
“Syukurlah kau selamat,” kata Mick masih memeluk erat gadis itu.
“Aku juga bersyukur kau selamat, Mick,” kata Lamia mulai melepaskan pelukan.
“Aku tidak berhasil menyelamatkan Stheno,” kata Mick menyerahkan twingun Lamia.
“Tak apa. ini cukup untukku,” kata Lamia.
“Melight, aku sungguh berterimakasih kau datang kemari,” kata Mick.
“Aku hanya mencoba membayar hutangku padamu. Kuanggap sudah lunas,” kata Melight tersenyum simpul.
“Tentu saja. Terimakasih, Melihght,” sahut Lamia sambil mengangguk-angguk.
“Sepertinya kita unggul. Mereka hanya buang waktu mengalahkan kita di sini,” lanjut Melight melihat pasukan penyihir airnya melakukan gerakan indah untuk mengendalikan air sungai agar dapat menyerang pasukan Scarab.
“Kau benar. Sebentar lagi kita akan menang,” kata Mick.
“Jangan tenang dulu. Kita belum menemukan pengkhianatnya,” kata Lamia memandang tajam pada Melight.
“Gadis ini selalu waspada rupanya. Tenang saja, pengkhianatnya bukan dari orang-orangku. Bila kami memang mengkhianati kalian untuk apa kami kemari dan membantu,” kata Melight serius. “Aku tidak pernah mengkhianati kata-kataku sendiri,” tambah Melight.
“Akan kupegang kata-katamu itu,” sahut Lamia.
Keadaan genting berangsur reda. Pasukan Cydonia dibantu oleh pandai besi Lembah Borealis dan penyihir air dari Syrtis Major Planum berhasil mengalahkan pasukan pemerintah yang menyerang mereka. Detik-detik kemenangan sudah di depan mata ketika dengan tiba-tiba, di salah sartu sudut kota muncul cahaya menyilaukan diikuti gemuruh angin ribut yang sangat dahsyat.
“Apa yang terjadi?! Apakah ini juga salah satu senjata kejutan dari Tuan Kokabura?!” teriak Lamia berusaha mengalahkan deru angin ribut.
“Aku takut ini bukan dari pihak kita Lamia. Bila orang itu sampai melakukan hal ini, artinya dia benar-benar ingin membinasakan semua orang yang ada di sini,” kata Mick.
“Apa maksudmu?” tanya Lamia lagi.
Tapi Mick tak menjawab. Ia hanya menatap tempat cahaya silau tadi muncul. Tapi kini cahaya itu sudah tidak ada, deru angin pun telah mereda. Sebagai gantinya, seekor ular raksasa berkepala lima menggeliat-geliat liar dari dalam sungai. Ular itu benar-benar tinggi. Ujung kepalanya bahkan menjulang jauh di atas tempat mereka berdiri. Dari masing-masing kepala ular itu, keluar berbagai zat berbahaya.
Ada yang mengeluarkan liur yang dapat membakar apapun yang disentuhnya. Kepala yang lain mengeluarkan api, dan yang lain lagi menghembuskan zat beracun ke udara yang dapat langsung membunuh siapapun yang menghirupnya. Dua kepala yang berada di sisi paling luar memiliki gigi yang sangat tajam dan selalu menyambar-nyambar ke segala arah.
“Makhluk apa itu?” tanya Melight waspada.
“Itu Hydra,” jawab Mick datar.
“Kenapa ada Hydra di tempat ini?” tanya Lamia tak sabar.
“Karena ada yang memanggilnya,” jawab Mick lagi.
“Memanggil…” tanya Lamia dan Melight hampir bersamaan.
Mick mengangguk pelan.
“Hommunculus,” sekali lagi Mick berkata tanpa ekspresi. “Dan satu-satunya orang yang kutahu dapat memanggil Hydra dengan mantra Hommunculus hanyalah orang itu,” ekspresi Mick berubah muram.
“Siapa, Mick? Kau mengenalnya?” tanya Lamia sangat tak sabar.
“Salem,” jawab Mick yang kini tampak begitu penuh penyesalan.
“Salem?! Kau… kau yakin?” tanya Lamia hampir tak percaya.
Mick mengangguk sedih.
“Bagaimana kau akan menghadapi makhluk sebesar ini?” tanya Lamia khawatir.
“Dengan Hommunculusku, Mia,” jawab Mick mendadak berubah serius.
“Tapi itu akan membahayakan banyak orang,” balas Mia.
“Itu satu-satunya jalan. Karena itu kau harus segera menemukan Salem agar dia bisa mengembalikan Hydra. Percayalah padaku, Mia,” kata Mick sungguh-sungguh.
