
Misty tampak berpikir sejenak. Penjara Agathadaemon dilindungi secara ketat dengan berbagai lapisan pelindung sihir yang membuat segala jenis komunikasi dari dalam dan luar terputus. Terlebih Misty pun, seperti kebanyakan orang Cydonia, memilih untuk tidak memasang microchip di kepalanya sebagai alat bantu komunikasi. Karena itu tak ada cara lain untuk mengetahui kondisi di dalam sana selain datang sendiri dan melihat keadaannya. Tapi ia tidak ingin membahayakan lebih banyak pasukannya untuk melakukan hal itu.
“Tidak perlu. Biar aku sendiri yang kesana. Siapkan beberapa orang untuk menemaniku. Aku akan berangkat sore nanti,” perintah Misty kemudian.
“Siap, Komandan!” seru sang prajurit lalu berjalan pergi.
Misty merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia sedikit khawatir dengan perjalannya ke Agathadaemon. Ia tahu reputasi penjara itu, dan karenanya mungkin sekali akan terjadi sesuatu dalam kunjungannya sore nanti. Tapi buru-buru Misty menepis keraguannya. Ia kembali fokus pada layar hologramnya dan memeriksa beberapa kasus yang harus segera ditangani.
Tak terasa jam makan siang pun tiba. Misty segera bersiap-siap untuk menemui Kovf di Istana. Namun sebelum itu, mungkin ia harus pergi makan siang. Sejak pagi perutnya belum terisi. Ia pun segera melesat ke Asklepius, salah satu kedai langganannya yang kebetulan jaraknya cukup dekat dengan Istana.
Seperti biasa Asklepius cukup ramai saat jam makan siang. Kedai ini sekarang dikelola oleh Hebe Klorin, adik kandung Mick Klorin, salah satu teman yang ia kenal saat di Cydonia. Setelah memesan, Misty segera duduk di salah satu meja di dekat jendela. Ia selalu menyukai pemandangan yang ia lihat dari jendela. Meski begitu ia tetap selalu merindukan nuansa Cydonia yang tidak akan bisa ditemui di Martian.
“Misty,” panggil seseorang. Misty menoleh penasaran.
“Ah, Mick. Kau di sini?” kata Misty kemudian. Mick segera duduk di hadapan Misty sambil tersenyum riang.
“Iya. Aku ada janji bertemu dengan Mia siang ini. Tapi sepertinya dia terlambat,” kata Mick bersemangat.
“Pantas saja kau tampak ceria,” komentar Misty.
“Begitulah. Akhir-akhir ini sulit sekali bertemu dengannya. Apalagi setelah dia kembali bekerja di pangkalan. Dia tipe orang yang memilih pekerjaan daripada hal lain,” keluh Mick sambil menghela nafas.
“Tentu saja dia sibuk. Hampir setiap hari terjadi penyerangan pasukan Gaia ke Martian. Sudah sewajarnya Pasukan Antariksa selalu waspada,” hibur Misty.
“Dan lagi dia setiap hari bisa bertemu Aeron,” kata Mick muram.
“Memangnya kenapa dengan Aeron?”
“Ah, tidak ada. Lupakan.”
“Kau sangat menyukai Lamia, ya Mick. Aku benar-benar iri dengan caramu memperhatikan dia,” kata Misty kemudian.
“Tidak. Kau salah. Aku tidak menyukai Mia. Aku mencintainya,” kata Mick terkekeh. “Aku sangat mencintainya. Tak ada perempuan lain yang lebih kucintai selain Mia,” lanjut Mick sungguh-sungguh.
“Iya. Aku tahu. Pasti Lamia benar-benar bahagia bersamamu.”
“Entahlah.”
“Kenapa kau pesimis begitu. Kurasa Lamia juga sangat mencintaimu.”
“Menurutmu begitu?” tanya Mick mendadak bersemangat.
“Tentu saja. Aku bisa merasakannya dari cara Lamia menatapmu. Dia menatapmu penuh arti,” kata Misty setengah berbisik agar terkesan misterius.
“Benarkah?” tanya Mick.
Misty mengangguk mantap.
“Kau memang selalu bisa membuatku kembali bersemangat. Terimakasih dukunganmu,” kata Mick yang kembali tersenyum lebar.
“Tak masalah. Aku senang bila teman-temanku bahagia,” sahut Misty tersenyum.
“Kau memang luar biasa. Ngomong-ngomong aku sebenarnya masih penasaran dengan kisahmu menaklukkan Borealis. Jadi bagaimana ceritanya?” tanya Mick kemudian.
