
Seharian penuh Lamia mempelajari tentang Kristal Ephestus. Tidak banyak informasi yang didapat oleh Lamia selain dari buku bersampul lautan kosmik yang diberikan oleh Lao Fen. Karena satu-satunya sumber hanyalah buku itu, maka Lamia pun membacanya berulang kali untuk benar-benar memahami cara kerja Kristal itu dan kebenaran akan lokasinya yang berada di bawah kota Cydonia.
Hari telah jatuh malam ketika Mick tiba-tiba datang ke perpustakaan. Pemuda itu lantas merebah duduk di sebelah Lamia.
“Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau ada di sini,” ucap Mick sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.
“Kau terlihat sangat lelah,” kata Lamia setelah melihat wajah Mick yang kusut dengan lingkaran hitam di bawah matanya. “Rambutmu acak-acakan sekali. Kapan terakhir kau tidur?” lanjut Lamia sembari mencoba merapikan rambut sahabatnya itu dengan tangan.
“Entahlah… Salem punya terlalu banyak benda menarik. Membuatku lupa waktu,” jawab Mick menghela napas.
Lamia tersenyum simpul. Mick seperti anak kecil mendapat mainan baru setiap kali bertemu benda-benda percobaan.
“Kau sedang apa di perpustakaan? Apa kau merindukan pekerjaan lamamu?” tanya Mick kemudian.
Lamia terdiam lalu menarik tangannya dari atas kepala Mick. Bohong jika dia bilang dia tidak merindukan kesibukannya saat di pangkalan. Tapi emosi itu tidak lagi menjadi topik utama dalam pikirannya. Lamia menimbang-nimbang untuk membahas rencananya dengan Mick. Tapi Mick tampak lelah.
“Kristal Ephestus?” Mick mengangkat kepalanya dari atas meja lantas melongok pada buku yang tengah dibaca Lamia.
Pemuda itu lantas menarik buku itu ke hadapannya dan mulai membaca dengan lebih seksama. Lamia bahkan belum sempat membuka topik pembicaraan, tapi nampaknya Mick sudah tahu apa yang tengah direncanakan Lamia.
“Mia, jangan bilang kau bermaksud…” Mick tidak dapat menyelesaikan kalimatnya dan hanya sanggup menatap Lamia dengan ekspresi tak percaya.
“Aku masih mempertimbangkannya, Mick. Tapi sejauh ini memang hanya ini satu-satunya jalan yang paling masuk akal,” ungkap Lamia terus terang.
“Kau gila?!” sergah Mick terkejut.
Rasanya unik saat orang seperti Mick – yang pada dasarnya punya lebih banyak rencana gila – menganggap Lamia gila. Lamia hanya bisa mengangkat alis menanggapi umpatan Mick yang spontan tadi.
Mick mendesah pelan. “Tidak banyak orang tahu tentang adanya Kristal sihir di bawah tanah Cydonia. Aku tidak menyangkal kalau hal ini bisa jadi tawaran menarik untuk para pimpinan Tujuh Distrik Besar. Tapi, apa kau yakin bisa menanggung resikonya?”
“Kubilang aku masih mempertimbangkannya Mick. Tapi kita tidak bisa terus berdiam diri. Memburu gaian-gaian itu juga hanya akan sia-sia. Mereka bisa terus memperbanyak diri. Apapun caranya kita harus melawan.” Sorot mata Lamia tampak tegas. Meski masih memiliki beberapa keraguan, namun Lamia sangat yakin saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Walau harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun, Lamia harus menghentikan apapun rencana Balder.
Mick kembali menghela napas panjang. “Kurasa aku bisa menebak siapa orang yang memberimu buku ini,” ucap Mick sembari membuka lembaran-lembaran buku di hadapannya.
Lamia mengangkat bahu menanggapi. Lao Fen dan Mick sebenarnya memiliki kesan yang mirip, tapi dengan cara yang agak berbeda. Mereka berdua sama-sama punya kemampuan untuk menemukan solusi pada situasi yang paling buruk sekalipun.
“Aku setuju pada rencanamu menghancurkan Balder Wade dan seluk beluk kerajaan Martian yang busuk itu. Tapi kupikir kita bisa menggunakan cara lain,” ujar Mick kemudian.
“Cara apa, Mick? Kita tidak bisa menyerang begitu saja hanya dengan prajurit Cydonia yang… kau tahu lah,” sanggah Lamia.
“Maksudku… aku juga sebenarnya tengah mengupayakan sesuatu bersama Salem. Tapi ternyata ini lebih rumit dari dugaanku.”
