
“Setelah kupertimbangkan, memang selama ini kita tidak pernah melakukan apapun selain bersembunyi. Kita akan melakukan apa yang kau usulkan, tapi harus dengan perencanaan yang matang,” kata Kovf melanjutkan keputusannya. “Karena itu mari kita bicarakan rencana Lamia dengan lebih jelas.”
Lamia tersenyum lega mendengarnya, lalu mulai menjelaskan.
“Sebelumnya, kita harus mulai memperluas wilayah kita. Kita bisa mulai dengan menyerang dan bernegosiasi beberapa distrik di sekitar sini. Selama pengalamanku bekerja di istana, aku cukup yakin bahwa beberapa distrik di sekitar Cydonia ini tidak diawasi dengan ketat. Kita bisa menguasai mereka sebelum pemerintah menyadari serangan-serangan kecil kita,” jelas Lamia.
“Kita juga diuntungkan oleh adanya wabah gaian yang tengah menyerang. Pemerintah benar-benar dibuat sibuk untuk mengurusnya ke seluruh pelosok Martian. Karena itu mungkin untuk beberapa saat pergerakan kita akan sedikit tersamar,” lanjut Kovf menjelaskan.
“Tapi bukankah itu akan memakan waktu yang lama?” tanya Misty.
“Memang akan sedikit lama, tapi kita akan membagi pasukan dalam beberapa tim untuk menyerang. Dan kita hanya akan fokus pada lokasi-lokasi vital saja,” jawab Lamia menerangkan.
“Maksudmu?” tanya Kovf.
“Distrik Utopia Planatia, Bendungan Besar Syrtis Major Planum, area tambang Lembah Borealis, dan kota akademi Isidis Planatia, semua itu ada di timur. Kita hanya akan mengambil alih tempat-tempat itu dan Martian akan lumpuh,” terang Lamia.
“Semua itu daerah penyuplai bahan baku utama di Martian. Jenius! Kalau kita mengambil alih tempat-tempat itu mereka tidak akan punya makanan, air, bahan bakar dan energi, bahkan kehilangan obat-obatan dan paramedis di Isidis Planatia! Astaga gadis ini benar-benar punya ide cemerlang!” seru Ament kagum.
“Fu Di Chou Xin. Singkirkan bahan bakar untuk membuat periuk berhenti mendidih. Strategi yang bagus,” komentar Lao Fen tersenyum.
“Sementara beberapa orang mempersiapkan pembuatan senjata dengan energi utama di Cydonia, kita harus segera menguasai tempat-tempat itu. Begitu pemerintah menyadarinya, kita sudah akan siap dengan kekuatan dan persenjataan kita,” lanjut Lamia menjelaskan.
“Kalau begitu kita harus memindahkan penduduk kota ini terlebih dahulu ke tempat yang aman. Membuka energi utama di Cydonia sangat berbahaya bagi mereka. Kita harus mencari tempat pengungsian,” kata Kovf.
“Karena itu kita harus pergi ke Utopia Planatia. Itu termpat terdekat yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Lagi pula kalian juga kuat di sihir dengan elemen alam. Kurasa tempat itu cukup cocok,” kata Mick angkat bicara.
“Tapi ada orang-orang kerajaan di sana. Bukankah para ilmuan tinggal di sana?” tanya Misty.
“Kalau untuk hal itu, biar aku dan Salem yang mengurusnya," usul Mick.
“Kalau begitu setelah ini kalian berdua pergilah menemui mereka bersama beberapa pasukan...” Kovf langsung memberi perintah
“Tidak perlu. Kami berdua saja sudah cukup,” potong Mick.
“Baiklah kalau begitu. Selanjutnya bila kita memang bisa menggunakan Utopia Planatia, aku ingin Daniel mempersiapkan mantra-mantra pelindung untuk menyembunyikan keberadaan kita agar tak mudah ditemukan. Lao Fen kau juga pergilah bersama Daniel untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan terjadi,” perintah Kovf.
“Baiklah, Kovf. Percayakan hal itu pada kami,” sahut Lao Fen. Daniel hanya mengangguk setuju.
“Lalu Shira kau persiapkan tim paramedis untuk melakukan pertolongan pada orang-orang yang nantinya mungkin akan terluka. Tolong persiapkan juga obat-obatan dan bahan makanan yang kita butuhkan dalam pengungsian,” pinta Kovf pada adiknya.
“Siap laksanakan!” seru Shira sembari memberi hormat.
“Itu hal mudah,” komentar Ament sambil mengacungkan jempolnya.
“Terakhir aku ingin meminta bantuan Lamia untuk melatih pasukan kami. Misty akan membantumu mengumpulkan para pasukan Cydonia. Kami benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk bertempur di tempat asing. Aku yakin pengalaman dan kemampuanmu akan sangat berguna.” kata Kovf.
