
Lamia kembali ke kastel ketika hari sudah menjelang sore. Setelah Lao Fen pergi meninggalkannya, Lamia berjalan-jalan sendiri menyusuri Elysium Mons. Perasaannya sudah cukup ringan saat Lamia memutuskan kembali ke kastel.
“Mia, darimana saja kau? Aku mencarimu seharian,” suara khawatir Mick menyambut Lamia ketika gadis itu melewati salah satu koridor kastel, menuju ke ruangannya di sayap utara.
“Kupikir kau sibuk, Mick. Jadi aku jalan-jalan sendiri,” jawab Lamia.
Mick mendesah lega melihat Lamia baik-baik saja. Ia kemudian berjalan di samping Lamia, keduanya beriringan menyusuri lorong.
“Aku sudah dengar tentang pembicaraanmu dengan Kofv pagi tadi,” kata Mick masih dengan nada cemas.
Lamia menarik napas panjang. “Aku memang merasa buruk soal itu. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan bila Kofv menentang usulku.”
Mick tiba-tiba merangkul Lamia lantas menyeret gadis itu belok ke lorong lain. “Ayo kita makan saja. Perut kenyang melunakkan hati yang keras,” ujar Mick sembari meringis.
Lamia mendengus pelan, tapi tidak memprotes. Ia memilih mengikuti kemanapun Mick membawanya.
Tak lama kemudian mereka berdua sampai di ruang makan dengan meja bulat, tempat Lamia makan malam di hari pertamanya datang ke Cydonia. Mick menjentikkan jarinya dan tak berapa lama kemudian Becca muncul, membawa satu troli makanan aneka rupa.
Selama tinggal di sana, Lamia jarang makan. Ia sudah terbiasa mengonsumsi kapsul energi sehingga makanan berat semacam itu tidak bisa dicerna dengan baik oleh lambungnya. Ia hanya makan sesekali jika benar-benar berselera.
“Kofv masih marah sampai siang tadi aku menemuinya,” ujar Mick di tengah usahanya mengunyah sepotong daging domba.
“Aku tidak menyalahkannya. Lao Fen mengajakku bicara pagi tadi, setelah aku bertemu dengan Kofv. Dia bilang sifat kami mirip. Dan setelah dia bilang begitu, aku jadi lebih mengerti posisi Kofv.”
Mick tergelak. “Lao Fen selalu punya sudut pandang yang menarik,” komentarnya.
Lamia mengangguk setuju. “Memang. Tapi apa yang dia katakan ada benarnya.”
“Kuharap kau bisa menemui Kofv sekali lagi untuk meyakinkannya. Serangan gaian di Martian semakin parah setiap harinya, Mia. Kita tidak bisa terus diam,” kata Mick memberi tahu.
“Darimana kau tahu tentang serangan gaian di luar Cydonia?” sergah Lamia mengerutkan kening.
“Aku punya eh… semacam informan,” jawab Mick mengangkat bahu.
“Haa… kau suka sekali bermain rahasia denganku, Mick. Apa semua orang jenius harus selalu punya kesan misterius seperti itu?” komentar Lamia.
Mick tertawa menanggapi. “Bukan begitu. Hanya saja memang ada beberapa hal yang tidak bisa kuberi tahu sekarang. Aku terikat prinsip kerahasiaan karena ini terkait dengan kontrak profesiku,” jawabnya ringan.
Lamia mengangguk-angguk paham. Memang dunia alkimia selalu punya tabir selubung yang tidak bisa dilanggar para praktisinya. Ada semacam kontrak dengan semesta atau entitas lain yang mengharuskan seorang Alkemis untuk menjaga rahasia.
Mick menatapnya dengan peduli. Mereka sama-sama tahu kalau hal itu sama sekali tidak bisa memperbaiki keadaan. Infeksi gaian bisa meluas dengan cepat, dan mereka sama sekali tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya, karena mereka berdua adalah buronan paling dicari di Martian.
“Aku juga akan membantumu,” kata Mick menawarkan.
Lamia tersenyum simpul. “Tidak perlu. Gaian di perbatasan itu mungkin hanya beberapa. Wilayah ini terlalu jauh dari kota manapun di Martian. Kau bisa melanjutkan penelitianmu dengan Salem. Siapa tahu kalian bisa menemukan solusi lain untuk masalah ini,” tolak Lamia.