“Ah… itu… bukan hal yang luar biasa sebenarnya,” jawab Misty berusaha mengelak.
“Kau terlalu rendah hati. Ceritakanlah,” bujuk Mick.
Mick mengangguk penuh semangat. Akhirnya Misty menyerah. Setelah menarik nafas panjang ia pun mulai bercerita.
“Sebenarnya pasukanku sama sekali tidak bertarung melawan para pandai besi. Begitu kami sampai di bibir lembah, sepertinya ada semacam alarm anti penyusup yang menyadari kedatangan kami. Tak lama setelahnya, kami diserang oleh kraken,” Misty berhenti sejenak, menarik nafas berat mengingat kenangan buruknya melawan senjata Tuan Kokabura.
“Kami sama sekali bukan tandingan kraken, kau tahu. Dan setelah perlawanan sia-sia selama beberapa jam, dan setelah aku kehilangan beberapa pasukanku, Tuan Kokabura naik ke bibir buki, menemui kami,” lanjut Misty dengan wajah kecut.
“Lalu…?” tanya Mick penasaran.
“Yah, Tuan Kokabura bilang, dia belum pernah melihat seorang petarung pedang sebelumnya. Jadi dia… sedikit… tertarik padaku dan membawa kami ke kota,” jelas Misty dengan wajah merah padam.
Selama beberapa detik Mick terdiam, tak tahu harus berkomentar seperti apa.
“Emm… luar biasa,” kata Mick setelah mendapatkan kata yang tepat.
“Aku tahu, itu memalukan…”
“Tentu saja tidak. Aku yakin Tuan Kokabura tidak akan kagum pada sembarang orang. Kau memang punya potensi,” kata Mick mencoba menghibur.
“Benarkah?” tanya Misty tak yakin.
“Tentu. Lalu bagaimana pekerjaanmu? Apa semua lancar? Bagaimana perkembanganmu dengan kasus Balder?” tanya Mick mencoba mengalihkan topic pembicaraan.
Misty menggeleng pelan.
“Beberapa orangku yang kukirim ke Agathadaemon belum kembali sejak dua hari yang lalu. Tak ada kabar dari mereka. Jadi kurasa sore ini aku sendiri yang harus kesana dan menemui Balder,” kata Misty kemudian.
“Kau akan ke Agathadaemon?” tanya Mick.
“Begitulah. Kurasa memang ada sedikit masalah yang harus diselesaikan. Lagi pula tak nyaman rasanya terlalu lama membiarkan gaian berada di Martian, sekalipun itu di dalam penjara,” jelas Misty.
“Tunggu sebentar di sini,” kata Mick yang kemudian berjalan ke arah meja bar. Tak lama kemudian pemuda itu kembali dengan sebotol ramuan berwarna ungu cerah.
“Bawa ini. Hanya untuk jaga-jaga,” kata Mick memberikan ramuan itu.
“Antidoksin?” tanya Misty.
Mick mengangguk sekali.
“Baiklah, akan kuterima. Terimakasih Mick,” kata Misty memasukkan Antidoksin ke dalam saku seragamnya.
“Ah, itu Mia datang,” kata Mick sambil melambai ke arah meja Bar.
Misty menoleh dan melihat seorang gadis cantik berambut merah berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. Tapi senyuman gadis itu segera memudar ketika melihatnya.
“Kau terlambat,” kata Mick setelah Lamia sampai di meja mereka.
“Aku tak tahu kau mengundang Misty,” sahut Lamia masih menatap Misty.
“Kami hanya kebetulan bertemu. Dan aku juga harus segera pergi. Jadi, bersenang-senanglah,” jawab Misty tersenyum. Ia pun meninggalkan meja itu dan beranjak pergi.
Misty memarkir Scarabnya di atas atap istana yang luas. Ia segera memasuki bengunan itu dan menuju ke perpustakaan Istana. Ia menduga, Kovf pasti berada di sana. Kovf adalah orang yang selalu menyibukkan diri dengan membaca buku. Terlebih bila ia sedang menghadapi masalah. Kedatangan Shira pagi tadi tentunya menimbulkan masalah bagi Kovf, dan sudah menjadi tugasnya untuk mendinginkan hati kakak angkatnya tersebut.
“Sudah kuduga kau di sini,” kata Misty ketika melihat Kovf berdiri di antara rak-rak buku.
“Halo Misty,” sambut Kovf. “Shira baru saja kemari.”