
“Kalia! Gunakan Kraken!” seru Tuan Kokabura pada anak buahnya.
“Kraken?” tanya Lamia dan Mick bebarengan.
“Kalian akan terkejut melihatnya,” kata Misty nanar, seakan mengingat kenangan buruk di masa lalu.
“Memangnya itu apa?” tanya Mick.
Tapi Misty tidak menjawab lagi. Detik berikutnya, terjadi sedikit goncangan selama beberapa menit yang membuat Lamia dan yang lainnya harus berpegangan pada sesuatu untuk tetap berdiri. Ternyata tanah di bawah mereka mulai terbelah dua! Lamia benar-benar terkejut melihatnya. Ia tidak tahu apakah ini gempa bumi tektonik ataukah memang kota itu dirancang untuk dapat membuat tebing batu berundak yang luasnya mencapai berhektar-hektar dapat terbelah dua. Tapi melihat ekspresi Tuan Kokabura – dan juga Misty – yang tenang-tenang saja, Lamia membuang jauh-jauh perasaan paniknya.
Hal yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan Lamia. Dari rekahan tebing itu ternyata keluar rantai-rantai baja yang sangat besar. Rantai-rantai itu kemudian merambat keluar lalu menyambari pesawat tempur Martian dengan brutal. Beberapa pesawat hancur diremas oleh belitan rantai lalu dihempaskan jauh dari kota. Segesit apapun pesawat Martian tersebut menghindar, rantai baja itu selalu dapat menangkapnya.
“Itukah Kraken?” tanya Mick terkesima.
“Itukah yang dulu kau hadapi saat menyerang kota ini?” tanya Lamia tak kalah terkesima.
“Kami bahkan belum mencapai kota saat rantai-rantai raksasa itu menghancurkan tanah di sekitar kami,” kenang Misty penuh derita.
“Aku salut padamu, bisa menang melawan para pandai besi di kota ini,” kata Lamia yang masih terpaku melihat salah satu pesawat yang remuk dilumat Kraken lalu dilempar keluar dan menyisakan suara ledakan keras.
“Asal kau tahu, Mia, tak ada sedikitpun cerita membanggakan saat aku berhasil menaklukan Borealis. Aku pun tak yakin aku bisa disebut menang,” lanjut Misty yang masih terkenang kejadian beberapa waktu yang lalu.
“Tetap saja kau hebat,” kata Lamia yang sebenarnya tidak terlalu mengerti maksud Misty.
Selang beberapa saat, akhirnya pesawat-pesawat tempur Martian mulai berkurang. Tapi bahkan sebelum Lamia dan yang lainnya merasa senang, dari arah hilir sungai muncul kapal-kapal selam besar keluar dari air. Dengan bunyi bedebam keras, atap kapal-kapal itu langsung terbuka lebar begitu mencapai permukaan dan dari dalamnya keluar puluhan Scarab – motor terbang bersenjata – yang langsung melesat menuju kota.
Beberapa enchanter dari Cydonia yang menyadari hal itu segera menyerang pasukan Scarab sebelum mencapai kota. Bola-bola cahaya dan bola api melecut dari berbagai arah. Scarab yang terkena serangan bola cahaya langsung terpental jatuh dan meledak. Sementara yang terkena serangan bola api akan terbakar selama beberapa saat dan terbang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh ke sungai. Sayangnya, karena begitu banyak jumlah Scarab yang menyerang, dalam beberapa menit saja, mereka tetap berhasil mencapai kota dan mulai menembaki apapun yang ada di depannya dengan senjata yang ada di kendaraan tersebut.
Lamia berlari mengambil Stheno lalu menembakan senapan mesin itu ke setiap Scarab yang mendekat. Misty pun mengayunkan pedangnya dan beberapa kali mengenai Scarab yang terlalu dekat dengan mereka. Keadaan semakin kacau dan tak terkendali. Serangan bertubi-tubi dari pasukan Martian cukup membuat mereka kewalahan. Akhirnya Lamia kembali meraih Orthus dan Cerberus lalu mengambil kuda-kuda dengan mengangkat kedua senjata itu ke depan.
...Akulah jiwa dari senjataku....
...Lebih cepat dari cahaya....
...Lebih kuat dari baja....
...Jiwaku mencari keadilan...
...Kedamaian dalam kekacauan...
...Dengan semangatku,...
