Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Salem Komara



Pada sisi tebing yang ditinggali Lamia, seluruh bangunannya merupakan bangunan untuk tempat tinggal. Sementara di sisi lainnya, merupakan ‘bengkel’ tempat para pandai besi itu menempa senjata. Tentu saja cara menempa mereka tidak lagi manual. Mereka menggunakan mesin-mesin canggih yang dikendalikan oleh sistem otomatis.


Mereka hanya perlu membuat konsep senjata dengan perhitungan sistemasis agar dapat efektif saat digunakan. Senjata-senjata itupun harus disesuaikan dengan penggunanya karena bila tidak ada kecocokan diantara keduanya, maka senjata tersebut tidak akan berfungsi secara maksimal.


Para pandai besi Borealis memang sangat ahli dalam hal itu. Selain senjata, mereka juga membuat disain bangunan, kendaraan, dan lain sebagainya. Salah satu mahakarya yang paling mencolok adalah jembatan Borealis yang kini tengah dinikmati keindahannya oleh Lamia dan Mick.


“Mia, kau tahu, jembatan ini dirancang oleh seniman pandai besi untuk istrinya yang sudah meninggal. Ia terus-terusan bekerja di sisi seberang tebing itu dan hanya pulang beberapa bulan sekali. Sementara itu istrinya tinggal di bukit yang lain sambil selalu menunggu kepulangan suaminya.


"Pria itu sangat mencintai pekerjaannya, hingga saat istrinya sakit pun ia selalu menunda-nunda kepulangannya sampai akhirnya istrinya meninggal, dan ia sangat menyesal. Akhirnya ia membangun jembatan ini sebagai pengingat agar kawan-kawannya para pandai besi yang meninggalkan keluarganya di sisi tebing yang lain, selalu ingat untuk kembali ke rumahnya setiap selesai bekerja.


"Jembatan ini pun dilapisi emas agar warnanya mencolok dan selalu mudah dilihat dari setiap sudut kota,” ujar Mick menceritakan sejarah panjang jembatan itu.


“Kisah yang cukup menyentuh,” komentar Lamia. “Lalu apa yang terjadi pada seniman itu? Apa dia menikah lagi? Atau mungkin dia punya anak? Bagaimana dengan anaknya?”


“Ck! Ceritanya berhenti sampai di situ. Pertanyaanmu itu merusak jalan ceritanya. Kau ini benar-benar tidak punya sisi romantis,” kata Mick kesal.


Lamia tersenyum kecil.


“Aku membayangkan bila aku juga punya rumah untuk kembali,” kata Lamia kemudian.


Mick memerhatikan gadis itu dalam diam. Ia membiarkan Lamia bicara lebih banyak lagi.


“Kemanapun aku pergi tak ada yang menantiku pulang. Aku bahkan tidak pernah benar-benar pulang. Aku hanya selalu pergi dari satu tempat ke tempat lain,” lanjut Lamia lalu menarik nafas panjang.


Keduanya pun akhirnya terdiam untuk beberapa saat. Tiba-tiba tangan Mick meraih tangan Lamia dan menggengamnya sambil terus berjalan menyusuri jembatan. Sesaat Lamia tampak terkejut, namun ia membiarkan Mick tetap menggenggam tangannya meski ia sedikit malu dengan orang-orang yang juga berada di jembatan itu – padahal mereka juga tidak akan peduli pada Lamia dan Mick –.


“Kau mungkin benar untuk beberapa hal yang kau katakan barusan. Tapi ada satu hal yang salah dari kata-katamu.” kata Mick kemudian.


“Kemanapun kau pergi, selalu ada yang menantimu pulang. Seseorang yang selalu merindukan kedatanganmu juga mengkhawatirkan keadaanmu,” lanjut Mick yang semakin erat menggenggam jemari Lamia.


Lamia tersenyum kecil dan sedikit tersipu mendengar kata-kata Mick.


“Memangnya ada orang bodoh seperti itu,” sahut Lamia.


Mick menarik nafas dengan sabar. Ia tak habis pikir kenapa gadis itu tak pernah bisa diajak serius bila mulai membicarakan hal-hal semacam ini.


“Tentu saja ada,” jawab Mick menahan diri untuk menyebut namanya sendiri.


“Biar kutebak. Orang bodoh itu pasti benar-benar putus asa sampai harus memilih orang seperti aku untuk dirindukan bahkan sampai mengkhawatirkan keadaanku,” goda Lamia sambil melirik Mick dengan senyuman jahil.