Lamia hanya tersenyum simpul.
“Jangan memintaku seakan aku ini orang asing. Aku adalah bagian dari kalian. Sudah kewajibanku untuk melakukannya. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan Cydonia melawan orang-orang busuk itu,” kata Lamia tegas.
Sekali lagi kedua mata merahnya tampak berkilat-kilat penuh ancaman. Semangatnya memuncak hingga rasanya sudah tak sabar lagi untuk segera memulai pertarungan. Lamia sudah sangat merindukan medan pertempuran. Orthus dan Cerberusnya pun telah menunggu untuk digunakan lagi.
...***...
Sudah hampir dua minggu ketika Mick dan Salem yang pergi ke Utopia Planatia akhirnya kembali ke Cydonia dengan membawa kabar gembira. Rakyat Cydonia bisa segera pergi ke Utopia Planatia dengan aman. Saat Lamia bertanya apa yang dilakukan Mick, pemuda itu hanya tersenyum degil dan tak mau menjawab.
Sementara itu, Daniel pun sudah siap dengan mantra-mantra pelindung untuk menyembunyikan para pengungsi di Utopia Planatia. Bahkan Lao Fen mengatakan bahwa tidak ada masalah yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, setelah semua persiapan sudah selesai, Kovf mengumumkan kepada rakyat Cydonia untuk segera berangkat ke Utopia Planatia.
Desas-desus kepindahan mereka memang sudah menyebar sejak beberapa hari yang lalu. Kovf sudah memanggil beberapa ketua kelompok warga di Cydonia dan memberitahukan tentang rencananya. Meski awalnya menolak, namun dengan perundingan alot, rakyat pun menyetujui rencana itu. Maka kurang lebih seribu orang warga Cydonia berangkat ke Utopia Planatia. Kovf, Ament, Lao Fen dan beberapa penyihir kuat Cydonia tetap tinggal untuk memulai pekerjaan mereka mencari sumber energi.
Setelah Lamia membuka jalan dan memusnahkan hampir semua gaian yang berkeliaran di sepanjang jalan menuju Utopia Planatia, rombongan pengungsi pun bisa lewat dengan aman.
Perjalanan ke Utopia Planatia ternyata sangat melelahkan, mengingat orang-orang Cydonia tidak memiliki kendaraan apapun yang bisa digunakan untuk bepergian jauh. Beberapa orang menunggangi kuda namun lebih banyak yang berjalan kaki. Lamia membuang jauh-jauh keinginan kuatnya untuk menggunakan Flashwing. Ia merasa tidak baik berkendara sendiri sementara orang-orang yang harus ia lindungi begitu bersusah payah.
Perjalanan memakan waktu sepuluh hari. Samuel tak henti-hentinya memperbaharui mantra pelindung setiap setengah hari sekali. Meski begitu ia tidak tampak kelelahan ataupun kehabisan tenaga. Lamia mulai berpikir bahwa sebenarnya orang-orang Cydonia ini cukup kuat, mengingat mereka sangat sedikit menggunakan bantuan alat dan semua hal mereka lakukan secara manual.
Pada hari ketiga rombongan itu telah mencapai bibir Utopia Planatia. Pada hari kesepuluh mereka telah sampai di pusat Utopia Planatia, jauh di dalam hutan, tempat para peneliti itu tinggal. Akan tetapi, tempat itu ternyata sudah porak poranda ketika mereka sampai. Bangunan-bangunan oval dengan satu pilar tinggi – seperti kebanyakan bangunan di Martian – hancur dan masih sedikit berasap.
Bahkan laboratorium yang merupakan bangunan terbesar di tempat itupun tak luput dari kerusakan. Dua dari empat pilar baja yang menyangganya telah tumbang mengakibatkan bagian oval di atasnya remuk redam menghantam tanah. Tak ada tanda-tanda kehidupan di tempat itu dan tampaknya sudah ditinggalkan oleh para penghuninya.
“Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan pada tempat ini?” tanya Lamia pada Mick ketika rombongan itu mulai membangun tempat itu dengan sihir mereka – “menakjubkan!” pikir Lamia –.
“Yah... pada dasarnya ilmu alkemis itu memiliki banyak turunan. Aku hanya mempelajari salah satu yang cukup berbahaya,” jawab Mick sembari mengangkat bahu.
“Kota sebesar ini, hancur hanya dalam waktu dua minggu dan hanya oleh dua orang? Kadang aku merasa benar-benar tak mengenalmu, Mick,” kata Lamia dengan tatapan tak percaya.
“Yah, beruntunglah dirimu karena aku ada di pihakmu,” jawab Mick ceria sembari mengusap rambut Lamia.
...***...