Mars: Rise of Cydonia

Mars: Rise of Cydonia
Rencana



“Sejujurnya aku tidak bisa mengikuti rencanamu,” ujar Lamia memulai diskusinya dengan Kofv. Kalimat itu terlontar begitu saja dan Lamia langsung menyesali pilihan katanya. “Maksudku untuk memburu gaian yang berkeliaran di dekat Cydonia,” tambah Lamia.


Kofv tampak kecewa. Sekali lagi Lamia menyumpah dalam hati karena ketidaktepatan penyampaian. Ia tidak terbiasa melakukan negosiasi mengingat keseluruhan perang yang sudah dijalaninya adalah melawan makhluk tanpa akal sehat. Tapi Lamia tidak bisa menyerah hanya karena ekspresi kecewa Kofv. Cepat atau lambat Kofv harus tahu rencananya.


“Kau juga tahu kalau hal itu sia-sia. Gaian-gaian itu mampu melipatgandakan dirinya secepat aliran sungai dari Elysium Mons. Memusnahkan beberapa dari mereka tidak akan memberi dampak apapun. Justru membahayakan orang-orang di luar Cydonia. Mereka adalah penduduk Martian yang tidak bersalah,” ujar Lamia. Kali ini ia cukup puas dengan penjelasannya.


Kofv menghela napas panjang sembari membetulkan letak kacamatanya. Gestur itu meyakinkan Lamia bahwa Kofv akan segera memulai pembicaraan serius.


“Aku tahu kau akan berpikir demikian, Lamia. Tapi seperti yang sudah kukatakan tempo hari, kita tidak punya kemampuan untuk melakukan lebih dari itu. Bagaimana bisa orang buangan seperti kita menyelamatkan Martian? Keberadaan kita tak ubahnya virus bagi kerajaan,” ungkap Kofv.


Tidak ada yang salah dari kata-kata Kofv. Lamia tentu saja setuju dengan pendapat itu. Tapi nuraninya berkata lain. Ia tidak bisa membenci Martian secara keseluruhan. Hanya orang-orang kerajaan yang seharusnya mendapat hukuman atas perbuatan mereka. Bukan para penduduk.


“Sebenarnya aku menemukan beberapa hal yang menarik di perpustakaan,” kata Lamia berusaha mengarahkan pembicaraan.


Kofv tidak merespon. Ekspresinya masih datar, seolah menunggu Lamia menjelaskan lebih lanjut maksud perkataannya.


“Kita bisa memenangkan pertempuran dengan kerajaan kalau kita mendapat dukungan dari setidaknya tiga distrik besar di Martian. Terra Sabaea tidak akan bisa berkutik kalau kita bisa bergerak bersama mereka. Bahkan aku optimis, aku bisa membuat kita mengimbangi kekuatan pasukan antariksa.”


“Dengan apa, Lamia? Dengan apa kita akan meyakinkan tiga distrik besar agar mau berpihak pada kita?” Kofv akhirnya memberi respon. Ia tampak ragu dengan apapun yang akan Lamia jelaskan.


“Itulah yang kutemukan di perpustakaan. Kristal Ephestus. Di bawah kedalaman Elysium Mons.”


Seperti tersambar petir di siang bolong, ekspresi Kofv tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedua matanya membesar karena keterkejutannya. Kata-kata bahkan tak sanggup keluar dari mulutnya.


“Dengar, aku sudah punya gambaran distrik mana saja yang bisa menjadi tujuan kita. Aku mengenal Melight Ringdale, pimpinan Syrtis Major Planum, dengan cukup baik. Aku bisa bicara dengannya dan membuat distriknya menjadi sekutu kita. Lalu Valles Borealis pasti tidak akan menolak tawaran batu sihir, mengingat mereka adalah distrik pengembang senjata. Kristal Ephestus terlalu berharga untuk dilewatkan. Lalu…”


“Tunggu!” sergah Kofv memotong penjelasan Lamia. “Lamia, apa kau sadar apa sedang kau katakan saat ini?”


Lamia menatap Kofv dengan tatapan serius lalu mengangguk.


“Kau tidak salah dengar Kofv. Kristal Ephestus,” ujar Lamia mengulangi.


Kofv mendengus tak percaya. Ia lantas berdiri sambil berkacak pinggang.


“Apakah kau tahu apa resiko dari rencanamu itu?” tanya Kofv yang tampak sangat terkejut.


“Kurasa pengetahuanmu tentang Kristal Ephestus itu pasti lebih baik dariku. Jadi, ya, aku tahu resikonya.”