“Kau juga berencana menghancurkan kerajaan?”
Mick mengangguk mantap. “Aku tahu kau pasti akan melakukannya. Jadi aku tentu saja harus membantumu, ‘kan. Hanya saja ternyata penelitianku memakan waktu lebih lama dari yang kurencanakan,” ungkap Mick tampak sedih.
“Memangnya apa yang kau rencanakan? Siapa tahu aku bisa kesampingkan soal Kristal Ephestus ini dan mencoba menggunakan rencanamu,” kata Lamia kemudian.
Tapi Mick menggeleng lemah. “Kurasa rencanaku akan lebih mustahil dilakukan.”
Tidak biasanya Mick terlihat putus asa. Sepertinya percobaannya kali ini memang cukup sulit. Lamia pikir itu wajar. Mick pasti sudah melakukan upaya terbaik, mengingat targetnya adalah menghancurkan sebuah tatanan kerajaan yang sudah berdiri ratusan tahun.
“Sayangnya kita tidak punya banyak waktu untuk berdiam diri, Mick. Setiap waktu yang kita habiskan bisa saja melahirkan gaian-gaian baru di luar sana. Dan entah apa pun rencana Balder, ia sudah semakin dekat dengan tujuannya,” ujar Lamia serius.
“Kau benar, Mia. Kalau begitu, seperti biasa, aku akan selalu mendukungmu apapun rencanamu. Meski aku tidak yakin Kofv dan yang lainnya akan setuju, tapi aku tetap ada di pihakmu, Mia,” ucap Mick dengan senyum terkembang. “Dan pastinya Lao Fen juga akan mendukungmu,” lanjutnya pendek.
Lamia tertawa pendek. “Pantas saja Lao Fen tidak bisa membaca pikiranmu, Mick. Kau selalu berada selangkah di depan orang lain,” komentar Lamia menanggapi tebakan Mick tentang Lao Fen yang memberitahunya mengenai Kristal Ephestus.
“Terimakasih, Mick, karena selalu ada bersamaku,” lanjut Lamia tulus.
“Tentu saja, Mia. Kapanpun kau butuhkan,” jawab Mick.
...***...
Paginya harinya, Lamia berencana menemui Kofv untuk membahas rencananya semalam. Seusai sarapan singkat bersama Mick, keduanya berpisah di koridor. Mick pergi ke Laboratorium Salem di bawah tanah, sementara Lamia melesat ke arah sebaliknya, menuju ruang kerja Kofv di area depan kastel.
Lamia tidak bertemu dengan banyak orang saat menuju kesana. Hanya beberapa pegawai yang tidak dikenal Lamia tampak lalu lalang, lalu mengangguk hormat saat Lamia lewat. Diam- diam Lamia berdoa agar Kofv sedang berada dalam suasana hati yang baik agar diskusi mereka bisa berjalan dengan lancar. Lamia memang belum pernah melihat Kofv marah. Pemuda itu sepertinya punya sifat yang kalem dan tenang. Ditambah kacamatanya yang berbentuk persegi itu, menambah kesan ramah pada Kofv.
Lamia sampai pintu depan kantor Kofv tak lama kemudian. Ia mengetuk pelan lantas membukanya. Kofv tampak sibuk seperti biasa, namun tetap menyambut kedatangan Lamia sambil berdiri.
“Selamat pagi, Lamia. Duduklah. Kau kemari sendiri? Dimana Mick?” tanya Kofv semata-mata karena ia selalu melihat Lamia bersama dengan Mick dimanapun mereka bertemu.
Lamia lega melihat Kofv yang tampak riang menyambutnya. Suasana hati Kofv sepertinya baik-baik saja.
“Mick sedang bersama Salem. Aku kemari karena ada yang ingin aku bicarakan, Kofv,” jawab Lamia sembari duduk di sofa.
“Tentu saja. Katakanlah. Apa kau sudah memutuskan soal permintaanku kemarin?” Kofv bertanya tampak sedikit antusias.
Lamia mengangguk pelan. “Itu memang terkait dengan hal yang ingin ku bahas. Sebelumnya, kuharap kau bisa mendengarkanku dengan tenang. Apa yang ingin kusampaikan mungkin akan sedikit mengejutkan.”
Air muka Kofv berubah serius. Meski begitu ia masih tampak bersahabat. “Baiklah, akan kucoba. Semoga ini tidak seperti dugaanku,” ujar Kofv kemudian.
Lamia menarik napas panjang. Sepertinya pembicaraannya hari ini tidak akan selesai dengan mudah.
...***...