Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Lembah Borealis



Rombongan pengungsi Cydonia yang dipimpin Misty dan Daniel sudah tak terlihat lagi. Tampaknya mereka sudah berada jauh di depan Lamia.


Puluhan pengungsi itu tidak mengendarai Seabreacher seperti Lamia dan yang lainnya. Karena banyaknya jumlah mereka, Melight meminjamkan beberapa kapal terbaiknya yang dapat memuat hingga ratusan orang. Kapal itu sudah berlayar mendahului Lamia dan mungkin sudah hampir mencapai Lembah Borealis.


“Kita hampir sampai,” kata Mick.


Keenam Seabreacher mulai menukik dan bersiap untuk pendaratan di atas air. Sungai Phillias yang berwarna biru terang meliuk-liuk cantik membelah hutan Utopia Planatia. Sungai itu cukup lebar dan dalam sehingga semua Seabreacher dapat mendarat dengan mudah. Arusnya pun relatif tenang dan meski bergerak ke arah yang berlawanan, namun tak ada kesulitan berarti yang menghalangi perjalanan mereka.


Tidak seperti yang diduga Lamia, ternyata Seabreacher memang sangat handal mengarungi sungai. Meski melewati medan yang meliuk-liuk namun kendaraan itu sama sekali tidak sulit dikendalikan, seakan ia memang diciptakan untuk berlayar di air alih-alih terbang di udara.


“Hutan ini benar-benar luas,” komentar Lamia. Sudah lebih dari satu jam dan mereka bahkan belum melihat hal lain selain pepohonan yang rimbun di sisi kanan kiri sungai.


“Tentu saja, hutan ini harus memproduksi begitu banyak oksigen,” kata Mick.


“Sejujurnya aku sedikit khawatir, Mick,” kata Lamia tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan.


“Apa yang kau khawatirkan?”


“Berapa banyak lagi korban yang harus jatuh. Belum lagi saat nanti kita harus menyerang Terra Sabaea, akan banyak warga sipil yang menjadi korban. Bisakah kita tidak melakukan perang terbuka?” tanya Lamia.


“Kurasa tidak, Mia. Satu-satunya jalan yang dapat kita lakukan untuk menyingkirkan pangeran brengsek itu… maaf… hanyalah dengan menyerang Istana Kerajaan di Terra Sabaea.


"Tapi sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan Bella. Bagaimanapun dia adalah Ratu Martian. Meski dia tahu kita akan menyerangnya, tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia benar-benar ada dalam posisi yang sangat sulit,” kata Mick.


Lamia menghela nafas pelan.


“Aku selalu menghormati Bella sebagai pewaris tahta kerajaan sekaligus Ratu Martian. Namun dia tidak pernah bisa bersikap tegas terhadap apa pun. Bahkan saat para tetua menekannya, dia tak bisa berbuat apa-apa. Terlebih soal adiknya….” Lamia tidak meneruskan kalimatnya karena tak dapat menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan kebenciannya.


“Kenapa kau selalu sensitif soal Bella. Ia benar-benar menyayangimu, Mia. Dan tentang Balder, dia memang patut diwaspadai…”


“Naluriku selalu tepat Mick,” potong Lamia. “Dan aku tidak sensitif terhadap Bella. Memang dia tidak punya sikap sebagai pemimpin. Selama ini Balderlah yang digadang-gadang dan dididik sebagai putra mahkota. Tapi Raja dan Ratu sebelumnya meninggal sebelum Balder cukup umur untuk menggantikan tahtanya.


"Hanya soal waktu saja sampai Balder nantinya akan menggantikan Bella. Bukankah sudah seharusnya Bella mendukung kita mengingat calon pemimpin Martian selanjutnya tidak memiliki kapasitas untuk menjadi Raja,” kata Lamia gusar.


“Bella memang tidak pernah punya keinginan menjadi Ratu. Cita-citanya adalah membuka kedai minum seperti Asklepius. Kurasa aku bisa mewariskan Asklepius pada Bella bila semua ini sudah selesai. Pasti Aeron pun memilih menemani Bella daripada jabatannya sekarang. Mereka pasti akan lebih bahagia. Bagaimana menurutmu?” tanya Mick.


Lamia terdiam beberapa saat. Ia yang sebelumnya pasti akan merasa gelisah dan marah mendengar pertanyaan Mick. Namun sekarang hatinya tidak merasakan apapun. Ia bahkan tak pernah lagi memikirkan Aeron.


