
Mendadak Lamia melihat bola cahaya berwarna biru terang melesat ke arah mereka.
“Menyingkir Mick!” seru Lamia memperingatkan.
Mick, yang juga menyadari serangan itu segera membelokkan Scarabnya menjauh dari radius serangan. Tapi hal itu sangat sulit karena bola cahaya itu begitu besarnya dan membuat roda belakang Scarab mereka – termasuk kaki kanan Lamia – hangus karena terserempet serangan tersebut. Scarab mereka pun menukik tajam.
Ternyata kekuatan sihir yang menyerang mereka terlalu kuat sehingga batu Ephestus pun tak dapat menangkisnya. Pasti bukan orang sembarangan yang melakukannya. Benar saja, begitu Scarab yang ditunggangi Lamia dan Mick hampir mencapai permukaan, keduanya segera melompat turun, dan Aeron sudah berdiri di depan mereka. Lamia menyadari ia telah memasuki Terra Sabaea, dan Istana Martian terlihat di kejauhan.
Sedikit lagi, pikir Lamia.
“Aku tak pernah membayangkan sebelumnya, senjatamu akan mengarah padaku, Aeron,” kata Lamia menghadapi Aeron.
“Maafkan aku, Lamia,” kata Aeron.
“Berhentilah berpura-pura merasa bersalah, Aeron. Aku yakin hatimu sudah lama mati. Satu-satunya yang dapat menggerakkanmu hanyalah Bella. Jadi tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kau sesali,” ucap Lamia gamblang.
Aeron tak menjawab dan hanya menatap Lamia dengan dingin. Meski begitu Aeron tak menyangka kalau akhirnya Lamia berani berkata seperti itu dan melawannya.
“Aku tak menyalahkanmu bila kau berpikir begitu,” kata Aeron datar.
“Memang kau tidak bisa menyalahkanku karena apa yang kukatakan itu benar,” balas Lamia. “Aku merasa sangat bodoh karena selama ini menurutimu, Aeron. Sejujurnya aku yang dulu sama saja dengan dirimu yang sekarang. Bergerak atas perintah orang lain. Untuk kasusku, aku selalu menurutimu, dan aku berakhir di sini. Terima kasih sudah membuatku menjadi setengah gaian,” ujar Lamia.
“Untuk hal itu aku benar-benar menyesal,” ucap Aeron yang kini tampak sungguh-sungguh.
“Tak masalah. Justru karena itu aku belajar dan mengetahui banyak hal. Dan karena itulah aku juga tidak lagi menjadi orang sepertimu, yang memilih menutup mata dari kebenaran yang ada persis di hadapanmu,” sergah Lamia.
“Mia, terlepas dari banyaknya kesalahanku padamu, juga dari kondisi kita saat ini, aku benar-benar menghargaimu sebagai sahabatku. Kau, aku, Bella, Mick, kita berempat tidak pernah saling menjatuhkan. Kita semua selalu saling membantu. Itu esensi persahabatan kita. Dan karena itulah aku sendiri memutuskan untuk menerima misi ini.
“Karena aku ingin memastikan kalian selamat. Aku yakin akan kemampuanmu, Mia. Dan aku juga tahu strategimu untuk memancingku kemari. Kau pikir aku bodoh dengan meninggalkan pengawasanku di Lembah Borealis dan membawa semua prajuritku menuju kemari? Aku tahu kau mengirim pasukan lain dari sana. Aku tahu persis cara kerjamu,” kata Aeron panjang lebar. “Jauh di dalam lubuk hatiku, aku ingin kau berhasil, Mia,” desah Aeron pelan.
Pemuda itu kini benar-benar tampak muram. Ia menatap Lamia dengan mata birunya yang hangat. Lamia kembali menemukan pemuda yang sangat dikaguminya. Aeron selalu melindungi semua temannya dengan cara yang misterius. Di balik sikap dinginnya, Aeron benar-benar orang yang sangat menyayangi sahabat-sahabatnya.
Tak terasa air mata mulai menetes di pipi Lamia. Ingin rasanya ia memeluk Aeron dan melupakan segalanya. Tapi Lamia menahan diri.
