Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Medan Pertempuran



“Kau juga sama saja,” sahut Lamia melirik sahabatnya.


“Dia mulai duluan. Aku hanya membalas apa yang dilakukannya. Lagi pula sepertinya tidak mungkin mengharapkanmu membalas serangan Aeron,” sindir Mick.


“Itu karena kau terlalu tergesa-gesa,” sanggah Lamia tak setuju.


Kini Lamia melihat Aeron berputar-putar di udara menghindari peluru kiriman Mick. Gerakan terbang Aeron yang efisien sama sekali tidak berubah. Aeron benar-benar menguasai teknik-teknik terbang dengan baik. Selagi Aeron sibuk menghindari peluru kendali Mick, Lamia telah berhasil meledakkan setidaknya lima subbers pasukan Martian.


Disamping itu subbers-subbers lain yang juga dikendalikan Lamia telah berhasil menjatuhkan puluhan subbers Martian lain. Meski begitu Lamia kehilangan cukup banyak subbers yang luput dari perhatiannya. Bagaimanapun dia juga manusia yang tidak bisa melakukan segalanya.


“Mia, kita harus mengulur waktu,” kata Mick memperingatkan setelah melihat penurunan jumlah pasukan secara drastis dari kedua belah pihak.


“Maafkan aku,” kata Lamia menyesal. Ia lupa diri ketika mulai mengendalikan pesawat. Rasanya ia menemukan dirinya kembali dan hal itu membuatnya terlalu terhanyut akan kenikmatan pertempuran udara.


“Ini asyik sekali,” kata Lamia riang.


“Aku tahu, aku tahu, tapi kau tetap harus mengendalikan pertempuran ini. Kita harus menunggu beberapa saat lagi sampai pasukan Misty dan pasukan Scarab kita sampai di Terra Sabaea,” kata Mick. “Dan lihat, tampaknya Aeron memanggil bala bantuan,” lanjut Mick saat melihat puluhan titik hitam kecil yang melesat turun dari langit dengan kecepatan yang nyaris sama dengan kecepatan cahaya.


“Astaga, itu pasukan antariksa wilayah tiga. Aku  tidak akan pernah melupakan disain norak subbers milik Midea,” kata Lamia sambil mengamati satu-satunya subbers yang berwarna ungu mencolok. “Apa Aeron berniat menghabiskan pasukan antariksa hanya untuk melawanku?” tanya Lamia putus asa.


“Seharusnya kau merasa terhormat. Itu artinya Aeron diam-diam mengakui kalau kau lebih hebat darinya,” komentar Mick dengan wajah penuh kebanggan.


“Entahlah,” sahut Lamia sambil memiringkan pesawatnya untuk menghindari tembakan dari subbers ungu milik Midea. Lamia berputar seratus delapan puluh derajat dan langsung bertatap muka dengan subbers pink tersebut. Tanpa rasa takut sedikitpun Lamia melesat langsung tepat ke arahnya dan membuat Midea panik lalu menukik ke atas.


Tapi bahkan sebelum moncong pesawat itu terangkat lebih dari sepuluh meter, Lamia menembaki badan pesawat itu seakan segalanya sudah dalam perhitungannya. Midea melontarkan diri dengan kursi lontar dan terjun bebas dengan kapsul lontar sebelum pesawatnya meledak. Lamia dengan lincah berbelok ke kanan menghindari tabrakan dengan pesawat yang baru saja diserangnya.


“Kasihan Midea, padahal dia baru datang,” komentar Mick memandang kapsul lontar ungu yang terbang ke bawah.


Lamia tak berkomentar. Ia kembali mencari Aeron dan berniat segera mengakhiri pertarungan udara ini. Sayangnya, sebelum Lamia berhasil menemukannya, Aeron telah menyergap Lamia dari belakang dan menembaki ekor pesawatnya.


“Aeron! Dia menjebakku dengan Midea!” seru Lamia geram. Salah satu yang dibenci oleh Lamia adalah kekalahan, terutama dalam pertempuran udara. Karena itu, dengan sangat marah, Lamia meraih pegangan kaca Subbersnya dan membukanya begitu saja.


“Lamia Linkheart! APA KAU SUDAH GILA!” teriak Mick benar-benar shock.


Tapi tampaknya Lamia tak berniat menghentikan perbuatannya. Ia malah melepas sabuk pengamannya, dan merangkak naik ke badan pesawatnya yang mulai terjatuh ke bawah akibat serangan Aeron. Begitu mencapai posisi yang diinginkannya, Lamia menarik Orthus dan Cerberus lalu mengarahkannya ke pesawat Aeron.


...Akulah jiwa dari senjataku....


...Lebih cepat dari cahaya....


...Lebih kuat dari baja....


...Jiwaku mencari keadilan...


...Kedamaian dalam kekacauan...


