Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Keputusan



Mick membawa Lamia menuju ruang kerja Kofv, ruangan yang didatangi Lamia saat pertama datang ke kastel. Sepanjang perjalanan Lamia kembali menceritakan apa yang didengarnya dari Lao Fen.


“Aku sudah lama mengetahuinya,” jawab Mick jujur.


“Kau tidak pernah bilang padaku. Saat terakhir kali aku ke Asklepius, sebelum aku pergi ke Bumi, kenapa kau tidak memberitahuku?” sergah Lamia marah.


“Lalu apa? Kau mau melakukan apa kalau kau tahu saat itu? Aku mempertimbangkan sifatmu yang meledak-ledak, Mia. Kau tidak bisa bertindak gegabah dalam situasi seperti ini,” ujar Mick yang langsung berbalik menatap Lamia.


Lamia menghela napas panjang. Apa yang dikatakan Mick memang benar. Ia mungkin tidak akan bisa bersikap tenang bila mengetahui hal ini lebih cepat. Lamia benar-benar harus memperbaiki tabiatnya yang emosional.


“Berpikirlah dengan kepala dingin. Tidak akan ada yang berhasil bila kau kehilangan kesabaran,” ucap Mick sembari menepuk bahu Lamia.


Lamia mengangguk. “Itulah kenapa aku membutuhkanmu, Mick.”


Mick tersenyum menanggapi. “Sebetulnya aku ingin mengatakan hal ini padamu saat kita pertama sampai di Cydonia. Namun Lao Fen menahanku. Dia mengajukan diri untuk memberitahumu.”


“Kurasa pilihan Lao Fen cukup bijaksana. Aku akan sangat marah bila kau yang mengatakannya padaku. Akhir-akhir ini aku mudah kesal padamu,” kata Lamia jujur.


Mick mendengus. “Aku tidak bisa membantah. Kurasa aku memang cukup menyebalkan akhir-akhir ini.”


Lamia tersenyum simpul. “Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, Mick. Tapi kuharap kau tahu kalau aku sangat mempercayaimu,” kata Lamia sungguh-sungguh.


“Instingmu selalu tajam, Mia. Itu kelebihanmu yang sangat kukagumi. Maafkan aku yang tidak bisa menjelaskan semuanya secara langsung. Ada banyak hal yang kupertimbangkan. Tapi percayalah, apapun yang kulakukan sama sekali bukan untuk kepentinganku. Aku hanya menuntunmu menuju takdirmu sendiri, Mia. Aku seorang alkemis. Aku tidak mungkin berbohong untuk hal-hal yang memang sudah digariskan oleh semesta. Kau tahu itu,” jawab Mick sambil mentap Lamia dengan ekspresi yang lembut.


Lamia sekali lagi menghela napas panjang. Ekspresinya pun turut melembut. “Aku tahu,” ucap Lamia dengan senyum kecil.


“Tapi apakah Aeron dan Bella merupakan kaki tangan Balder?” tanya Lamia sambil mempersiapkan hati akan apapun jawaban Mick.


Kini giliran Mick yang menghela napas panjang. “Kurasa Bella tidak bermaksud untuk menjadi kaki tangan Balder. Pangeran itu sangat licik, sementara Bella adalah orang yang naïf. Bella hanya berharap adiknya berubah. Ia tahu segalanya, tapi memilih menutup mata pada tingkah laku Balder selama ini. Karena itu Balder bisa menjalankan rencana busuknya dengan memanfaatkan kakaknya, ” jelas Mick.  Ia sengaja tidak membahas Aeron agar tidak lebih banyak melukai Lamia. Namun sahabatnya itu masih menatapnya dalam diam, seolah menunggu kelanjutan penjelasan Mick.


“Dan untuk Aeron… kau tahu sendiri bagaimana laki-laki itu bersikap di hadapan Bella. Dia hanya akan menuruti apapun perintah Ratu,” rangkum Mick dalam satu tarikan napas.


Ternyata tanpa diduga, Lamia cukup tegar menerima kabar itu. Mungkin perasaannya pada Aeron mulai terkikis karena beberapa peristiwa yang terjadi belakangan. Lamia hanya memasang ekspresi datar, perasaannya pun tidak terlalu terluka seperti yang dia bayangkan.


“Kurasa aku sekarang tahu bagaimana posisiku di mata Aeron. Bila dia memang berniat melakukan gencatan senjata denganku, akan kulayani,” ucap Lamia menanggapi. Mick tersenyum lega mendengar jawaban Lamia.


