Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Pengkhianat



“Apakah aku yang terlalu berlebihan, atau kalian yang memang tidak peduli dengan kepergian Salem? Aku tidak akan sekhawatir ini bila ia tidak sedang mengalami hal yang menyedihkan. Ia kehilangan kakaknya, dan begitu terpukul karenanya. Karena itu aku sangat khawatir. Kemana dia pergi? Kenapa? Apa yang dilakukannya? Aku benar-benar punya firasat buruk untuk hal ini,” kata Shira histeris dan mulai menangis lagi.


Misty merangkul gadis itu penuh pengertian sambil mengusap-usap kepalanya.


“Salem sudah cukup dewasa untuk memilih apapun yang ingin dilakukannya. Aku yakin dia baik-baik saja,” komentar Daniel kemudian.


Lamia, Mick dan Misty serentak menoleh menatap Daniel dengan heran. Tidak biasanya pria itu bisa menghibur orang lain.


“Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku. Itu saja,” tambah Daniel cepat-cepat menyadari tatapan aneh dari ketiga kawannya.


“Daniel benar. Bila memang ini pilihannya, dia pasti punya alasan untuk pergi. Kau hanya harus percaya padanya, Shira,” kata Lamia.


Akhirnya tangisan Shira sedikit mereda. Kedua matanya sembab karena selama beberapa hari ini ia banyak menangis dan kurang tidur.


Pembicaraan mereka pun berakhir setelah Mick memarkir kendaraannya di bawah sebuah bangunan besar bertuliskan ‘Genesis’. Genesis adalah salah satu bengkel pembuat senjata milik Kokabura Knot, pimpinan pandai besi di Lembah Borealis.


“Halo selamat datang Misty yang cantik,” sambut Kokabura Knot begitu melihat mereka datang. Kokabura ternyata adalah seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan tampak kuat. Rambutnya yang hitam sudah separuh memutih karena usia. Gelagatnya sedikit genit terutama terhadap Misty.


“Selamat siang, Tuan Kokabura,” balas Misty datar.


“Sudah berapa kali kukatakan padamu, manis. Jangan memanggilku Tuan. Usia kita tidak terpaut terlalu jauh,” kata Tuan Kokabura sambil mengedipkan sebelah matanya. Lamia buru-buru memalingkan wajahnya saat melihat kedipan Kokabura Knot. Itu bukan pemandangan menyenangkan.


“Maaf Tuan Kokabura, bila memang usia kita tidak terpaut jauh mestinya perbedaan warna rambut kita tidak semencolok ini,” jawab Misty dengan sikap sopan.


Lamia dan yang lainnya setengah mati menahan tawa mendengar jawaban Misty. Mick bahkan perlu berdehem keras beberapa kali untuk menahan tawanya.


“Masih selalu kasar begini kau itu ya,” kata Tuan Kokabura tersenyum.


“Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung anda,” jawab Misty sopan.


“Untungnya aku orang yang tidak mudah tersinggung, apa lagi oleh perempuan secantik dirimu,” kata Tuan Kokabura kembali merayu.


“Syukurlah kalau begitu. Lalu, maksud kedatangan kami kemari adalah untuk mengambil senjata yang telah selesai dimodifikasi,” kata Misty.


“Oh, tentu saja sudah jadi. Ayo masuklah,” ajak Tuan Kokabura.


Bengkel Tuan Kokabura seluruhnya menggunakan dinding kaca tembus pandang, sehingga semua yang dilakukan pekerjanya dapat dilihat dari titik tengah bangunan itu, tempat dimana Tuan Kokabura menyambut Misty. Secara berderet ruangan itu dibuat berjajar dan masing-masing ruangan diberi label angka romawi dari I sampaiI XI dengan urutan searah jarum jam.


Ruangan I sampai III digunakan untuk melebur batu sihir yang akan digunakan untuk memodifikasi senjata, tergantung jenis dan kekuatan batu sihir tersebut. Batu Ephestus, yang merupakan batu sihir terkuat dilebur di ruangan III dengan mesin yang paling canggih.


“Rasanya sedikit lebih berat,” kata Misty sambil menimbang-nimbang senjatanya.