...Peluru Penghakiman!...
Peluru emas berpilin menjadi seekor burung yang kemudian menyambar Scarab-Scarab itu begitu cepat hingga yang terlihat hanya kilatan emas yang melesat kesana-kemari. Bahkan sebelum Scarab yang dikenainya sadar bahwa ia terkena serangan, peluru emas Lamia telah melesat menyerang target yang lain. Untuk beberapa saat, Lamia merasa takjub dengan kecepatan pelurunya yang meningkat.
Berkat serangan burung emas Lamia, sebagian besar Scarab berhasil ditumbangkan. Pihak mereka kembali di atas angin. Tapi tiba-tiba ledakan besar terjadi di bawah kaki Lamia dan membuat bangunan itu runtuh. Mereka semua terperosok ke dalam dan nyaris dilalap api yang membara di dalam. Lamia segera mencari pijakan untuk melompat menjauh. Sayangnya ia tak berhasil.
Lamia terjatuh di dalam api yang menyala hebat akibat tubrukan tadi. Lamia tak dapat melihat apapun selain api hingga akhirnya tubuhnya terhempas ke tanah. Rasa sakit luar biasa menyerang Lamia. Beberapa tulangnya mungkin patah. Ia mencoba berdiri namun seluruh tubuhnya kini terasa panas. Lamia menyadari bahwa api mulai membakarnya. Ia segera berusaha berlari menjauh – terlepas kemana pun arahnya – berharap dapat keluar dari kobaran api tersebut.
Tiba-tiba Lamia merasakan siraman air yang sangat dingin. Namun air itu tidak mengalir meninggalkan tubuhnya, melainkan melingkupinya hingga nafasnya tercekat. Selama beberapa saat ia berada di dalam air tersebut dan mengira dirinya telah jatuh ke dalam sungai. Luka bakar yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya terasa sangat perih dan panas. Lamia kemudian berusaha berenang menuju permukaan, namun air itu seakan mencengkeramnya dan membuatnya tak bisa bergerak.
Setelah beberapa detik meronta-ronta karena sesak, mendadak air menghilang dari tubuhnya dengan bunyi plop pelan. Ia pun terjatuh ke tanah batu yang keras dengan tubuh yang sama sekali kering. Sedikit shock, Lamia kemudian memperhatikan keadaannya yang sudah compang-camping. Bajunya terbakar di beberapa tempat dan kulitnya mengelupas karena luka bakar seirus. Namun detik berikutnya luka bakarnya mulai sembuh dengan sendirinya dan kulitnya kembali halus tak bercacat bahkan tulang-tulangnya yang patah sudah kembali tersambung.
“Jadi kemampuan penyembuhan diri itu efek dari virus tetrodoksin yang menjangkitimu?” tanya sebuah suara yang tak asing.
Lamia mendongak ke atas. Ternyata Melight Ringdale bersama beberapa enchanter air telah berdiri di hadapannya.
“Melight! Kau ada di sini?” seru Lamia.
“Aku melihat pesawat Martian terbang berkelompok dan mengarah ke sini. Beberapa orangku juga mengatakan kapal selam kerajaan bergerak menuju Borealis. Karena kusangka ada sesuatu terjadi di sini, maka kami langsung menyusul diam-diam dengan Seabreacher,” kata Melight.
“Terimakasih telah menyelamatkankku Melight,” kata Lamia.
“Kau memang tidak mudah mati,” balas Melight.
“Dimana yang lainnya? Senjataku?” tanya Lamia mencari-cari senjatanya, dan karena tidak menemukannya, ia menyimpulkan senjatanya sudah dilalap api.
“Aku melihat pimpinan kalian dan temannya yang memakai penutup mata itu berada di seberang jembatan. Mereka selamat dan kini sudah mendapat bantuan dari pasukanku. Aku tidak melihat sisanya,” kata Melight.
Itu artinya Kovf dan Lao Fen selamat, pikir Lamia.
Namun tiba-tiba hatinya mencelos.
“Mick! Apa kau melihat Mick?!” seru Lamia.
Tepat di saat Lamia menyelesaikan kalimatnya, Mick berlari mendatangi mereka dengan membawa kedua senjata Lamia.
“Mia!” seru Mick yang langsung memeluk Lamia erat. Lamia membalas pelukan Mick dengan penuh syukur.