“Tentu saja. Aku harap mereka bisa bahagia,” kata Lamia tulus. Ia bahkan heran dengan ketulusan kata-katanya itu. Sepertinya Lamia memang sudah melupakan perasaannya pada Aeron.


Mick, disamping itu, menatap Lamia dengan tatapan tak percaya.


“Kau tidak cemburu?” tanya Mick hati-hati.


“Cemburu untuk apa? Aku tidak pernah cemburu,” jawab Lamia kalem.


“Ayolah, mengaku saja. Bagaimanapun kau menyembunyikannya, semua orang sudah tahu tentang perasaanmu pada Aeron,” kata Mick tak sabar.


“Baik, baik, aku akan mengatakannya dengan jelas. Aku tidak punya perasaan apapun pada Aeron. Aku bahkan sudah tidak pernah memikirkannya lagi,” kata Lamia lantang.


Lamia mendengus pelan. Mick memang selalu sejujur itu terhadap perasaannya. Dan akhir-akhir ini kedekatannya dengan Mick memang membuat Lamia semakin nyaman dengannya. Meski begitu, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal tersebut.


“Bukan saatnya membicarakan hal semacam ini, Mick!” sergah Lamia ketus.


Mick hanya meringis kecil menanggapi.


...***...


Semakin jauh perjalanan Lamia menyusuri Sungai Phillias, semakin luas dan dalam sungai itu. Arus sungai rasanya lebih deras dari sebelumnya dan bukannya berkurang, pepohonan di Utopia Planatia justru lebih lebat dari sebelumnya.


“Perjalanan ini rasanya seperti selamanya,” kata Mick bosan.


“Tidak biasanya kau merasa bosan, Mick?” komentar Lamia.


“Entahlah. Sepertinya aku tidak cocok berkendara di air. Perutku mual dan rasanya sedikit pusing,” kata Mick kemudian.


“Aku baru tahu kau punya mabuk kendaraan.”


“Yah… aku pun baru tahu hari ini.”


“Bersabarlah, menurut navigasi kapal ini, sebentar lagi kita mencapai perbatasan Utopia Planatia. Coba amati tebing-tebing itu. Bukankah kita sudah mulai memasuki daerah lembah?”


Mick menengadah menatap bebatuan coklat yang mulai tampak menjulang ditengah hutan.


“Kurasa memang ini pintu masuk lembah Borealis.”


Benar saja, tak berapa lama kemudian mereka pun mencapai batas Utopia Planatia. Pepohonan semakin jarang bahkan tak ada lagi. Pemandangan berganti dengan tebing batu kecoklatan yang menjulang tinggi seakan melindungi mereka dari angin dingin Planum Boreum di atas sana.


“Lihat, itu pintu airnya. Sebaiknya kau berpegangan, Mick. Akan ada banyak goncangan saat kita melewatinya,” kata Lamia menunjuk pintu air raksasa kurang lebih setengah kilo dari rombongan Seabreacher mereka.


Lamia mempercepat laju Seabreachernya untuk mengimbangi aliran arus yang mengalir deras ke arah yang berlawanan dengan mereka.


Goncangan hebat benar-benar terjadi ketika Seabreacher bertubrukan dengan arus deras yang mengalir dari pintu air. Lamia berusaha keras mempertahankan Seabreachernya agar tidak dihempas gelombang air dari balik pintu tersebut. Akhirnya setelah perjuangan selama beberapa menit, kapalnya berhasil mencapai permukaan pintu air raksasa itu.


“Rasanya aku benar-benar ingin muntah,” kata Mick sambil membungkuk dan membekap mulutnya dengan tangan.


“Mick, lihatlah! Ini luar biasa!” seru Lamia terkesima.


“Tunggu sebentar, aku benar-benar akan muntah sekarang,” kata Mick masih sibuk dengan urusan perutnya.


“Tidak! Kau harus melihatnya,” paksa Lamia sembari menarik tubuh Mick hingga tegak kembali.


Begitu melihat pemandangan di balik kaca Seabreacernya, serta merta rasa mabuk Mick memudar. Pemandangan yang dilihatnya memang dapat membuat siapapun lupa akan apa yang tengah dirasakan sebelumnya. Hanya ada perasaan takjub memenuhi hatinya.


Kota Borealis adalah kota yang dibangun di dinding bukit. Tebing-tebing yang ada di sisi Sungai Philias dibuat berundak dengan rumah jamur dibangun di setiap undakannya. Sebuah jembatan besar yang didisain sedemikian indah membentang dari satu sisi tebing ke tebing yang lain. Jembatan megah itulah sebenarnya yang membuat Lamia dan Mick takjub.