
“Tentu saja itu rencana yang cemerlang,” komentar Mick menanggapi logika Lamia.
Lamia merasa begitu marah. Bagaimana bisa ia tidak memperhatikan hal itu. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila rakyat Cydonia tak dapat ia selamatkan. Amarah memenuhi dadanya setiap mengingat Balder. Ia yakin sepenuhnya ini adalah ulah anak itu. Sejak Balder kembali dari Bumi, Lamia sedikitpun tak bisa mempercayainya. Anak itu telah memanfaatkan Lamia untuk melindungi ulah jahatnya di Martian. Bila saat itu Lamia benar-benar berubah menjadi gaian, mungkin Balder tidak akan bisa melakukan hal ini tanpa dicurigai. Ia sedikit menyesal dengan keputusannya meminum antidoksin yang diberikan Mick.
“Kita hampir sampai,” kata Mick.
Bumbungan asap gelap masih menggantung di udara. Mereka terus terbang menuju sumber asap itu, dan benar saja, di tempat yang tadinya berdiri rumah pengungsian penduduk Cydonia telah berubah menjadi lautan api. Pepohonan terbakar dan di bawah sana terdengar hiruk pikuk teriakan dan lolongan yang menyayat hati. Seabreacher bukanlah kendaraan perang dan tidak dilengkapi dengan senjata apapun di badan pesawat. Begitu mendekati sisi hutan yang tidak terlalu terbakar, mendadak sebuah lecutan cahaya menyambar pesawat itu dan membuatnya hilang keseimbangan. Lamia dan Mick segera melompat keluar sebelum Seabreacher yang mereka tumpangi mencium tanah dan meledak dengan suara bedebam keras.
Api menyala-nyala di berbagai tempat. Medan pertempuran itu seakan dilingkupi oleh kobaran merah yang panas membakar. Entah berapa banyak gaian tampak menyerang dengan buas. Beberapa orang yang bertahan terus berjuang untuk melawan para monster itu. Lamia dan Mick segera menyerbu masuk ke dalam pertempuran itu. Dengan lincah Lamia meliuk menghindari serangan gaian dan lalu menembakkan pistolnya menembus kepala para gaian. Gerakannya sangat efektif dan ia mampu menggunakan kedua tangannya untuk menembak ke arah yang berbeda dengan tepat sasaran.
“Ini tak ada habisnya, Mick. Orang yang terinfeksi semakin banyak dan membuat kita kalah jumlah,” kata Lamia sambil berkelit dari serangan gaian. Detik berikutnya kepala gaian itu sudah hancur berkeping-keping oleh tembakannya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Mick sambil menebas kepala seorang gaian dengan belatinya.
“Aku ada ide. Berdoalah ini akan berhasil,” ucap Lamia. Ia mengingat kejadian di lubang Cydonia tadi. Burung emas yang ditembakkan oleh pistolnya secara otomatis mencari dan menghancurkan target-target yang ada di dalam pikiran Lamia, seperti inti batu Ephestus dan bebatuan dari gunung yang runtuh. Maka dengan segenap hati Lamia memusatkan pikirannya pada para gaian yang ada di sekitarnya sambil mengangkat Orthus dan Cerberus di depannya. Ia memejamkan mata sambil mengatur nafas. Lamia bahkan tak menghiraukan Mick yang bertanya apa yang dilakukannya.
...Akulah jiwa dari senjataku....
...Lebih cepat dari cahaya....
...Lebih kuat dari baja....
...Jiwaku mencari keadilan...
...Kedamaian dalam kekacauan...
...Dengan semangatku,...
...Melesatlah! Peluru Penghakiman!...
Kedua pistolnya kembali bergetar hebat. Lamia segera menarik pelatuk di kedua senjatanya sebelum kehilangan konsentrasi. Sekali lagi dua peluru emas keluar dari ujung pistolnya dan berpilin menjadi satu dan berubah menjadi burung emas yang terbang menyambar-nyambar kepala para gaian dengan secepat kilat.
“WOW!” seru Mick takjub.
Dalam beberapa menit hampir separuh gaian itu roboh dengan kepala terburai. Burung emas itu bahkan tak berhenti menyambar meski sudah berputar cukup lama. Puluhan gaian yang tersisa berlari menjauh menembus kobaran api yang menjilat-jilat ganas. Namun burung emas Lamia mengejar mereka tanpa menyerah. Akhirnya setelah semua gaian mati atau sudah berlari terlalu jauh, burung emas itu melesat ke langit lalu menghilang.