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ruang kerja Kofv. Ruangan itu cukup luas dengan kabinet-kabinet kayu berjajar memenuhi dinding. Lantai batu di ruangan itu dilapisi karpet merah yang sama dengan yang digunakan di koridor. Kisi-kisi berbentuk celah kecil berjajar di bagian atas dinding batu. Sebuah lampu Kristal besar menggantung di tengah ruangan. Kofv terlihat duduk di balik sebuah meja kayu setengah lingkaran berukuran besar yang berada di ujung ruangan. Ia mendongak ketika melihat Mick dan Lamia berjalan masuk.


“Halo Mick, Lamia,” sapa Kofv sambil tersenyum dari balik kacamata perseginya.


“Halo Kofv,” balas Mick yang langsung duduk di sofa di tengah ruangan. Lamia mengikutinya dan duduk di sebelah Mick.


“Ada masalah apa?” tanya Kofv lantas berdiri mendatangi tempat duduk Lamia dan Mick. Set sofa itu memiliki meja oval rendah yang terbuat dari kayu. Sebuah sofa panjang abu-abu dan dua sofa kecil dengan warna senada menjadi rangkaian perabot tersebut.


“Buku itu. Lamia sudah mengetahuinya,” ujar Mick.


Raut muka Kofv berubah santai. “Ah… aku sudah menunggu-nunggu saat ini,” kata Kofv sembari duduk di depan Mick dan Lamia.


“Apa yang kau inginkan dariku, Kofv?” tanya Lamia yang langsung dapat membaca arah pembicaraan.


Ia tahu dibalik sambutan baik orang-orang Cydonia ini, tentunya ada sesuatu yang harus dia lakukan untuk mereka. Hal yang sudah tidak mengherankan tentu saja. Lamia sudah terbiasa berada di posisi tawar-menawar seperti ini. Hal yang sedikit mengusiknya adalah kenyataan bahwa Mick terlibat dalam hal ini. Ia biasanya bisa mempercayai Mick dengan segenap hati, namun akhir-akhir ini ia merasa Mick menyimpan terlalu banyak hal darinya. Ditambah fakta bahwa kemungkinan besar Aeron dan Bella juga berkonspirasi untuk menghancurkannya. Apa rencana mereka semua?


“Aku pribadi tidak tahu apa rencana Balder sebenarnya, namun fakta bahwa gaian sudah mulai merebak di Martian bukan berita baik. Dan itu pun mempengaruhi kita di Cydonia. Seperti yang kau tahu, daerah ini relatif aman karena terlindung oleh anomali ether yang kuat. Meski begitu, beberapa gaian nyatanya tidak terpengaruh oleh anomali tersebut. Beberapa kali Misty menghadapi serangan gaian di perbatasan Tartarus Montes dan bahkan kaki Elysium Mons. Kita tidak bisa membiarkan gaian-gaian ini menguasai Mars seperti yang mereka lakukan di Bumi.


“Namun menurut pengamatan Lao Fen, gaian-gaian yang ada di Martian berbeda dengan gaian yang ada di Bumi. Gaian-gaian ini tidak brutal seperti seharusnya. Mereka bahkan mampu menyembunyikan diri dengan baik dan menahan rangsangan darah segar selama beberapa waktu. Makhluk-makhluk ini seperti dikendalikan oleh sesuatu. Dan itu sudah pasti ulah Balder Wade. Kabar buruk lainnya, bila dia bisa mengendalikan gaian sebanyak itu, berapa banyak korban yang sudah jatuh karena kekuatannya. Kita harus menghentikannya,” terang Kofv panjang lebar.


“Kita harus mengalahkan sumbernya, Kofv,” balas Lamia rasional.


“Benar. Tapi kita tidak punya kekuatan sebesar itu. Kita tidak mungkin menerobos dan menyerbu Istana begitu saja. Satu-satunya jalan saat ini adalah memburu gaian-gaian yang berkeliaran. Kau punya banyak pengalaman melawan gaian. Karena itu kami membutuhkan kekuatanmu,” lanjut Kofv.


“Apa gunanya mencabuti parasit-parasit itu bila kita tidak membunuh akarnya. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Balder bisa menciptakan pasukan gaian semudah membalikkan tangan. Musuh kita sebenarnya adalah orang itu. Dia yang harus dihancurkan,” sergah Lamia.


Kofv tampak menghela napas murung. “Aku juga berharap kita bisa melakukannya. Tapi untuk saat ini, kita tidak punya kekuatan apapun untuk menjatuhkan Martian.”


“Akan kupikirkan caranya. Perang ini bukan sekedar melawan gaian. Ini adalah perangku, melawan orang-orang brengsek yang membenciku” tutup Lamia. 


...***...