Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Enchanter Air



“Hentikan melakukan itu, Mick!” seru Lamia kesal karena Mick mengacak rambutnya.


Mick hanya tertawa ringan.


“Seperti biasa ya, Mick. Cepat dan efisien,” tiba-tiba Misty berkomentar.


Lamia sedikit mengerutkan dahi.


“Kau tahu apa yang Mick lakukan pada tempat ini?” tanya Lamia pada Misty.


“Yah, aku pernah melihatnya beberapa kali. Dia berlatih bersama Salem di kastel. Terakhir kali ia menggunakannya, barakku hancur lebur dibuatnya,” jawab Misty.


“Ah, itu kecelakaan. Aku benar-benar tidak sengaja. Kenapa kau masih mengingatnya, sih?” canda Mick sambil terkekeh.


“Bagaimana mungkin aku lupa. Asal kau tahu, kau hampir membunuh puluhan prajurit Cydonia,” sahut Misty.


Lamia terdiam sejenak. Entah mengapa ada perasaan aneh di hatinya. Mick dan Misty masih terus bicara tanpa mempedulikannya, dan itu membuatnya kesal. Terlebih lagi ia benar-benar terkejut menyadari ternyata ia tidak banyak mengenal Mick seperti yang ia duga sebelumnya. Tapi Lamia segera menepis perasaan itu dan kembali fokus pada apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Hampir menjelang malam ketika akhirnya orang-orang itu berhasil mendirikan pemukiman sederhana bagi para pengungsi. Lamia dan yang lainnya segera berkumpul di rumah kayu sederhana untuk melanjutkan pembicaraan mengenai rencana mereka.


“Aku sudah membuat peta kasar daerah ini sesuai dengan yang kuingat. Tempat terdekat dari Utopia Planatia adalah Bendungan Besar Syrtis Major Planum di sebelah barat, dan aera tambang di Lembah Borealis di sisi timur. Terakhir Isidis Planatia yang terletak di sisi barat Bendungan Syrtis Major Planum. Kita akan membagi pasukan menjadi dua.


"Penduduk Lembah Borealis sebagian besar adalah para pandai besi dengan senjata berat dan mengandalkan pertarungan jarak dekat. Sementara itu Syrtis Major Planum penuh berisi para enchanter air. Kita harus mempertimbangkan pembagian pasukan kita yang terbatas ini,” jelas Lamia.


“Kalau begitu, biar aku dan pasukan pedangku yang mengurus Lembah Borealis. Kurasa kami bisa mengimbangi mereka,” kata Misty menawarkan diri.


Lamia mengangguk menanggapi.


“Aku setuju dengan hal itu. Tapi tetap berhati-hati. Para pandai besi mungkin tidak seterampil kalian dalam pertempuran. Tapi senjata mereka harus kalian waspadai,” pesan Lamia yang dibalas dengan anggukan tegas oleh Misty.


“Dan sebisa mungkin jangan terlalu banyak membunuh. Kita membutuhkan sebanyak mungkin tambahan pasukan,” lanjut Lamia. “Lalu aku sendiri akan mengurus Syrtis Major Planum. Kurasa aku punya rencana,” kata Lamia lagi.


“Aku juga ke Syrtis Major Planum kalau begitu,” mendadak Mick bersuara.


Lamia mengangguk singkat. Akhirnya setelah beberapa saat, pertemuan mereka pun berakhir. Malam itu, seperti biasa, Lamia tetap terjaga. Mick mencoba menemani Lamia tapi rasa kantuk akhirnya mengalahkan tekadnya. Lamia pun sepenuhnya sendirian malam itu. Ia merasa sedikit iri pada Mick dan pada orang-orang lain yang bisa menikmati tidur dengan nyenyak.


Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Lamia merasa mengantuk, dan ia kini menjadi begitu merindukan sensasi itu. Perasaan hampa mulai menyusupi hatinya dan kekecewaan mulai mendatanginya. Mengapa hal-hal buruk ini harus terjadi padanya? Apakah suatu saat nanti ia pun akan berubah menjadi seorang gaian? Pertanyaan demi pertanyaan mencercanya dan membuatnya nyaris putus asa.


Tiba-tiba ia merasa wajahnya dibelai lembut oleh angin sepoi yang penuh dengan aroma maple. Rambut merahnya yang sewarna darah berkibar dihembus angin. Angin Utopia Planatia. Secara perlahan pikirannya kembali tenang dan ia merasa sedikit rileks. Entah mengapa angin Utopia Planatia dapat menimbulkan sensasi menenangkan baginya.