Kau, aku, Bella, Mick, kita berempat tidak pernah saling menjatuhkan. Kita semua selalu saling membantu. Itu esensi persahabatan kita.
Kata-kata Aeron menggema di kepala Lamia. Saling membantu. Saling melindungi. Itulah esensi persahabatannya dengan Mick, Aeron dan Cassabella. Meski cara mereka masing-masing berbeda, tapi mereka selalu saling membantu. Dengan tatapan yang penuh makna, Lamia balas menatap Aeron dan menunjukkan bahwa ia menangkap pesan yang disampaikan Aeron secara tersirat. Gadis itu kemudian tersenyum lemah dan mengangguk.
“Selalu,” jawab Aeron tersenyum. “Mick, tolong jaga Lamia,” lanjut Aeron menoleh pada Mick.
“Kau tidak perlu memintanya,” jawab Mick yang juga tersenyum. “Dan jangan khawatir soal Bella,” lanjut Mick yang juga menangkap pesan Aeron.
Akhirnya Aeron membuka jalan bagi mereka dan membiarkan Lamia serta Mick berlari menjauh darinya menuju Istana Martian. Tak ada kesulitan berarti yang menghadang perjalanan mereka. Seperti yang sudah diketahui semua orang pasukan Istana Martian benar-benar payah dalam pertarungan.
Mereka tidak dilatih secara serius karena kerajaan lebih menitikberatkan pelatihan bagi pasukan antariksa, mengingat selama ini musuh tunggal mereka adalah para gaian. Tidak ada yang menyangka akan terjadi perang saudara semacam ini sehingga pasukan Lamia bisa dengan mudah menduduki kota itu.
...***...
Terra Sabaea nyaris berada di genggaman pasukan Cydonia. Hanya tinggal menaklukan istana Martian beserta para tetua kerajaan, dan mereka akan berhasil. Kemenangan benar-benar sudah berada di depan mata. Tapi meski begitu, Lamia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan. Ia tengah menaiki lift transparan di salah satu pilar yang menopang istana kerajaan ketika ia menyadari kesalahan yang ia lewatkan.
Para gaian!
Dari balik lift transparan itu, Lamia melihat gelombang besar makhluk kanibal menjijikkan menyergap dari segala arah. Kepanikan menyerang Lamia dan membuat gadis itu hampir memutuskan untuk kembali.
“Mia, tak ada waktu! Kita harus segera mengalahkan Balder sebelum mereka melarikan diri,” seru Mick menahan keputusan Lamia.
“Tapi bila kita tidak turun kesana, kita mungkin tidak akan menemui manusia hidup lagi begitu keluar dari istana ini,” kata Lamia khawatir.
“Percayalah pada teman-teman kita. Ada Kovf di bawah sana. Juga ada Misty dan Lao Fen serta Daniel. Mereka pasti bisa mengalahkan para gaian itu. Belum lagi Aeron yang aku yakin bisa dengan mudah menghadapi situasi semacam itu,” kata Mick.
Lamia memaksa dirinya untuk mempercayai kata-kata Mick. Untuk terakhir kalinya gadis itu menatap keluar melalui lift transparan sampai akhirnya tak tampak lagi. Keduanya telah memasuki Istana. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Lamia dan Mick segera bersiaga dengan senjata mereka. Tapi ruangan di depan mereka sepenuhnya kosong.
Maka dengan mengendap-endap, Lamia dan Mick berjalan menyusuri ruangan itu dan melewati lorong demi lorongnya. Tak ada tanda-tanda adanya musuh di dalam istana itu dan Lamia nyaris memutuskan bahwa Balder mungkin sudah diamankan di tempat lain. Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara yang samar-samar menggema di salah satu ruangan.
“Mick, kau dengar itu?” tanya Lamia menajamkan pendengarannya.
Mick mengangguk waspada. Kedua tangannya telah siap dengan belati kecil yang sangat tajam.
“Sepertinya suara itu berasal dari ruang penobatan,” kata Mick menerka-nerka.
“Ayo,” ajak Lamia kemudian.
Ruang penobatan berada di tengah istana itu. Ruangan itu merupakan ruangan sakral yang biasanya digunakan untuk mengangkat Raja atau Ratu Martian. Keduanya segera melesat menuju ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berada itu.