“Memang begitu, sayang. Batu sihir yang kalian bawa sangat kuat, jadi wajar bila kau merasa senjatamu lebih berat. Tapi sebenarnya bukan berat fisiknya yang bertambah, tapi aliranether yang keluar dari senjata itu,” jelas Tuan Kokabura.


“Coba ayunkan senjatamu, manis,” perintah Tuan Kokabura, sambil menseting ruangan itu menjadi sesuai dengan yang dibutuhkan. Setelah beberapa saat sibuk dengan layar hologram, akhirnya Tuan Kokabura menentukan pilihanya. Selang beberapa menit ruangan kaca itu berubah menjadi tanah lapang dengan batu karang tinggi besar menjulang di depan mereka.


“Nah, ayo silakan,” kata Tuan Kokabura.


Misty pun mengayunkan pedang besarnya. Dari ayunan itu keluar gelombang udara yang melesat membelah batu karang menjadi dua.


“Wow! Padahal aku mengayunnya dengan pelan,” kata Misty takjub.


Tuan Kokabura bersiul kagum melihat kemampuan Misty.


“Sudah lama tidak melihat ayunan pedang. Kalian tahu, di Martian hampir tidak ada orang yang menggunakan pedang sebagai senjata. Terlalu old school… tapi sekarang aku melihat pendekar pedang cantik dari Cydonia. Dan hatiku yang sudah lama dingin ini kembali diliputi kehangatan setiap melihat ayunannya,” kata Tuan Kokabura kepada mereka.


Lamia sampai harus menggigit lidahnya untuk menahan tawanya. Begitupun Mick dan Daniel. Misty mendengus pelan mendengarnya. Tapi dia tak berkomentar apa-apa.


“Nah, sekarang giliranmu, Nona cantik,” kata Tuan Kokabura pada Lamia. “Ladies First,” tambahnya sambil melirik Mick dan Daniel.


Lamia mengambil twingunnya terlebih dahulu. Rasanya memang sedikit lebih berat. Begitu menyentuh pegangan pistol itu, Lamia merasakan aliran ether masuk ke tubuh melalui jemarinya. Lamia mengangkat Orthus dan Cerberus lalu bersiap menembak. Tapi mendadak terdengar raungan sirine yang memekakan telingan. Dengan sangat terkejut Tuan Kokabura mematikan mode latihan dan mengembalikan tampilan ruangan itu menjadi seperti semula. Ia kemudian berlari keluar diikuti Lamia dan yang lainnya.


Betapa terkejutnya mereka semua ketika berdiri di atap bengkel Tuan Kokabura. Setidaknya tidak kurang dari lima puluh pesawat tempur Martian tengah terbang di atas kota Borealis sambil melesatkan tembakan beruntun hingga menghancurkan kota. Desing peluru dan suara ledakan serta teriakan panik mewarnai kota itu.


“Bagaimana pasukan Martian bisa tahu kita di sini?” tanya Mick.


“Ada pengkhianat di antara kita,” jawab Lamia.


“Pastinya bukan dari pihakku. Aku bisa menjamin rakyatku memiliki kesetiaan yang tinggi. Kami tidak akan melakukan hal rendah semacam ini,” kata Tuan Kokabura.


“Kita akan mencari tahu siapa orang itu. Tapi sebelumnya, kita harus menghadapi pasukan Martian ini dulu,” kata Misty.


“Itu pun bila kita bisa lolos dari sergapan mereka,” kata Daniel.


Shira tak berkata apa-apa. Hanya raut mukanya menampakkan kecemasan yang dalam. Lamia berusaha menembaki pesawat-pesawat itu, namun sia-sia saja karena pelurunya bahkan tidak dapat menggoresnya. Begitu pula dengan Misty. Pedangnya hanya dapat berguna untuk pertempuran jarak dekat. Meskipun ayunan pedangnya menghasilkan gelombang udara yang cukup kuat, namun jarak pesawat itu terlalu tinggi untuk dapat dicapai.


Hanya Daniel yang lumayan berguna saat itu. Dengan sihir-sihir pertahanannya, serta bantuan dari batu Ephestus yang baru dipasang di tongkatnya, ia merapal mantra pertahanan yang melindungi seluruh area kota dari serangan. Begitu ia selesai dengan mantranya, semua peluru yang ditembakkan oleh pesawat tempur Martian meledak sebelum mencapai kota.