Hati Lamia menjadi lebih tenteram sekarang. Ia bahagia mendapati dirinya masih bisa merasakan hembusan angin dengan kulitnya. Ia masih bernafas dan jantungnya pun masih berdegup mantap. Ia seorang manusia. Ia sama sekali bukan gaian.


Pagi pun tiba tanpa terasa. Lamia – yang terjaga semalaman – sudah siap untuk berangkat menuju Syrtis Major Planum dengan rencana matang di kepalanya. Ia hanya membawa selusin pasukan yang sebagian besar adalah enchanter. Lamia sudah hampir berangkat ketika Mick akhirnya terbangun. Dengan tergesa-gesa ia pun menyusul rombongan Lamia menuju Syrtis Major Planum.


Ternyata menembus Utopia Planatia tidak semudah yang dibayangkan Lamia. Semakin ke dalam, pepohonan semakin lebat dan tumbuh begitu rapat. Setelah berhari-hari menempuh perjalanan dalam hutan yang gelap, akhirnya rombongan itu mencapai pinggir hutan. Cercah-cercah cahaya menelisik masuk ke hutan melalui celah-celah dedaunan. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi.


“Sebentar lagi kita akan mencapai perbatasan Syrtis Major Planum. Aku tidak yakin kita bisa menang melawan para enchanter air,” komentar Mick mendekati Lamia yang duduk di sebuah batu besar.


“Memang kita tidak akan menang melawan penyihir air di tempat penuh air seperti bendungan. Kita pasti akan kalah bila melawan mereka di daerah kekuasaan mereka. Kita harus memancing harimau turun gunung,” jawab Lamia.


“Memancing harimau turun gunung?” tanya Mick.


“Kita harus memancing mereka menjauh dari bendungan dan mendatangi kita,” terang Lamia.


“Bagaimana caranya?”


“Aku berpikir untuk membuat keributan di daerah perbatasan ini. Mungkin membakar hutan ini.”


“Tapi meskipun begitu apa kau yakin kita bisa menghadapi mereka? Secara jumlah mereka jauh lebih banyak. Kita cuma berempat belas disini.”


“Sebagian besar enchanter kita tinggal di Cydonia untuk menarik energi. Hanya ini yang tersisa di pengungsian. Sementara itu pasukan pedang pergi bersama Misty ke Lembah Borealis," kata Lamia memaparkan kenyataan.


Mick menghela nafas pelan menyadari keadaan mereka.


“Tapi sebenarnya aku tidak berniat untuk mengalahkan mereka. Aku ingin membawa mereka sebagai pasukan kita,” lanjut Lamia.


“Hah? Bagaimana...”


“Sudahlah ayo kita jalankan rencana,” potong Lamia yang kemudian memberi komando pada selusin pasukan penyihirnya.


Mereka pun mulai memercik api dan membakar pepohonan hingga terjadi kebakaran hutan yang cukup besar. Tiupan angin Utopia Planatia seakan membantu rencana mereka dan membuat api menyebar dengan cepat. Mereka kemudian bersembunyi di balik api sambil menunggu datangnya para penyihir air dari Syrtis Major Planum yang sebentar lagi pasti sampai di tempat itu.


Lamia sudah memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang para penyihir air, namun menangkap mereka hidup-hidup. Dengan jebakan itu Lamia yakin para penyihir air akan lengah dan lebih mudah ditangkap.


Akhirnya setelah beberapa saat, para penyihir yang ditunggu pun tiba. Kurang lebih dua puluh enchanter air yang mengendari sepuluh Seabreacher – kendaraan yang bisa menyelam di dalam air dan terbang di udara – datang dan memulai merapal mantra untuk mengeluarkan air dari tongkat-tongkat kayu untuk memadamkan hutan. Selama beberapa saat Lamia menunggu hingga kebakaran sedikit mereda hingga kemudian ia memberi tanda pada pasukannya untuk mulai menyergap.


Kilatan-kilatan cahaya berbagai warna – ungu, hijau, kuning, dan sebagaianya – melecut dari berbagai penjuru menyerang para enchanter air. Kawanan itu, yang begitu terkejut, mengelak tak tentu arah dan mulai memasang mantra perlindungan.


Beberapa orang tampak terluka atau terikat oleh ikatan ether yang mungkin dilecutkan oleh salah satu pasukan Lamia. Namun beberapa orang lainnya berhasil lolos dan mulai mencari sumber serangan.


...***...