“Baiklah, Mick,” kata Lamia akhirnya.
Mick kemudian memejamkan matanya. Lalu, sambil berlutut, kedua telapak tangannya menyentuh tanah sambil mengucapkan mantra kuno.
...Nuk Tem-Khepera kheper t’esef uart mut-f...
...Ertau unsu en name Nu, behennu en amiu t’at’at...
...Ask temt-na heka pen entef, kher se entef kher-f betenu er thesem, khak er sut...
...A anen makhen ent Ral...
Sebuah cahaya merah meliuk-liuk dibawah kaki Mick membentuk sebuah lingkaran sihir dengan huruf-huruf mesir kuno. Selama beberapa saat lingkaran sihir itu semakin lama semakin terang hingga menyilaukan mata. Lamia reflek menutup matanya sambil memalingkan wajah karena cahaya sihir yang dikeluarkan Mick.
Detik berikutnya datang angin ribut yang sangat kuat dan nyaris dapat mengangkat mereka dari atas tanah. Lamia kembali membuka mata dan di depannya kini berdiri sesosok makhluk tinggi besar bertubuh perempuan namun memiliki kepala singa betina. Ia menggunakan mahkota cakram matahari dengan symbol uraeus di tengahnya. Satu tangannya memegang Ankh, dan di tangan yang lain membawa tongkat papyrus.
“Cepat pergilah, Mia!” seru Mick masih berlutut mempertahankan lingkaran sihirnya yang menyala merah.
“Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana bila kau diserang?” Lamia mulai khawatir.
“Aku akan melindunginya. Pergilah,” kata Melight kemudian.
Lamia kemudian berlari meninggalkan Mick dan Melight menuju lokasi dimana Hydra pertama kali muncul di seberang jembatan. Ia segera menyambar Flashwing terdekat kemudian mengendarainya menuju seberang. Ia hampir mencapai jembatan ketika melihat Shira dan Daniel berlari menuju tempat yang sama dengan Lamia.
“Shira! Daniel!” panggil Lamia dari dalam Flashwing. “Ayo naik!” lanjutnya mengajak keduanya masuk ke dalam Flashwing. Tanpa banyak pertanyaan, Shira dan Daniel segera menuruti perintah Lamia.
“Shira, apa benar ini ulah Salem?!” sergah Lamia begitu Shira masuk ke dalam Flashwing.
Shira terdiam tak mampu berkata-kata. Hanya air mata yang menetes dalam diam di pipinya.
“Benar. Tampaknya Salem tak lagi berpihak pada kita,” kata Daniel menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Shira
Lamia mendengus geram. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Salah satunya adalah kenapa Salem berkhianat? Ketika Lamia tengah tenggelam dengan pikirannya, tiba-tiba ia menyadari sebuah kepala ular yang luar biasa besar jatuh berdebam tepat di depan Flashwingnya. Lamia segera melempar kemudi ke kanan untuk menghindar. Sangat terkejut, Lamia mendongak melihat apa yang terjadi. Ternyata salah satu kepala Hydra itu berhasil ditebas oleh Hommunculus Mick.
“Bahkan meski Mick sudah memanggil Sekhmeth, Hydra tidak akan mudah dihadapi,” kata Daniel yang juga mendongak melihat apa yang terjadi di atas mereka.
“Sekhmeth?” tanya Lamia mulai menjalankan Flashwingnya lagi menghindari kepala ular itu.
“Perempuan berkepala singa yang dipanggil Mick itu Sekhmeth. Sia-sia saja dia memotong kepala Hydra. Sebentar lagi kepala itu akan tumbuh dan bahkan menjadi dua,” lanjut Daniel.
“Menjadi dua?” Lamia kembali bertanya, dan kali ini sambil mendongak melirik Hydra yang ada di sisi kiri jembatan. Dan benar saja, di tempat dimana tadi ada satu kepala yang tertebas, kini tumbuh dua kepala dan membuat makhluk itu kini memiliki enam kepala mengerikan.
“Itu, cukup mengerikan. Kita harus segera menemukan Salem,” kata Lamia menyimpulkan.
Akhirnya mereka pun mencapai ujung jembatan. Di sana mereka pertama kali bertemu dengan Lao Fen yang tengah dikepung oleh pasukan Martian bersenjata. Lamia segera menghentikan kendaraannya dan berniat membantu. Tapi sebelum Lamia membuka pintu untuk keluar dari Flashwing, Lao Fen telah berhasil melumpuhkan setengah lusin orang yang menyerangnya secara bersamaan. Lao Fen, dengan kedua matanya yang tertutup, seakan dapat membaca gerakan lawannya dan membalikkan serangan mereka sehingga membuat pasukan Martian itu terhempas menjauh.