“Kami masih berusaha, Mia,” jawab Mick pendek.
“Menurut informanmu di luar sana, apa yang kerajaan lakukan untuk mengatasi para gaian ini?” tanya Lamia penasaran.
Mick mendengus jengkel menanggapi pertanyaan itu. “Tidak ada. Kerajaan hanya terus-terusan membual tentang keberadaanmu yang berbahaya, Mia,” jawab Mick kesal.
Perasaan kesal Mick menular ke Lamia. Gadis itu lalu menggeretakkan gigi menahan amarah. Akan seberapa banyak lagi korban berjatuhan jika kerajaan tidak melakukan upaya penanggulangan apapun.
“Tapi gaian-gaian ini memang tidak menyerang secara brutal, Mia. Mereka hanya muncul di beberapa tempat. Dan kasus kemunculan gaian itupun dapat langsung teratasi oleh Pasukan Martian. Karena itu tidak ada laporan penularan yang merebak besar-besaran,” terang Mick.
“Meski begitu, kenyataan akan adanya gaian saja sudah dapat menjadi teror untuk masyarakat, Mick. Mereka seolah sengaja menebar ketakutan di publik. Aku semakin curiga kalau memang Balder-lah yang mengontrol gaian-gaian itu. Dia benar-benar mengincarku. Sebenarnya apa yang dia inginkan?” ujar Lamia geram.
“Cepat atau lambat kita harus bergerak, Mia. Kurasa Kofv juga tidak bisa terus menutup mata akan hal ini. Cydonia bisa menjadi kunci penting keselamatan Martian.”
Lamia kembali menghela napas panjang. Ia menatap sup jagungnya yang tinggal separuh, sambil memikirkan cara membujuk Kofv. Ia sudah punya rencana matang yang disusunnya selama ia mendekam di perpustakaan berhari-hari. Setidaknya Lamia berharap Kofv bersedia mendengar rencana itu.
“Aku akan mencari cara membujuk Kofv, Mick. Sepertinya agak sulit melakukannya dalam waktu dekat. Aku akan membantu Misty dulu sambil memikirkannya,” kata Lamia kemudian.
Mick mengangguk dengan senyum lembut menggantung di wajahnya. “Aku juga akan membujuk Kofv pelan-pelan.”
Mereka berdua akhirnya kembali ke kamar Lamia di sayap utara. Mick jarang tidur di kamar karena sebagian besar waktunya dihabiskan di Laboratorium Salem. Karena itu Mick tidak punya kamar khusus untuknya. Pada akhirnya malam itu Mick memutuskan untuk tidur di kamar Lamia, mengingat gadis itu sebenarnya tidak butuh tempat tidur – Lamia sudah menerima keadaan tubuhnya yang tidak memiliki rasa kantuk –.
Kamar Lamia berdinding batu dengan dua jendela besar menghadap ke taman luar. Karena berada di lantai dua, maka kamar itu memiliki balkon kecil dengan dua kursi kayu dan meja bulat di sisi luar jendela. Lamia lebih sering menghabiskan waktunya untuk duduk di balkon itu setiap malam daripada berbaring di tempat tidur. Ia sekedar membaca buku atau melakukan perawatan rutin untuk senjatanya sambil menunggu pagi.
Di dalam ruangan kamar, sebuah tempat tidur besar berkelambu ungu gelap terpasang di salah satu sisi dinding batu. Perabot lain berupa lemari ukir kayu berisi pakaian-pakaian sederhana penduduk Cydonia – kebanyakan terbuat dari kulit hewan dan serat tanaman lembut –. Terdapat satu meja rias dengan kaca oval besar di sisi lain dinding. Di depan tempat tidur, satu set sofa berwarna ungu melengkapi interior khas abad pertengahan.
Secara keseluruhan, kamar itu memang cukup luas, meski tidak seluas dan semodern kamar Lamia di pangkalan. Tapi ia tak keberatan. Lagipula Lamia sudah lama tidak bisa tidur. Jadi mau senyaman apapun tempat tidur itu, tubuhnya tetap menolak terlelap.
...*** ...