...Dengan semangatku,...


...Peluru Penghakiman!...


Sepasang peluru emas keluar dari senjata Lamia. Namun sebelum Lamia sempat melihat perlurunya berubah menjadi burung emas, Mick telah menariknya mauk ke dalam kapsul lontar  dan saat Mick telah menutup kapsul lontarnya, Lamia mendengar ledakan keras di atasnya. Lamia yakin benar ledakan itu berasal dari pesawat Aeron. Pelurunya tidak pernah gagal mengenai target.


“KAU! BENAR-BENAR! TIDAK! WARAS!” Mick meneriakkan setiap kata yang diucapkannya pada Lamia.


“Maaf. Hanya itu satu-satunya cara yang kupikirkan,” jawab Lamia  sambil keluar dari kapsul lontar yang sudah mendarat di panel magnet martian.


Mereka sudah mencapai daratan, tepatnya di perbatasan antara Utopia Planatia dan Terra Sabaea. Sepertinya penduduk sipil di area tersebut sudah berhasil diungsikan oleh Bella. Mereka menghubungi sang ratu beberapa waktu lalu.


Di depan Lamia, tengah terjadi pertempuran hebat antara pasukan Scarabnya dengan pasukan Martian yang juga mengendari Scarab. Sementara itu di atas mereka, Subbers-subbers masih saling menembak.


Kini setelah Lamia tak lagi bisa mengendalikan mereka, Tuan Kokabura yang mengambil alih. Mick telah menyempatkan diri untuk memindahkan mode kontrol jarak jauh dan mengalihkannya kepada Tuan Kokabura di Lembah Borealis sebelum ia terjun dari pesawat.


Tanpa Komandan, kedua pasukan itu hanya berputar-putar tak tentu arah dan saling menembak secara acak. Hanya soal waktu sampai akhirnya mereka semua hancur dalam ledakan.


“Aku tak habis pikir. Hanya karena kau punya kemampuan baru bukan berarti kau bisa melakukan hal semacam itu seenaknya sendiri. Untung kita ada di Mars. Aku tak bisa membayangkan kau melakukan hal yang sama ketika melawan pasukan Gaia di angkasa,” omel Mick yang tak berhenti merepet.


Lamia hanya menjawab dengan anggukan-anggukan kecil, nyaris tak peduli. Pikirannya kini adalah untuk menyambar salah satu Scarab untuk membawa mereka menuju Terra Sabaea.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Sebuah Scarab meluncur rendah ke arah mereka. Tampaknya itu adalah Scarab pasukan mereka. Tapi Lamia tak peduli. Ia tetap akan merebutnya.


“Mick, kau harus melompat saat kuperintahkan,” kata Lamia memberitahu. “SEKARANG!” seru Lamia menarik kerah baju Mick dan melemparnya ke depan.


Gadis itu menggunakan tubuh Mick untuk menghempaskan pengemudi Scarab. Di saat yang tepat Mick segera berpegangan pada jok kulit motor terbang itu sambil satu tangannya mencengkeram lengan Lamia.


Susah payah keduanya bergulat untuk mendapatkan posisi nyaman di atas Scarab. Akhirnya setelah beberapa menit yang melelahkan, Mick berhasil memegang kemudi kendaraan tersebut dan Lamia duduk di belakangnya.


“Mia, bisakah kau tidak melibatkanku pada ide-ide gilamu? Atau mungkin kau bisa lebih sopan dengan memberitahuku sebelumnya,” kata Mick letih.


“Aku sudah memberitahumu,” kata Lamia tak mau kalah.


“Tepat setengah detik sebelum kau melakukannya! Apa kau pikir aku ini tongkat serbaguna yang bisa kau gunakan untuk memukul Scarab yang sedang berjalan? Astaga! Kau benar-benar bukan manusia! Mia, kau benar-benar berubah bila sudah berada dalam pertempuran!” seru Mick kembali merepet.


“Hampir sebagian besar orang berubah bila menyangkut hal yang disukainya,” jawab Lamia.


“Dan jangan membantah!” seru Mick benar-benar marah.


Akhirnya Lamia memilih diam. Keduanya menerjang medan pertempuran. Lamia menembakkan peluru-peluru emasnya dan berhasil menumbangkan sangat banyak pasukan.


Pasukan Scarab Lamia unggul di medan pertempuran itu. Salah satu penyebabnya adalah Scarab yang dibuat oleh Tuan Kokabura dilapisi batu sihir Ephestus yang membuatnya kebal peluru.


Jadi, bila tidak benar-benar mengenai si pengendara, Scarab-Scarab itu tidak akan jatuh. Padahal sangat sulit membidik tepat mengenai pengendara Scarab. Hanya Lamia yang dapat melakukannya, dan karena itu pasukannya berada di atas angin.