“Kofv, ingatlah jati diri kita! Siapa diri kita sebenarnya. Cydonia tidak bisa berdiam di sini selamanya. Leluhur kita mengorbankan nyawa untuk menghancurkan pemerintah di masa lalu. Dan sekarang kau menjadi pengecut yang bersembunyi di balik kekuatan Kristal Ephestus?”


Kofv tampak semakin emosional menengar kata-kata Lamia. Ia kembali membetulkan letak kacamatanya semata-mata karena kebiasaan saat harus menahan kesabaran. “Kau tidak tahu apa-apa, Lamia. Setelah bertahun-tahun kau hidup mewah di bawah ketiak kerajaan, apa sekarang kau merasa punya hak menjadi bagian dari kami?”


Kalimat Kofv menghujam jantung Lamia, membuat Lamia sedikit tercekat. Rasanya menyakitkan ketika orang yang tidak tahu apapun tentang hidupnya dan pengkhianatan-pengkhianatan yang sudah diterimanya, mengatakan hal semacam itu. Meski begitu Lamia masih menahan diri. Ia memahami kondisi Kofv yang mungkin terkejut hingga marah. Isu ini memang cukup sensitif untuknya, karena Kofv mungkin melihat Lamia tengah berusaha mengorbankan penduduk Cydonia untuk menjalankan rencananya. Padahal sebenarnya Lamia sama pedulinya dengan orang-orang Cydonia.


“Ini satu-satunya cara Kofv. Aku tidak mungkin membuat rencana tanpa solusi. Aku sudah memikirkannya berkali-kali, dan tentu saja aku tetap akan menjamin keselamatan orang-orang Cydonia. Aku tidak melakukannya dengan serampangan,” kata Lamia mencoba menenangkan.


“Oya? Kalau kau memang bukan orang yang gegabah, seharusnya kau tidak berada di sini sebagai buronan, Komandan Lamia,” balas Kofv sarkastik.


Tepat saat Kofv selesai mengatakan kalimat itu, tali kesabaran Lamia sudah putus sempurna. Gadis itu langsung bangkit berdiri dengan marah. Cukup sudah kesabarannya diuji. Kofv bahkan tidak mau mendengarkan rencana detailnya. Alih-alih pemuda itu justru memancing emosi Lamia dengan mengatakan hal-hal yang tidak berguna.


“Dengar, Kofv, sekali lagi kau meremehkanku, aku tidak akan pernah peduli lagi pada nasib kota kecil ini,” gertak Lamia murka.


Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Kofv yang masih mendelik marah kepadanya. Ia berjalan dengan cepat membelah ruangan, lalu membanting pintu kerja Kofv tanpa ampun, seolah pintu itu ikut bersalah bersama tuannya.


Napas Lamia memburu karena amarahnya yang tak terbendung. Ia berharap setidaknya Kofv mendengar sedikit saja tentang rencananya. Meskipun ia sadar bahwa itu bukan rencana yang sempurna, tapi seharusnya mereka bisa mendiskusikannya bersama.


Kota terpencil di sudut Mars ini mungkin memang merupakan tempat tinggal Kofv sejak dulu. Tapi orang-orang Cydonia ini lambat laun justru terlena dengan kondisi mereka dan melupakan jati diri mereka.


Padahal pendahulu mereka di generasi sebelumnya sudah berjuang mengorbankan nyawa untuk menghancurkan kerajaan. Kini anak cucunya malah bersembunyi di balik kekuatan Tartarus Monthes seperti kawanan hewan pengerat yang pengecut.


Bagaimana mungkin Lamia menahan kesabarannya lebih dari ini. Ini bukan salah temperamennya. Lamia sudah menahan diri sebaik yang dia mampu. Tapi tanpa disangka Kofv ternyata adalah orang yang berhati sempit. Bagi Lamia, Kofv sudah sangat tumpul memandang kehidupan para pejuang Cydonia. Dia hanya berjuang untuk hidupnya sendiri!


Di tengah kemarahan itu, sekonyong-konyong dari balik tikungan koridor, Lamia melihat jubah putih yang amat dikenalnya. Lao Fen berdiri seolah menunggu kedatangan Lamia.


“Aku tidak punya selera untuk bicara pada siapapun, Lao Fen,” kata Lamia ketus. Ia yakin Lao Fen sudah tahu segala hal yang barusan terjadi di ruang kerja Kofv.


“Aku tidak akan bicara apa-apa. Aku hanya akan menemanimu berjalan,” ucap Lao Fen kemudian menjajari Lamia.


Lamia mendesah kesal. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Sia-sia menyuruh Lao Fen pergi. Orang ini sama keras kepalanya dengan Mick, tentu saja degan cara yang berbeda. 


...***...