya. Mereka setidaknya sudah mati sebelum bisa mendekatiku.”
Mati mungkin bukan kata yang tepat, mengingat para gaian itu memang sudah mati. Tapi Lamia tidak bisa menemukan istilah yang cocok. Dan karena semua orang tampaknya mengerti maksudnya, Lamia tidak mencoba menjelaskan lebih lanjut.
“Tapi tetap saja itu berbahaya, Mia,” Shira turut berkomentar.
“Percayalah pada kemampuanku,” ujar Lamia sembari melirik Mick, berharap sahabatnya itu membantunya.
Mick sepertinya mengerti arti tatapan Lamia, lantas menambahi. “Ah benar, kalau memang hanya sebanyak itu, Mia bisa melenyapkan mereka dengan cepat.”
Setelah mendengar konfirmasi dari Mick, mereka semua tidak lagi terlalu ragu.
“Lalu apa yang harus kami lakukan setelah berada di Utopia Planatia?” tanya Daniel lagi.
“Buatlah pemukiman yang layak untuk para pengungsi. Tempat itu cukup strategis dan punya sumber daya yang melimpah. Yang harus kau khawatirkan adalah kemungkinan adanya gaian yang melewati tempat itu. Cobalah untuk mencari area yang dekat dengan aliran sungai. Tempat itu akan lebih aman karena gaian biasanya menghindari air. Lao Fen bisa ikut bersamamu untuk melindungi pemukiman pengungsi dengan kemampuan manipulasi areanya. Tabir pelindung itu bisa menyamarkan keberadaan kalian dari gaian ataupun manusia,” jawab Lamia menjelaskan.
Lao Fen tampak mengangguk setuju.
Shira mengangguk mantap.
“Lalu, Mick. Setelah berhasil menyeberangkan para pengungsi. Aku membutuhkanmu untuk pergi bersamaku ke Syrtis Major Planum. Aku akan menemui Melight,” kata Lamia pada Mick.
“Apa kau yakin Melight akan menerimamu dengan tangan terbuka?” tanya Mick sanksi.
“Setidaknya aku harus mencoba. Daerahnya yang paling aman dari serangan gaian. Kemungkinan Sirtys Major yang paling tidak terdampak oleh kasus itu. Dan kalau aku memang seorang gaian aku seharusnya tidak bisa memasuki wilayahnya yang penuh dengan air. Fakta itu seharusnya bisa membuat Melight percaya bahwa aku tidak terinfeksi,” terang Lamia.
“Terdengar masuk akal. Tapi kau juga harus mempertimbangkan keangkuhannya. Sekalipun dia percaya padamu, tapi Melight tidak suka terlibat dengan hal-hal yang merepotkan,” balas Mick.
“Untuk hal itu, biar aku yang mengurusnya, Mick. Melight punya hutang padaku. Ini saatnya dia membayar hutang itu,” jawab Lamia sembari tersenyum simpul.
“Wah, Mia. Kau dan kemampuan politikmu,” komentar Mick bangga.
“Begitulah gambaran awal rencana ini. Setelah aku mendapatkan Syrtis Major Planum, aku akan meminta Melight menerima para pengungsi untuk mendapat perlindungan di distriknya. Setelah itu aku akan kembali ke Cydonia untuk mengambil pecahan Kristal Ephestus. Pecahan kecil itu saja sudah pasti bisa menarik perhatian para pembuat senjata di Lembah Borealis.
“Bila negosiasinya lancar, aku akan menggunakan daerah tersebut menjadi basis pertahanan kita. Selain memiliki persenjataan paling lengkap, Borealis juga terletak di lembah yang sulit dijangkau pasukan Martian. Di sana kita bisa melanjutkan strategi kita untuk menghancurkan kerajaan,” terang Lamia melanjutkan.
“Rencanamu terlihat mudah dilakukan. Tapi setelah itu apa?” tanya Ament masih tampak ragu.
“Distrik terakhir yang aku harap bisa berada di pihak kita adalah Isidis Planatia. Aku mengesampingkan dua distrik lainnya karena lokasi mereka yang terlalu jauh dari kita. Dan karena mereka begitu independen, aku yakin kerajaan tidak akan bisa memaksa mereka untuk ikut andil dalam perang terbuka nanti.
“Setelah Syrtis Major Planum, Lembah Borealis dan Isidis Planatia kita dapatkan, armada itu sudah cukup untuk menyerbu Terra Sabaea. Pasukan Antariksa pun tak akan bisa berkutik bila Borealis ada di pihak kita. Enchanter terkuat Arabia Terra tidak akan sekuat para penyihir air di Syrtis Major Planum. Dan dengan Isidis Planatia ada di pihak kita, kerajaan tidak lagi memiliki dukungan paramedis penyembuh,” jawab Lamia.
“Semua hal yang kau katakana terdengar meyakinkan, Lamia. Tapi apa kau tidak berpikir tentang nasib para penduduk di Terra Sabaea? Mereka tidak bersalah dan harus terlibat perang. Belum lagi jika Pangeran mengerahkan pasukan gaian-nya. Wabah itu akan meluas dan menginfeksi orang-orang,” tajam, Kofv memberikan kritikan pertamanya.
Hati Lamia mencelos. Ia gagal memikirkan hal itu. Bila Balder benar-benar terpojok, bisa saja dia berakhir dengan membiarkan gaian-gaiannya menginfeksi orang-orang tak bersalah. Tidak ada cara lain selain mengungsikan para penduduk di saat yang tepat, tanpa dicurigai siapapun. Tapi bagaimana?
“Kita butuh bantuan orang-orang di kerajaan,” ujar Lamia kemudian.
Mick tampak mengernyit tak senang. “Kau yakin masih akan meminta bantuan Aeron setelah apa yang dia lakukan padamu, Mia?” sergah Mick.
“Bukan, Mick. Bukan Aeron. Aku butuh bantuan Bella, sang Ratu,” ucap Lamia.
...***...