
“Kau benar. Tapi kita harus kemana?” tanya Misty.
“Aku khawatir bila kita ke kota-kota Syrtis atau Isidis, orang yang mengirim gaian itu akan membocorkan keberadaan kita pada pemerintah,” kata Mick.
“Orang yang mengirim gaian?” tanya Misty penasaran.
Lamia pun menceritakan kepada Misty kejadian saat mereka berada di Cydonia dan tentang suara-suara yang menyuruh Lamia menuju Utopia Planatia untuk membunuh.
“Aku justru mengkhawatirkan hal lain, Mia. Bila para gaian itu mulai menyerang kota, aku yakin kau-lah yang akan dituduh sebagai pemimpin para gaian, mengingat reputasimu sebagai buronan. Bila itu terjadi, orang-orang di Syrtis dan Isidis akan berbalik menyerang kita,” kata Misty.
“Kau benar,” jawab Lamia.
“Satu-satunya tempat aman adalah Lembah Borealis. Orang-orang di sana tidak mengenalmu. Mereka menganggap kita sekedar orang-orang Cydonia,” usul Misty.
“Kalau begitu kalian berangkatlah lebih dulu ke sana. Aku dan Mick harus kembali ke Cydonia untuk memberi tahu Kovf dan yang lainnya. Kami akan menyusul secepatnya,” kata Lamia buru-buru.
“Baiklah kalau begitu kalian pergilah ke Cydonia bersama beberapa orang. Mungkin kalian harus ke Syrtis Major Planum terlebih dahulu untuk meminjam lebih banyak Seabreacher,” kata Misty.
Lamia dan Mick segera menyetujui usul tersebut. Mereka pun mengajak lima orang lagi untuk masing-masing membawa Seabreacher dari Syrtis Major Planum. Paramedis lainnya segera menyembuhkan orang-orang yang terluka.
Orang-orang yang meninggal mereka kuburkan di Utopia Planum. Ratusan gundukan tanah kini memenuhi bekas-bekas pemukiman mereka. Meski isak tangis mewarnai suasana pagi itu, namun mereka tetap harus segera berangkat menuju Lembah Borealis.
“Apa mungkin kau mengajakku ke Cydonia karena tidak ingin aku pergi bersama Misty?” tanya Mick ketika ia dan Lamia dalam perjalanan menuju Cydonia.
“Jangan bercanda Mick. Aku tidak punya pikiran semacam itu,” balas Lamia salah tingkah.
“Oya? Mungkin aku hanya terlalu berharap,” sambung Mick sedikit kecewa.
Sebenarnya apa yang dikatakan Mick tidak sepenuhnya salah. Entah mengapa Lamia tidak ingin Mick menghabiskan waktu dengan Misty. Sepertinya otaknya mulai terjangkiti virus tetrodoksin. Bahkan di saat seperti ini pun Lamia justru memikirkan hal semacam itu.
Lamia menggeleng pelan lalu berusaha kembali fokus pada pikirannya tentang Cydonia. Lamia tak dapat membayangkan bagaimana perasaannya nanti ketika harus bertemu dengan Salem. Apakah kematian kakaknya adalah bayaran yang pantas untuk menegakkan keadilan di Martian? Bukankah selama ini Cydonia baik-baik saja sebelum ia datang, dengan atau tanpa adanya fakta bahwa Martian diperintah oleh para pejabat korup.
Bahkan Lamia ragu bahwa gaian bisa menembus Cydonia. Tapi sampai kapan kedamaian palsu itu akan berlangsung? Cepat atau lambat bukan hanya Cydonia, seluruh peradaban Martian akan dengan mudah ditaklukan bila tak ada yang bergerak melawan. Tidak. Perjuangan Lamia tidak sia-sia. Ia harus melawan! Ia harus mempertahankan Martian!
...***...
Seperti yang telah diduga Lamia, suasana duka masih melingkupi Cydonia. Para pekerja begitu lesu mengangkut pecahan batu Ephestus ke atas permukaan. Puluhan gundukan tanah tampak berjajar di salah satu sisi lubang raksasa. Tampaknya mereka sudah menguburkan para korban gempa bumi kemarin. Shira segera menghampiri Salem yang bersimpuh di pusara kakaknya. Pemandangan itu benar-benar menyakitkan hati Lamia.
Kovf dan Lao Fen kembali menyambut Lamia dan Mick. Meski masih dirundung duka, namun Kovf tampak jauh lebih baik sekarang.