“Mia kau ini benar-benar...” kata Mick sambil menggeretakkan giginya dengan gemas. “Jadi sekarang kau sudah bisa menggodaku ya? Hah? Ayo kemarikan kepalamu, biar kuacak-acak rambutmu sampai kusut!” seru Mick sambil meraih kepala Lamia dan mengacak-acak rambutnya hinga berantakan.


Lamia tertawa keras sekali. Ia tertawa sangat lama sampai perutnya terasa sakit. Entah sudah berapa lama Lamia tidak tertawa seperti itu. Ia bahkan tak bisa mengingatnya lagi. Lamia benar-benar menikmati malam itu, seakan ia meletakkan seluruh bebannya untuk sementara. Hanya untuk beberapa saat saja, ia membiarkan dirinya terlarut dalam kegembiraan, yang ia tahu tak akan berlangsung lama. Ini pun akan berlalu.


...***...


Lewat tengah malam Lamia dan Mick kembali ke penginapan. Begitu keluar dari lift, Shira berlari menyongsong mereka dengan tergopoh-gopoh. Ia tampak panik dan kebingungan.


“Salem... apa kalian melihatnya?” tanya Shira terengah-engah. Mick menggeleng pelan.


“Tidak. Kami baru dari jembatan dan sama sekali tidak melihat Salem disana maupun di seberang,” jawab Mick.


“Memangnya ada apa dengan Salem?” tanya Lamia kemudian.


“Ia menghilang bersama salah satu Seabreacher kita. Aku bertanya pada semua orang tapi tak ada yang tahu kepergiannya. Aku bahkan menghubunginya berulang kali tapi dia tak menjawab panggilanku. Sepertinya ia pergi beberapa saat setelah kita sampai di sini,” kata Shira masih dengan nada panik.


“Tenanglah. Mungkin dia hanya berjalan-jalan di dekat sini,” ujar Lamia.


“Mia benar. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang,” hibur Mick.


“Tapi... tapi...” rintih Shira memohon.


“Sudahlah. Lebih baik kau beristirahat. Jangan terlalu khawatir, akan kucoba menghubunginya. Aku akan memberitahumu begitu ada kabar. Sekarang kembalilah ke kamar,” bujuk Mick.


Shira pun menurut. Ia akhirnya kembali ke kamarnya sendiri dan Mick serta Lamia berjalan ke kamar mereka.


“Salem, jawablah...” kata Mick setengah berbisik. “Shira benar, Salem juga tidak menjawab panggilanku,” kata Mick melanjutkan.


“Dia masih berkabung Mick. Mungkin ia pergi keluar sendirian dan tidak ingin diganggu,” kata Lamia.


“Tapi tidak biasanya dia pergi tanpa memberi tahu siapapun,” sergah Mick.


“Semua kemungkinan bisa terjadi, Mick.”


“Terlalu banyak kemungkinan,” kata Mick lebih kepada dirinya sendiri.


...***...


 


Sudah beberapa minggu lamanya Lamia berada di Lembah Borealis. Beberapa kali ia mengunjungi daerah seberang jembatan – sebutan untuk sisi tebing tempat para pandai besi bekerja –.


Ketiga sejanta andalannya, Orthus, Cerberus dan Steno juga sedang dalam tahap dilapisi dengan batu Ephestus untuk meningkatkan kekuatannya. Baru hari ini ketiganya selesai dimodifikasi dan sudah dapat diambil kembali. Karenanya siang itu Lamia bersama Mick, Misty, Shira dan Samuel pergi bersama untuk mengambil senjata mereka. Kelimanya memilih menyusuri jembatan sambil menikmati pemandangan Sungai Phillias yang tenang.


“Masih belum adakah kabar dari Salem?” tanya Misty.


Shira menggeleng lemah. Selama beberapa minggu ini Shira tampak begitu lesu. Ia menolak makan apapun sebelum Salem kembali. Keadaan ini membuat kakaknya, Kovf, benar-benar khawatir hingga laki-laki itu meledak marah menghadapi kekerasan hati Shira tersebut. Akhirnya, untuk memisahkan kakak beradik itu, Misty mengajak Shira pergi ke seberang jembatan.


“Salem pasti kembali. Dia pasti baik-baik saja,” hibur Misty.


“Misty benar. Jangan terlalu menyiksa diri, Shira. Kakakmu benar-benar khawatir,” kata Mick.