“Wow!” seru Mick tak henti-hentinya merasa takjub. “Sejak kapan kau punya kemampuan seperti itu, Mia? Apa itu yang dimaksud Lao Fen dalam ramalannya?” tanya Mick.
“Begitulah. Awalnya aku hanya mengikuti instingku, sekarang aku mulai bisa mengendalikannya,” jelas Lamia.
“Luar biasa. Pasti kekuatan batu Ephestus itu yang meningkatkan kemampuanmu,” komentar Mick.
Keadaan di Utopia sangat menyedihkan hati Lamia. Sangat sedikit orang yang selamat. Belum lagi seluruh pemukiman mereka habis dilalap api. Lamia kembali diserang rasa bersalah. Ia merasa telah gagal melindungi orang-orang ini. Ia bimbang akan rencananya sendiri yang harus menelan banyak korban. Selang beberapa waktu, Lamia menemukan Misty yang tergeletak bersimbah darah. Lamia segera menyongsongnya berharap gadis itu masih hidup.
“Misty...” desah Lamia setelah mencapai tubuh Misty. Syukurlah Misty masih bernafas.
“Mia... syukurlah kau datang di saat yang tepat,” kata Misty lemah.
“Maaf... maafkan aku karena tidak bisa melindungi kalian,” kata Lamia sedih.
Misty menggeleng.
“Jangan menyalahkan dirimu,” jawab Misty. “Percayalah, semua ini pun pasti berlalu,” lanjut Misty.
Kata-kata Misty membuat Lamia merasa lebih baik. Benar. Semua ini pasti berlalu. Lamia tidak boleh menyerah sekarang. Ia harus terus maju menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
...***...
Pagi pun menjelang. Kobaran api telah padam menyisakan puing-puing rumah pohon yang telah berubah menjadi abu. Lebih dari separuh orang yang ada di Utopia harus kehilangan nyawa. Meski begitu Misty, Shira dan Daniel berhasil bertahan. Ketiganya tak dapat menahan kesedihan ketika mendengar kabar bahwa mereka kehilangan Ament Komara.
“Aku tidak tahu bagaimana aku akan mengatakan hal ini pada istri dan anaknya,” rintih Misty menahan kegetiran.
“Apa kau bilang?! Lalu bagaimana dengan Salem? Bagaimana keadaannya?!” seru Shira setengah histeris.
“Salem baik-baik saja. Namun dia begitu terpukul karena kehilangan kakaknya. Kau tahu betapa dekatnya mereka berdua,” jawab Mick.
“Mick, kumohon, aku harus bertemu dengan Salem. Aku harus menghiburnya,” pinta Shira.
“Kalau begitu ikutlah dengan kami ke Cydonia,” ajak Mick.
Tanpa berkata-kata lagi Shira segera berlari menuju satu-satunya Seabreacher yang masih layak digunakan dan menunggu Lamia serta Mick selesai bicara. Lamia sendiri tak dapat berkata-kata. Rasa sesalnya bahkan jauh lebih besar ketika membayangkan ia telah membuat seorang istri dan anak kehilangan suami dan ayahnya. Andai ia tidak memaksa Kovf untuk mencari batu Ephestus. Andai ia tidak berhasrat untuk berperang melawan Martian. Andai...
“Kita memang telah banyak kehilangan, namun ini tidak sia-sia. Kita memperjuangkan hal yang benar. Karena itu kita tidak perlu takut,” kata Mick seakan bisa membaca pikiran Lamia.
“Mick benar. Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan,” hibur Misty.
Lamia merasa sedikit lebih tegar mendengar kata-kata Mick. Sahabatnya itu benar, mereka berjuang untuk kebaikan. Ia yakin keadaan ini akan berubah. Semua ini pasti berlalu.
“Kita tidak boleh tetap berada di sini. Para gaian itu pasti akan menyerang kita lagi bila tetap di sini. Meski kita menggunakan mantra pertahanan sekalipun, gaian itu tetap bisa menemukan kita dengan instingnya membaui darah manusia,” kata Lamia kemudian.