Lamia tersenyum mendengarnya. Meski begitu paramedis dari Isidis pun tak bisa membangkitkan orang mati, batin Lamia kembali melempar pandangannya kepada Salem.
“Tak ada yang bisa kita lakukan,” kata Mick.
“Aku tahu Mick,” kata Lamia.
Para pekerja masih sibuk mengangkut pecahan-pecahan batu Ephestus ke permukaan lalu mengepaknya dengan rapi untuk dibawa ke Lembah Borealis. Dataran para pandai besi itu terletak di utara. Mereka harus melalui Elysium Mons dan terus berjalan menembus sisi utara Utopia Planatia sebelum mencapai tempat itu.
Saat itu sudah mendekati akhir tahun Darian, tepatnya tanggal 24 Kanya[1], yang berarti musim dingin tengah berlangsung di belahan utara, termasuk di Lembah Borealis. Lamia dapat memastikan perjalanan mereka tidak akan mudah karena angin dingin dari Planum Boreum sedang ganas-ganasnya saat itu dan orang-orang Cydonia ini bahkan tidak memiliki satupun baju hangat.
“Mick, aku tak yakin kita bisa terbang dengan selamat menggunakan Seabreacher ini,” kata Lamia menatap setengah lusin Seabreacher yang mereka bawa.
Pengaruh batu Ephestus kini telah memudar setelah Lamia menghancurkannya hingga berkeping-keping sehingga kendaraan seperti Seabreacher dapat langsung memasuki kawasan itu. Meski begitu setiap kepingan batu itu – bahkan debu-debu halusnya – tetap mengandung kekuatan sihir yang luar biasa bila dipasangkan pada senjata.
Mick turut mengamati kendaraan berlapis baja keperakan tersebut. Seabreacher memang bukan kendaraan pengangkut barang. Bentuknya ramping memanjang dengan sayap kecil di kedua sisinya. Bagian depan Seabreacher dilingkupi oleh penutup kaca besar yang digunakan sebagai tempat duduk penumpang. Sementara di bagian ekornya terdapat bagasi berkapasitas sedang.
“Kau benar. Tapi kurasa Seabreacher ini jauh lebih tangguh bila digunakan dalam air, kan?” kata Mick menimbang-nimbang. “Itulah sebabnya namanya diawali dengan kata ‘laut’ meski tidak ada lautan di Martian,” lanjut Mick.
“Jadi bagaimana idemu?”
“Kita gunakan jalur air. Lembah Borealis dilalui oleh Sungai Phillias yang bermuara di Syrtis Major Planum. Para pandai besi di Borealis-lah yang bertugas menghangatkan aliran air dari Planum Borealis itu hingga menjadi danau besar Syrtis. Sungai itu mengalir membelah Utopia Planatia. Kita gunakan jalan itu untuk mencapai Lembah Borealis,” terang Mick panjang lebar.
“Tapi jalur itu kan melawan arus. Kau yakin Seabreacher bisa berjalan sejauh itu?” tanya Lamia.
“Itulah kenapa dia disebut Seabreacher – Penerjang Laut,” jawab Mick seadanya.
Tak ada salahya dicoba, pikir Lamia.
“Kalau begitu kita segera berangkat begitu ini semua batu selesai diangkat. Kurasa tak akan lama lagi,” kata Lamia.
Tiga hari kemudian semua kepingan batu Ephestus telah tersimpan rapi dalam setiap Seabreacher. Jumlah orang yang masih hidup pun tak banyak. Hanya tersisa tujuh belas orang – termasuk Lamia, Mick dan Shira – yang berhasil selamat dan melanjutkan perjalanan. Mulanya mereka terbang menuju Utopia Planatia.
Kovf mendengus geram saat pesawatnya melewati bekas-bekas pertarungan dengan gaian beberapa waktu yang lalu. Ia sangat terguncang ketika Lamia menceritakan tentang insiden penyerangan gaian di Utopia Planatia.
Untunglah Kovf dan yang lainnya sedikitpun tidak menaruh curiga kepada Lamia. Selain karena pada saat insiden itu terjadi Lamia tengah berada bersama mereka di Cydonia, juga karena Mick menegaskan – bahkan setengah mengancam – berulang kali, bahwa Lamia bukan gaian.
[1] Bulan ke-20 dari kalender Darian.